Tips dan Cara Memberikan Pendidikan Seksual kepada Anak

Oleh: Dinda Silviana Dewi - 2 Maret 2020
Dibaca Normal 3 menit
Jika para orang tua tidak mengajarkan anak-anak mereka tentang seks, dapat dipastikan anak akan mempelajarinya dari tempat lain.
tirto.id - Orang tua dan keluarga seharusnya menjadi orang pertama yang memberikan pendidikan seksual kepada anak. Namun, banyak orang tua yang justru menganggap pendidikan seksual sebagai hal tabu. Padahal, pendidikan seks penting untuk diberikan untuk menghindarkan anak dari persepsi yang salah mengenai seksualitas.

Jika para orang tua tidak mengajarkan anak-anak mereka tentang seks, dapat dipastikan anak akan mempelajarinya dari tempat lain. Lebih lanjut, dilansir dari laman About Kids Health, memilih untuk tidak membicarakan seksualitas dengan anak akan membuat orang tua memiliki sedikit kendali atas apa dan bagaimana anak mereka belajar tentang seksualitas.

Adalah sebuah mitos bahwa semua remaja ingin menghindari pembicaraan mengenai seksualitas dan kencan. Sebaliknya, mereka justru menginginkan lebih banyak bimbingan, hal tersebut berdasarkan sebuah penelitian terhadap lebih dari 2000 siswa sekolah menengah dan perguruan tinggi di Amerika Serikat.

Seks bebas banyak ditemui dan dilakukan oleh para remaja dan dewasa. Akan tetapi, banyak pula dari mereka yang merasa tidak tertarik dengan seks. Para peneliti dari Harvard University tersebut menemukan bahwa remaja dan dewasa muda bingung dan cemas tentang bagaimana mengembangkan hubungan romantis yang sehat.

Lebih buruk lagi, mereka menemukan bahwa pelecehan seksual dan kebencian terhadap wanita menyebar di kalangan kaum muda, dan tingkat kekerasan seksual yang tinggi.

Maka solusi yang ditawarkan oleh para peneliti tersebut adalah dengan memulai sebuah percakapan yang lebih dalam dengan anak-anak mereka terkait cinta, seksualitas, dan persetujuan. Berikut adalah tips yang diberikan oleh para peneliti tersebut dilansir dari Healthline:

1. Membicarakan seks lebih dini dan lebih sering

Sayangnya, budaya populer telah cenderung membingkai obrolan antara anak-anak dengan orang tua adalah hal yang membuat hubungan menjadi canggung. Padahal, mengobrol dengan anak terkait pendidikan seksual harus benar-benar dilakukan.

"Bimbingan utama yang kami berikan kepada orang tua dan pengasuh adalah 'berbicara lebih awal dan sering,'" kata Nicole Cushman, MPH, direktur eksekutif dari Rutgers University's Answer, sebuah organisasi nasional penyedia sumber daya pendidikan seksualitas yang komprehensif.

Tujuannya adalah untuk menormalkan pendidikan seksual ketika anak-anak muda. Dengan dilakukannya pembicaraan seksual dengan lebih dini, pembahasan terkait hal tersebut akan kurang intens ketika anak-anak lebih tua.

Dengan melakukan percakapan yang berkelanjutan tentang seks, Cushman berkata, "itu menjadi bagian normal dari percakapan dan itu menghilangkan kecanggungan darinya."

“Menjadikan seks bukan masalah besar untuk dibicarakan sejak hari pertama kemungkinan besar akan menumbuhkan kepercayaan pada Anda dengan anak-anak Anda,” jelas Elle Chase, ACS, seorang pendidik seks bersertifikat.

2. Membicarakan seks kepada anak-anak

Pengajar seksual Logan Levkoff menyetujui hal tersebut dan mengatakan orang tua dapat mengajarkan alat kelamin sedini mungkin dengan kata-kata yang tepat ketika anak-anak berada di meja ganti.

Memilih bahasa yang benar untuk berbicara tentang bagian tubuh membantu mengurangi stigma seputar seks. Tak ada salahnya juga lengkapi pembahasan itu dengan membicarakannya dengan konselor, atau profesional medis jika ada masalah.

Orang tua juga dapat memanfaatkan keingintahuan alami yang dimiliki anak kecil. Ketika anak-anak kecil mengajukan pertanyaan, orang tua dapat "menanggapi dengan sangat sederhana atas pertanyaan yang diajukan," kata Cushman.

Terkait dengan otonomi tubuh seputar seksual, Levkoff menyarankan, salah satu cara untuk memulai pembicaraan adalah dengan berbicara tentang persetujuan sebagai izin. Dengan cara itu, maka anak-anak akan terbiasa dengan konsep tidak mengambil sesuatu tanpa izin. Selain itu, untuk menghormati batasan ketika seseorang mengatakan tidak atas hubungan seksual.

Selain itu, usia yang relatif muda juga merupakan waktu yang baik bagi orang tua untuk memperkenalkan diskusi tentang gender, kata Levkoff. Percakapan itu bisa dimulai dengan bertanya pada balita apa mainan yang mereka mainkan di sekolah.

