Toko Zero Waste: Upaya Mempopulerkan Gaya Hidup Tanpa Plastik

Pengunjung sedang memilih produk zero waste yang ditawarkan Naked Inc, Kemang, Jakarta, Sabtu, (18/1/2020). tirto.id/Aditya Widya Putri
Oleh: Aditya Widya Putri - 4 Februari 2020
Dibaca Normal 3 menit
Kantong plastik rata-rata hanya dipakai selama 12 menit saja, tapi butuh waktu seribu tahun untuk terurai.
Tiga puluh menit sudah dia menekuri sajian yang terpampang di atas rak-rak cokelat berbentuk vertikal di depan matanya. Seolah tak cukup sekali, ia bolak-balik mencari benda apa yang sekiranya perlu dan bisa dibeli dengan bekal wadah botol dan toples.

Fransisca, nama tokoh yang dimaksud, memilih menadah madu. Diputarnya keran tempayan ke arah kanan, lalu cairan kental berwarna kuning kecokelatan itu mengucur memenuhi botol berukuran 200 ml miliknya. Kemudian ia pergi ke sisi kanan rak, mengambil sebuah toples kaca bening berisikan granola, menimbang sebanyak 100 gram, lalu memindahkan isinya ke bejana kecil.

Aktivitas cuci mata sore hari itu diakhiri Fransisca dengan memasukkan sebuah menstrual cup ke dalam tas belanja. Produk saniter satu ini memang tengah populer dijadikan alternatif pembalut atau tampon. Tak perlu berkali-kali ganti, menstrual cup bisa menampung darah haid selama 8-12 jam. Total harga yang ia bayar berkisar Rp600 ribuan.

“Sudah setahun aku mulai mengurangi kemasan sekali pakai. Jadi suka belanja di toko-toko kayak gini,” tutur dia sambil memamerkan tas putih besar dari kertas yang berisi madu, granola, dan menstrual cup.

Fransisca bersama adiknya mulai memilih meninggalkan gaya hidup tak ramah lingkungan. Kemana-mana ia selalu membawa tas belanja, botol minum, dan sedotan untuk mengurangi pemakaian plastik. Jikapun terpaksa harus menggunakan wadah tambahan, ia memilih menggunakan karton ketimbang plastik.


Pun dengan berbelanja di toko zero waste, Fransisca mengaku lebih bisa menghemat konsumsi bulanan. Pasalnya, toko zero waste punya konsep penjualan tanpa jumlah minimum yang bertujuan agar produk dapat digunakan seperlunya oleh konsumen.

“Sering, kan, kita butuhnya cuma dikit, jarang dipakai, tapi harus beli satu botol. Tau-tau kedaluwarsa. Mubazir,” katanya sambil menimbang botol madu yang hanya terisi sepertiga saja.

Kendati bukan seorang aktivis lingkungan yang fokus terhadap isu-isu terkait, Fransisca tak mau diam saja melihat bumi semakin rusak. Perempuan pekerja swasta ini memutuskan ikut turun tangan ketika melihat banyak fakta pencemaran dan perubahan iklim terjadi.

Saat melancong ke Bali, misalnya, Fransisca melihat banyak sampah di lautan Dewata. Aktivitas menyelam yang mestinya dipenuhi visual biru-hijau dasar laut dan ikan warna-warni wara-wiri, tersubstitusi plastik kemasan yang tak terhitung jumlahnya.

“Di Thailand aku juga nemu hal serupa. Dari situ aku mikir, masalah sampah plastik udah gawat banget.”


Mari Beralih ke Toko Zero Waste

Pada Sabtu (18/1/2020), Fransisca berangkat dari Sunter, Jakarta Utara, untuk mengunjungi Naked Inc, sebuah toko zero waste di Kemang, Jakarta Selatan. Tak ada toko dengan konsep serupa di dekat huniannya, sehingga perempuan itu rela menempuh jarak sekitar 15 km demi menjajal pengalaman anyar berbelanja.

“Awal lihat toko ini sekitar tiga bulan lalu, tapi saat itu belum bawa kontainer sendiri,” ungkap Fransisca, kali pertama ia hanya sempat melihat-lihat produk, tanpa berbelanja.

