Menuju konten utama

Tokoh Melanesia: Lawan Propaganda Negatif dengan Media

Tokoh Melanesia sekaligus antropolog budaya dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Pater Gregor Neonbasu, menyatakan bahwa Indonesia harus memanfaatkan momentum kemajuan yang diperoleh dalam diplomasi di kawasan Pasifik Selatan, khususnya dalam melawan propaganda-propaganda negatif di Papua.

Tokoh Melanesia: Lawan Propaganda Negatif dengan Media
Dua orang Suku Dani menggendong anak babi bantuan dari BTN di kampung Araboda, Distrik Asologaima, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Selasa (18/8). ANTARA FOTO/Lucky R

tirto.id - Tokoh Melanesia sekaligus antropolog budaya dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Pater Gregor Neonbasu, menyatakan bahwa Indonesia harus memanfaatkan momentum kemajuan yang diperoleh dalam diplomasi di kawasan Pasifik Selatan, khususnya dalam melawan propaganda-propaganda negatif di Papua.

Ia bahkan menyarankan agar pemerintah berani menggunakan strategi perang media untuk memberikan gambaran alternatif bagi masyarakat internasional, khususnya terkait isu-isu substansial seperti pelanggaran HAM berat di Papua.

"Jadi pemerintah Indonesia juga harus menggunakan media nasional kita untuk memberikan penjelasan tentang apa yang sesungguhnya terjadi di Papua, agar dunia bisa memahaminya," katanya di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Senin, (11/4/2016).

Pater Gregor menekankan pentingnya peran media, mengingat isu-isu substansial seperti pelanggaran HAM di Papua sangat merugikan lobi Indonesia di kawasan Pasifik.

Ia memberikan contoh yaitu media-media di negara Vanuatu, salah satu negara Pasifik Selatan, yang selalu melawan Indonesia dalam kaitan dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan turut ‘meniup-niup’ isu pelanggaran HAM di Papua dan Papua Barat.

Pater Gregor bahkan menyarankan supaya pemerintah melakukan perang media untuk menghadapi propaganda negatif tersebut.

"Indonesia haruslah proaktif. Dalam kunjungan Juni 2015 lalu, ketika rombongan dinahkodai Wamenlu RI, dan Dubes RI di PNG sudah ditegaskan agar perang media segera diluncurkan," tandasnya.

Di sisi lain, Pater Gregor mengimbau agar pemerintah mampu memanfaatkan kemajuan diplomasi yang telah dicapai Indonesia di Pasifik Selatan.

Hal ini diungkapkannya saat menanggapi hasil dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Melanesian Spearhead Group (MSG) yang ke-20 di Honiara, Kepuluaun Solomon, yang diselenggarakan pada 24-26 Juni 2015. Dalam acara tersebut, status keanggotaan Indonesia telah ditingkatkan dari yang sebelumnya “Observer” menjadi “Associate Member”.

"Kita boleh bangga karena MSG ke-20 di Honiara tahun lalu merupakan satu kemajuan, dengan terlaksananya Melanesian Cultural Festival (MCF) di Kupang, Nusa Tenggara Timur pada Oktober 2015," ungkapnya.

Selain itu, ada rencana dari Kemenlu dan KBRI Papua Nugini (PNG) untuk mengadakan seminar di Honiara bulan Mei mendatang.

"Saya dan Prof Lauder dari UI ditetapkan sebagai keynote speaker," kata Pater Gregor.

Semua yang dilakukan ini, ujarnya, menjadi bagian dari kampanye untuk meluruskan isu miring tentang Papua yang sangat merugikan lobi internasional di kawasan Pasifik. (ANT)

Baca juga artikel terkait DIPLOMASI atau tulisan lainnya

Reporter: Putu Agung Nara Indra