Tommy Soeharto dan Polesan Baru Bisnis Retail GORO

Tommy Soeharto. ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/ama/16
Oleh: Dea Chadiza Syafina - 24 Oktober 2018
Dibaca Normal 4 menit
Retail GORO yang belum lama diresmikan menggunakan istilah "Berkarya" untuk nama PT yang selama ini menjadi nama partai bentukan Tommy Soeharto.
tirto.id - Deretan karangan bunga bertuliskan ucapan selamat masih berjejer rapi menghiasi pelataran pintu masuk gerai GORO pada awal pekan. Gerai GORO belum lama ini diresmikan pada Rabu (17/10), berada di kawasan seluas 1,6 hektar Cibubur, Jakarta Timur, tepatnya Jalan Alternatif Cibubur, Nagrak, Bogor, Jawa Barat.

Tak mudah menemukan lokasi pusat perkulakan GORO yang sempat mengalami masa jaya saat Orde Baru dan identik dengan bisnis Keluarga Cendana ini. Warga maupun sopir angkutan kota 121 jurusan Kampung Rambutan–Cibubur–Cileungsi lebih mengenal lokasi itu sebagai pusat grosir SaveMax.

Feni, 43 tahun, salah satu pengunjung menceritakan sejak lama rutin berbelanja saat masih bernama SaveMax. Baginya, harga barang-barang GORO sama-sama bersaing saat masih bernama SaveMax. Namun, untuk kelengkapan barang masih jadi catatannya.

“Saya mencari santan siap pakai dan juga plastik kiloan, tidak ada. Mungkin juga karena masih baru, jadi belum begitu lengkap,” kata warga Jati Asih ini kepada Tirto.


Penyegaran Nama dan Jejaring GORO

Sebuah seremoni meriah dengan tarian tradisional dilangsungkan di lokasi gerai GORO, Cibubur, Rabu (17/10). Nampak hadir Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto. Tommy, didampingi kedua saudara perempuannya Mimiek, dan Titiek Soeharto. Tommy yang berbatik hijau dan kuning sempat berkeliling gerai retail GORO usai peresmian. Ia punya target retail GORO bisa hadir di tingkat kabupaten seluruh Indonesia.

“Ekspansinya tentunya ke depannya untuk yang toko UKM tahap pertama ini setiap kabupaten kota satu toko. Kalau toko GORO satu kabupaten kota satu aja, di Indonesia ada 514 kabupaten kota, ya akan ada 500 kabupaten kota yang akan terbangun,” ujar Tommy, selaku komisaris utama entitas perusahaan GORO, dikutip dari Kompas.

Milasari Kusumo Anggraini, Direktur Utama PT Berkarya Makmur Sejahtera yang menaungi bisnis retail GORO menjelaskan pihaknya tidak meluncurkan ulang bisnis GORO. Multi grosir yang saat ini beroperasi di Cibubur dan Bandung, sama sekali tidak ada hubungannya dengan GORO yang pernah berdiri pada 1995. Perbedaan ini setidaknya terlihat dari nama perusahaan. GORO terdahulu berada di bawah bendera PT Goro Batara Sakti, maka GORO yang saat ini beroperasi berada di bawah naungan PT Berkarya Makmur Sejahtera.

“Jika diperhatikan logo yang kami miliki juga berbeda dengan yang dulu. Logo sekarang adalah GR dan bukan bertuliskan GORO,” jelas Mila kepada Tirto.



GR berkonsep multi grosir yang beroperasi dan hadir dalam tiga bentuk lini bisnis. Pertama, model business-to-business atau b-to-b. GORO menjadi pergudangan yang menyuplai langsung kebutuhan bahan pangan untuk mitra seperti industri perhotelan, restoran dan catering. Kedua, GORO menjalin business-to-customer atau b-to-c, dengan akses langsung kepada konsumen dalam bentuk supermarket multigrosir dan retail. Ketiga, adalah bentuk offline dan online retail.

Untuk kategori b-to-c, ada dua hal yang dilakukan manajemen perusahaan. Pertama adalah dengan membuka gerai GORO Cityhub seperti yang diresmikan di Cibubur. Cityhub ini memenuhi kebutuhan barang dan bahan pokok konsumen yang ingin membeli secara eceran maupun grosiran. Selain di Cibubur, rencananya akan ada beberapa GORO Cityhub yang akan segera diresmikan yaitu di Jayapura Papua, Semarang, dan Magelang di Jawa Tengah.

Alasannya, kota-kota tersebut banyak terdapat petani binaan dan juga Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). “Pemilihan lokasi di Jayapura agar kehadiran kami di sana harga jual bisa lebih terstandardisasi. Sedangkan di Jawa Tengah karena dari sudut pertanian cukup banyak menghasilkan produk tani dan banyak UMKM yang telah kami bina sejak beberapa bulan yang lalu di sana,” kata Mila.

Pembinaan yang dilakukan berupa membangun citra merek, kemasan dan label, hingga distribusi produk. Tujuannya agar UMKM lebih berdaya saing. Pembinaan itulah yang disebut manajemen "Berkarya Makmur Sejahtera"

Harapannya para petani buah, petani sayur, nelayan dan UMKM dapat menjual produk dengan standardisasi harga yang layak. Sehingga, tidak perlu lagi menunggu tengkulak untuk membeli hasil panen.