Naked Inc lahir dari buah kenekatan Kiana Lee pada April 2019 lalu. Hanya dalam waktu sebulan ia merealisasikan kegelisahannya menjadi aksi nyata untuk membantu mengubah lingkungan. Sebelumnya Kiana memang sudah aktif di berbagai kegiatan pro lingkungan hidup, maka usahanya membangun Naked Inc banyak dibantu oleh rekan sesama komunitas.

“Sudah lama idenya, maju-mundur gitu. Tapi aku mantap setelah pulang dari Kalimantan,” ceritanya ketika ditemui Tirto pekan lalu.

Di Borneo ia pergi ke daerah konservasi orang utan dan membandingkan dengan fakta global. Banyak habitat hewan liar yang tergusur akibat industri sawit hingga ekosistemnya terganggu lantaran tumpukan sampah plastik. Sementara pada 2019 lalu, laman resmi Universitas Leeds, Inggris, mengungkap bahwa setiap tahun manusia menyumbang sebanyak delapan ton plastik ke lautan.

Dulu, sebelum plastik ditemukan atau lebih populer digunakan, manusia terbiasa menggunakan wadah isi ulang. Maka semestinya gaya hidup tersebut bukan sesuatu yang asing bagi kita. Terlebih rata-rata setiap satu kantong plastik hanya digunakan sekitar 12 menit saja, namun butuh waktu hingga seribu tahun untuk terurai. Daur ulang pun juga bukan solusi mujarab, sebab hanya sekitar sembilan persen dari plastik yang berakhir untuk didaur ulang setiap tahun.


Kiana sadar, tak mudah memang mengubah gaya hidup orang untuk lebih peduli lingkungan. Karena itu ia mengakali dengan menjual berbagai produk yang unik dan lucu. Untuk sedotan, misalnya, Naked Inc menawarkan beberapa macam jenis bahan, stainless steel, akrilik, silikon, dan bambu.

“Biasanya pengunjung sini akan membawa teman atau saudaranya ketika berkunjung kembali,” ungkap Kiana, ia yakin pemasaran Naked Inc berhasil secara organik karena produk mereka tidak pasaran.



Tren Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Usai berbelanja di Naked Inc, Fransisca langsung mengambil gawai dan mengunggah berbagai gambar di media sosial, disertai cerita pengalaman berbelanja di grosiran bebas sampah. Katanya, itu salah satu upaya persuasi agar lebih banyak lagi orang yang menerapkan gaya hidup ramah lingkungan.

Fransisca yakin, aksi sekecil apapun akan membawa perubahan besar jika dilakukan secara massal. Malahan saat ini gaya hidup ramah lingkungan seakan menjadi tren yang kebanyakan dipopulerkan oleh generasi milenial. #TheLastStraw adalah salah satu kampanye global paling populer untuk menghentikan penggunaan plastik sekali pakai.

Saat berkunjung ke Naked Inc, saya juga mengamati kebanyakan pengunjung berasal dari kelompok generasi milenial. Meski sebetulnya menurut Kiana, pengunjung mereka tidak terbatas umur. Pada hari kerja, konsumen mereka terdiri dari pekerja kantoran dan anak sekolah dari wilayah sekitar, sementara kelas keluarga berkunjung di akhir pekan.


Kiana berkisah, salah satu konsumen pertama mereka merupakan anak berumur enam tahun. Ia datang membeli permen dan selalu membawa tas kertas yang sama setiap datang berbelanja. Di lain sisi, Naked Inc juga punya pengunjung tetap yang sudah sepuh. Seorang nenek dengan kolak sebagai makanan favorit di toko tersebut.

“Tapi memang target pemasarannya anak muda ke bawah karena mereka influencer yang baik,” kata Kiana.

Kini belum genap setahun berdiri, Naked Inc sudah mampu menghadirkan 600 produk. Kebanyakan merupakan produk makanan. Sedangkan sisanya seperti wadah, alat makan, ragam minuman tradisional, produk saniter, dan produk kebersihan.

Ditambah dengan jumlah pengunjung yang naik hampir tiga kali lipat di toko tersebut, maka dapat disimpulkan: masyarakat kiwari, sekalipun dalam skala kecil, sudah mulai sadar dan menjadikan gaya hidup ramah lingkungan menjadi lebih populer.

Baca juga artikel terkait PLASTIK atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight