Tips Mengelola Keuangan untuk Hadapi Ancaman Resesi 2023

Penulis: Nur Hidayah Perwitasari, tirto.id - 4 Okt 2022 10:53 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Cara mengelola keuangan untuk hadapi resesi 2023, di antaranya mencari alternatif tambahan penghasilan selain gaji tetap hingga pilih investasi yang aman.
tirto.id - Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu mengingatkan soal kondisi dunia saat ini yang ada dalam pusaran 'awan gelap' dan tahun depan ada kemungkinan terjadi badai besar atau ancaman resasi termasuk di Indonesia.

Jokowi juga mengatakan, hingga saat ini masih belum bisa dikalkulasikan kekuatan resesi global dan pengaruhnya terhadap situasi ekonomi. Selain itu, beberapa negara termasuk Inggris saat ini juga tengah mengalami krisis di sektor finansial, termasuk krisis mata uang. Indonesia sendiri saat ini juga termasuk negara yang mengalami pelemahan rupiah akibat pengetatan likuiditas global.

"Hati-hati ketidakpastian ini, mengenai ketidakpastian ini, dan tiap hari kita selalu diingatkan dan kalau kita baca baik di media sosial di media cetak, di media online semuanya mengenai resesi global, tahun ini sulit dan tahun depan sekali lagi saya sampaikan akan gelap, dan kita tidak tahu badai besarnya seperti apa sekuat apa tidak bisa dikalkulasi," kata Jokowi saat melakukan pengarahan kepada seluruh Menteri/Kepala Lembaga, Kepala Daerah, Pangdam dan Kapolda di JCC, Jakarta, Jumat (30/9/2022).

Selain Jokowi, Menteri Keuangan, Sri Mulyani juga memproyeksikan ekonomi dunia akan mengalami resesi pada 2023.

Menanggapi hal itu, Pengamat Perbankan, Keuangan, dan Investasi dari UGM, I Wayan Nuka Lantara, Ph.D., menyampaikan bahwa resesi yang akan terjadi kedepannya dikarenakan lonjakan inflasi sebagai dampak dari konflik Rusia-Ukraina.

Peningkatan inflasi tersebut diikuti oleh kebijakan pengetatan moneter oleh bank sentral di negara Eropa dan Amerika dengan menaikkan tingkat bunga acuan yang akan berdampak juga pada kebijakan yang diambil bank sentral di negara lainnya.

Menurutnya, apabila bunga acuan meningkat, maka biaya modal dan bunga kredit yang akan ditanggung bisnis juga akan naik. Dampak lanjutannya biasanya diikuti oleh mata uang lokal yang melemah terhadap mata uang asing.

Jika suatu negara memiliki banyak pinjaman dalam mata uang asing baik oleh pemerintah maupun swasta maka jumlah mata uang lokal yang akan dikeluarkan untuk membayar pinjaman dalam mata uang asing juga akan meningkat.

"Jika kondisi tersebut tidak membaik, maka kombinasi rentetan harga produk yang meroket, inflasi yang meningkat, bunga acuan kredit yang naik, serta pelemahan mata uang lokal pada akhirnya akan berisiko menyebabkan terjadinya krisis ekonomi global," paparnya, dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi Tirto.

Cara mengelola keuangan untuk hadapi resesi 2023


Lantas bagaimana cara mengelola keuangan pribadi menghadapi ancaman resesi ini?

Wayan mengimbau masyarakat untuk tetap tenang sembari melakukan revisi pada rencana keuangan yang sebelumnya sudah dibuat. Menurutnya, upaya penyiapan dana darurat penting dilakukan, namun perlu juga dibarengi upaya pada dua hal lainnya yaitu,

1. Cari alternatif tambahan penghasilan selain dari gaji tetap.

Anda sebaiknya perlu berupaya untuk mencari alternatif penghasilan tambahan di luar gaji Anda. Misalnya, Anda bisa memanfaatkan hobi Anda untuk bisnis dan menghasilkan uang tambahan, berjualan online, dan tetaplah rutin berinvestasi.

2. Lakukan identifikasi ulang pada pos-pos pengeluaran.

Disaat yang sama sembari mencari celah untuk melakukan penghematan pada pos-pos pengeluaran yang kurang penting atau yang bisa ditunda.

Saat disinggung apakah masih aman melakukan investasi di tengah situasi yang serba tak menentu. Wayan menyebutkan bahwa investasi selama ini terbukti menjadi cara yang efektif untuk melawan dampak negatif inflasi.

Namun, pilihan investasi yang cocok untuk mengantisipasi terjadinya krisis ekonomi global adalah menggeser bobot dana investasi kita lebih banyak pada aset investasi yang tergolong aman (safe haven).

Ia mencontohkan jenis investasi yang aman dilakukan antara lain deposito, emas, surat berharga yang diterbitkan oleh negara. Jika ingin melakukan investasi di saham, ia menyarankan sebaiknya investasi pada saham-saham yang bergerak pada sektor industri yang defensif, tetap bisa bertahan meskipun ada krisis.

"Misalnya saham perusahaan yang bergerak di industri consumer goods, kesehatan, bank, energi dan utilitas," pungkasnya.


Baca juga artikel terkait LIFESTYLE atau tulisan menarik lainnya Nur Hidayah Perwitasari
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Nur Hidayah Perwitasari
Editor: Iswara N Raditya

DarkLight