Tolak UAS, UGM Akui Ingin Jaga Stabilitas Jelang Pelantikan Jokowi

Oleh: Zakki Amali - 11 Oktober 2019
Dibaca Normal 1 menit
UGM berdalih menjaga stabilitas internal kampus dan stabilitas nasional soal larangan acara Ustaz Abdul Somad, Sabtu besok.
tirto.id - Universitas Gadjah Mada (UGM) mengakui alasan pelarangan Ustaz Abdul Somad (UAS) terkait pelantikan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin pada 20 Oktober mendatang.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Kemahasiswaan, Djagal Waseso Marseno mengatakan, kampusnya ingin menjaga stabilitas jelang pelantikan Jokowi-Ma’ruf, sehingga kegiatan yang berpotensi kontroversial dilarang dahulu.

“Kami akan jaga stabilitas internal, stabilitas nasional, tidak hanya menjelang pelantikan [Jokowi]. Kapan pun sampai UGM selesai berdiri. Sampai kiamat kali ya. Kami dilahirkan untuk lima jati diri,” kata dia ditemui di kantornya, Jumat (11/10/2019).

Menurut dia, kegiatan UAS di UGM di waktu yang tak tepat.

“Kontennya akademis sekalipun, narasumbernya akdemis sekalipun, kalau timing-nya tak tepat nanti bisa dipolitisir,” ujarnya.


Ustaz Abdul Somad dijadwalkan jadi narasumber kajian profetik di Masjid Kampus UGM, Sabtu (12/10/2019) besok. Narasumber lain yakni Prof Indra Bastian. Keduanya akan bicara “Integrasi Islam dan ilmu Pengetahuan”.

Namun, UGM meminta kepada takmir untuk membatalkan. Salah satu alasannya terkait jelang pelantikan presiden. Takmir mensyaratkan, pembatalan harus disertai surat untuk pertanggungjawaban ke publik.

“UGM sudah kirim surat permintaan pembatalan ke UAS dan narsumber lain. Sekaligus ke Takmir Masjid UGM. Sebelum ada surat, kami juga sudah bicara kepada takmir terkait permintaat pembatalan,” ujarnya.

Ia membantah rektorat mengintervensi takmir masjid. Menurutnya, kegiatan di kampus yang terkait jati diri harus seizin rektor, karena menyangkut nama baik UGM.

Menurut dia, UGM telah diberi mandat negara dengan lima jati diri yakni sebagai Universitas Kerakyatan; Universitas Nasional; Universitas Kebangsaan; Universitas Pusat Kebudayaan; Dan Universitas Pancasila.

“Karena UGM sebagai universitas besar, tua, tadi ada lima jati diri. Ini harus diketahui publik,” imbuh dia.

Menurutnya, pelarangan ini tak ada kaitannya pelanggaran kebebasan akademik.


“Kalau mau, setelah 20 Oktober, kami fasilitasi. Silakan takmir undang UAS lagi. Kita buat suatu forum akademis, kajian yang lebih luas dan komprehensif, UGM welcome sekali,” katanya.

Dengan melarang UAS, kata dia, UGM tak bermaksud untuk mendiskriminasikannya.

“Jadi tidak ada kepentingan [pelarangan UAS]. Bahwa tidak suka Si A atau Ai B. UGM juga tidak anti agama tertentu. Itu enggak. Kami juga pernah undang eks napi teroris bicara di sini,” imbuh dia.

UGM, kata dia, meninginkan adanya harmoni dalam kegiatan kampus. Ia tak ingin ada konflik dan potensi untuk intoleransi dari acara di UGM.

Ketua Takmir Masjid Kampus UGM, Mashuri Maschab belum merespons konfirmasi terkait surat pembatalan.

Namun, dalam pernyataan Masjid Kampus UGM di media sosial resminya, takmir menyebut tak ada pembatalan acara UAS, Sabtu besok.


Baca juga artikel terkait PENOLAKAN USTAZ ABDUL SOMAD atau tulisan menarik lainnya Zakki Amali
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Zakki Amali
Penulis: Zakki Amali
Editor: Abdul Aziz
DarkLight