Para UMKM yang menjadi mitra boleh menyandang nama GORO di depan nama tokonya. Ini seperti yang terjadi pada toko yang telah beroperasi lebih dari 20 tahun di Bandung. Toko bernama Dayung itu melakukan kemitraan berupa pembinaan manajemen dan SOP, sehingga namanya pun menjadi GORO Dayung. Hal yang sama berlaku bagi salah satu koperasi buruh di Gresik yang telah menjalin kemitraan dengan GORO.

“Kemitraan seperti ini yang akan kami kembangkan hingga mencapai 30 mitra atau 30 gerai sampai dengan akhir tahun. Ini merupakan seleksi ketat kami dari 300 tawaran kemitraan yang datang kepada GR. Gerai-gerai retail GR (GORO) inilah yang kedepannya akan terus dikembangkan perseroan,” kata Mila.

Di Jawa Timur, sudah ada sekitar 100 UMKM yang akan bergabung dengan jejaring retail GORO. Rencananya ada pembinaan dan pelatihan lanjutan bagi UMKM yang akan bergabung dengan GORO pada 1 November 2018. “Di Jawa Timur akan bergabung untuk menjadi toko GORO. Nanti akan ada pelatihan untuk merekrut beberapa toko lagi yang akan bisa dibangun dalam waktu segera,” kata Tommy, yang juga Ketua Umum Partai Berkarya.

Dari target 500-an gerai retail GORO, di setiap kabupaten/kota, masing-masing retail akan membina UMKM di sekitarnya. Pelaku UMKM yang menjadi mitra binaan GORO bisa memasarkan produk di toko GORO ritel seluruh Indonesia. Sistem binaan dan kemitraan ini diklaim menjadi keunggulan retail GORO dibanding retail grosir lainnya. Mila yakin GORO akan mampu bersaing dengan sejumlah usaha grosir lain yang sudah lebih dulu berkembang di Indonesia. Namun, kemunculan GORO bersamaan dengan sedang lesunya bisnis retail di Indonesia, tentu jadi momentum yang kurang pas untuk sebuah bisnis baru.

“Bisnis retail memang sedang turun, tapi permintaan konsumsi di Indonesia tetap tinggi karena menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Consumer goods masih menjadi salah satu demand yang cukup penting di masyarakat Indonesia dalam kondisi apapun,” ungkap Mila.

Selain itu, konsep bisnis yang diusung GORO saat ini yang tidak hanya secara offline tetapi juga online. Pada laman www.berkarya.id memuat laporan pemanfaatan inovasi belanja era digital pada bisnis GORO dengan sistem aplikasi belanja pada smartphone. Namun, konsep ini sudah dipakai oleh retail-retail lainnya seperti Alfamart dan lainnya.



Farid Fatahillah, konsultan dari lembaga riset Inventure Indonesia menilai tidak ada yang baru dari bisnis yang ditawarkan GR alias GORO meski telah bersalin manajemen. Retail-retail yang ada saat ini pun juga sudah merangkul UMKM dalam bisnis Retail.

Ia mencontohkan beberapa retail mencoba konsep baru dengan menyasar segmen tertentu. Lulu Hypermarket misalnya, swalayan yang berbasis di Uni Emirat Arab ini dan sudah beroperasi di Indonesia fokus menyasar pasar Muslim. Selain itu, keunikan Lulu Hypermarket adalah juga dengan mengusung halal supplay chain atau rantai pasok.

“Meski barang yang dijual sama, tetapi bahasa komunikasinya berbeda. Nah, ini yang tidak ditemukan di GR yang baru. Belum ada keunikan model bisnis yang ditawarkan oleh GR meski telah bertransformasi,” ucap Farid.

Farid menilai konsumen di Indonesia bisa jadi mudah lupa dengan catatan kelam GORO terdahulu yang sempat tersangkut kasus tukar guling lahan dengan Badan Urusan Logistik (BULOG) pada 1998-1999. Menurut Farid, konsumen Indonesia akan lebih mempertimbangkan masalah harga yang lebih murah ketimbang catatan buruk masa lalu sebuah merek.

“Menurut saya tidak akan terlalu signifikan pengaruh catatan masa lalu. Selain itu, tren konsumen sekarang tidak melihat brand tetapi rasional mana yang lebih murah,” imbuh Farid.



Kemunculan GR sekarang ini menurut Farid merupakan upaya memanfaatkan momentum di tahun politik. Nama besar Tommy Soeharto di balik beroperasinya GORO, berkaitan dengan partai politik yang baru diusung yaitu Partai Berkarya.

“Tommy mengeluarkan lagi senjata lama berupa bisnis retail. Jadi bisa saling mendompleng untuk mengangkat nama kata Farid.

Anggapan Farid bisa jadi benar, embel-embel "Berkarya" yang melekat pada bisnis GR atau GORO, sulit rasanya memisahkan dengan ambisi dan kepentingan Tommy Soeharto di dunia politik. Namun, pihak Direktur Utama PT Berkarya Makmur Sejahtera, Milasari Kusumo Anggraini menegaskan "Enggak ada hubungannya dengan partai maupun tahun politik...Ada atau tidak ada partai, tahun politik atau bukan, kami tetap akan launching GORO."

Baca juga artikel terkait RITEL atau tulisan menarik lainnya Dea Chadiza Syafina
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Dea Chadiza Syafina
Editor: Suhendra
DarkLight