Orang tua dapat menekankan bahwa tidak masalah bagi anak perempuan dan anak laki-laki untuk bermain dengan mainan apa pun yang mereka suka.

3. Membicarakan seksualitas dengan remaja

Ketika anak telah tumbuh pada masa remaja, orang tua mencoba membahas seks. Namun, para remaja acapkali memprotes dan mengatakan bahwa mereka telah mengetahuinya.

Levkoff mendesak orang tua untuk tidak terpengaruh oleh protes anak-anak mereka bahwa mereka tahu segalanya tentang seks. Orang tua dapat mengingatkan anak-anak bahwa meskipun mereka percaya sudah mengetahui semuanya, mereka tetap perlu berbicara tentang seks bersama.

Penting untuk diingat bahwa berbicara tentang seks bukan hanya berbicara tentang cara mencegah kehamilan. Orang tua juga perlu membahas seks yang aman. Ella Dawson, yang berbicara secara terbuka tentang diagnosis herpesnya selama TEDx Talk, ingin agar orang tua memperhatikan cara mereka membahas penyakit menular seksual (PMS).

Dia mendesak orang tua untuk mengatakan bahwa penyakit menular seksual merupakan risiko normal untuk aktivitas seksual yang mungkin mereka temui selama hidup mereka dan bukan sebagai hukuman.

Orang tua yang menganggap PMS sebagai hal yang menakutkan dan menghancurkan kehidupan dapat membuat para remaja yang aktif secara seksual takut untuk melakukan tes penyakit tersebut, kata Dawson memperingatkan.

"Lebih produktif untuk membicarakan PMS sebagai kondisi kesehatan umum yang harus ditanggapi dengan serius, tetapi tidak perlu ditakuti." Ungkap Dawson.

4. Bagaimana membahas masturbasi?

Masturbasi tidak harus menjadi topik yang sulit untuk dibicarakan dengan anak-anak Anda. Perlu dikatakan, bahwa masturbasi adalah hal yang normal untuk dilakukan.

Dengan anak-anak yang lebih kecil, orang tua dapat mengakui bahwa sentuhan itu akan membuat anak mengerti atas tubuhnya, kata saran Levkoff. Kemudian orang tua dapat menyarankan sentuhan semacam itu dilakukan secara pribadi dan, jika anak-anak ingin melakukannya, mereka harus pergi ke kamar mereka untuk menyendiri.

Sementara menurut seksolog Yvonne Fulbright, PhD, ketika berbicara dengan anak-anak yang lebih besar tentang masturbasi, orang tua harus terus menekankan bahwa menyentuh diri sendiri itu wajar dan normal, tidak kotor. "Ketika anak-anak memasuki masa puber dan seks lebih banyak di otak, masturbasi dapat didiskusikan sebagai pilihan seks yang lebih aman, dan cara untuk belajar lebih banyak tentang tubuh seseorang."

Sederhananya, ketika anak-anak menyentuh diri mereka sendiri, itu adalah kesempatan bagi orang tua untuk mengajarkan cara yang tidak menghakimi bahwa tubuh kita tidak hanya sekadar alat reproduksi. "Tidak ada yang salah dengan merasakan kesenangan," kata Chase.

"Menempatkan konsep itu ke dalam konteks yang mudah dicerna, sesuai usia dapat membantu membebaskan anak Anda dari rasa malu yang mungkin mereka pegang di sekitarnya."


Jika anak remaja Anda aktif secara seksual, lebih penting untuk menjaga percakapan terkait seksualitas. Nyatakan bagaimana perasaan Anda terhadap hal tersebut secara terbuka dan jujur. Ingatkan anak untuk melakukan hubungan seks dengan tanggung jawab dan serius.

Dilansir Mayo Clinic, tekankan pada anak pentingnya seks yang aman, dan pastikan anak remaja Anda mengerti cara mendapatkan dan menggunakan kontrasepsi. Anda mungkin berbicara tentang menjaga hubungan seksual tetap eksklusif, tidak hanya sebagai masalah kepercayaan dan rasa hormat tetapi juga untuk mengurangi risiko infeksi menular seksual.

Lebih dari itu, tetapkan batasan yang masuk akal, seperti jam malam dan aturan tentang kunjungan dari teman lawan jenis. Dokter anak remaja Anda juga bisa membantu. Pemeriksaan rutin dapat memberikan anak Anda kesempatan untuk mengatasi aktivitas seksual dan perilaku lain dalam suasana yang suportif.

Dokter juga dapat menekankan pentingnya vaksinasi human papillomavirus (HPV) rutin, baik untuk anak perempuan dan anak laki-laki, untuk membantu mencegah kutil kelamin serta kanker serviks, anus, mulut dan tenggorokan, dan penis.


Baca juga artikel terkait PENDIDIKAN SEKSUAL atau tulisan menarik lainnya Dinda Silviana Dewi
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Dinda Silviana Dewi
Penulis: Dinda Silviana Dewi
Editor: Alexander Haryanto
DarkLight