Advertorial

Tips Aman Ikuti Pembelajaran Tatap Muka

Oleh: Advertorial - 2 Desember 2021
Dibaca Normal 2 menit

Setahun lebih belajar di rumah, kembali ke sekolah belum tentu menjadi hal yang mudah.
tirto.id - Nyaris dua tahun belajar di rumah—bahkan sempat kena Covid-19 juga—Auliya Izzati, 11 tahun, sumringah betul dapat kabar bahwa per Rabu 20 Oktober 2021 ia bakal kembali bertemu guru dan kawan-kawannya di sekolah. “Kasih tahu nenek, ya,” kata Izza, via panggilan video.

Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri tentang Panduan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19, kegiatan pembelajaran tatap muka dimulai Juli 2021—4 bulan sebelum Izzati menyampaikan kabar menggembirakan itu. Hanya, berhubung kasus Covid-19 melonjak terus, di Jakarta, hal demikian baru berlaku per 13 September 2021.

“Di sekolah, waktuku cuma 1,5 jam saja. Kelas juga tidak penuh,” sambung Izzati, siswi salah satu sekolah swasta di bilangan Jakarta Selatan.

Meski pandemi belum selesai, Izzati dan orang tuanya tidak begitu khawatir dengan kebijakan baru itu. Alasannya, selain para pengajar sudah divaksin, sekolah juga menerapkan prosedur yang ketat: semua civitas akademika wajib mengenakan masker dan cuci tangan sebelum masuk kelas, tempat duduk dibuat berjarak, tak ada kontak fisik (baik cium tangan maupun bersalaman) selama pembelajaran dilangsungkan.

Selain melawan kebosanan—hal yang berdampak buruk pada kesehatan mental anak-anak sekolah—pembelajaran tatap muka penting dilakukan agar potensi memudarnya capaian belajar (learning loss) bisa ditekan sekecil mungkin. Sebab itulah pemerintah terus berupaya agar sekolah bisa menerapkan prosedur kesehatan dengan optimal.

“Kalangan anak-anak kemungkinan besar kehilangan antara 0.8 sampai 1,2 tahun pembelajaran. Jadi, seolah-olah satu generasi kehilangan hampir setahun pembelajaran di masa ini,” kata Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim Anwar di laman resmi Kemendikbud Ristek, Minggu (17/10).

Mas Menteri, sapaan akrab Nadiem, juga menyampaikan bahwa 80 persen orang tua siswa ingin pembelajaran tatap muka terbatas dilaksanakan.

“Orang tua adalah garda depan kesehatan dan pendidikan bagi anak-anaknya. Mereka harus berperan aktif agar sekolah disiplin menjalankan protokol kesehatan,” sambungnya.

Tips Menghadapi Pembelajaran Tatap Muka


Setahun lebih belajar di rumah, kembali ke sekolah belum tentu menjadi hal yang mudah. Paling tidak, orang tua dan anak, juga para guru mesti beradaptasi kembali dengan sejumlah aturan baru.

Berdasarkan buku Panduan Orang Tua dalam Menghadapi Pembelajaran Tatap Muka (2021) yang diterbitkan oleh Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19, sejumlah langkah yang bisa dilakukan oleh orang tua sebelum anak menjalani pembelajaran tatap muka terbatas di sekolah, yakni:

Infografik Advetorial Kembali ke Sekolah Jaga Cairan Tubuh
Infografik Advetorial Kembali ke Sekolah Jaga Cairan Tubuh. (tirto.id/Mojo)


  1. Lihat dan amati kondisi anak, kebutuhan dan kemampuan anak mengikuti protokol kesehatan serta memperkirakan kemampuan beradaptasi anak pada kegiatan belajar mengajar yang baru. Lewat kampanye #GoSweatGoION, Pocari Sweat berupaya turut serta membawa semangat dan energi positif di kalangan siswa saat mereka kembali ke sekolah. Pocari Sweat mendukung siswa dan siswi kembali aktif di sekolah, namun tidak melupakan protokol kesehatan dan hidrasi yang tepat agar kegiatan sekolah tatap muka berjalan dengan lancar.
  2. Beri rasa aman kepada anak ketika menyampaikan bahwa anak harus menerapkan protokol kesehatan penuh selama di sekolah. Selain itu, dukungan rasa aman perlu diberikan ketika menghadapi hal-hal yang tidak sesuai harapan.
  3. Mendengarkan cerita anak atau berdiskusi, agar anak dapat menyampaikan kekhawatirannya, kecemasannya, keinginannya, dan harapannya.
  4. Membiasakan anak untuk menerapkan protokol kesehatan (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan pakai sabun) untuk melindungi diri dari bahaya. Orang tua wajib memberi tahu anak bahwa dengan mematuhi protokol kesehatan dapat melindungi dirinya dan orang lain dari bahaya COVID-19. Selain proteksi melalui protokol kesehatan, kita juga harus mempersiapkan hidrasi yang tepat untuk anak. Pocari Sweat dengan kandungan ION-nya bantu kembalikan cairan tubuh yang hilang saat beraktivitas. Cairan tubuh tidak hanya terdiri dari air tapi juga ION, jadi butuh hidrasi yang tepat dengan Pocari Sweat.
Apabila orang tua dan anak mengalami kecemasan yang mengganggu keseharian, keluarga dapat menghubungi ahli yang dapat membantu, seperti dokter untuk kesehatan fisik dan psikolog terkait kesehatan mental atau hubungi 119 ext 8.

  1. Mengajarkan berpikir positif dengan menanamkan harapan-harapan nyata bahwa kondisi akan membaik dengan pola kebiasaan baru.
Selain itu, sumber yang sama juga menyebutkan bahwa sejumlah perlengkapan yang perlu disiapkan orang tua sebelum anak kembali ke sekolah antara lain adalah masker, hand sanitizer, dan tisu basah. Khusus masker, penting untuk menyiapkan cadangan dalam jumlah yang cukup serta pembungkus untuk masker kotor.

Seminim apa pun aktivitas anak di sekolah, besar kemungkinan mereka bakal lebih banyak mengeluarkan keringat ketimbang belajar di rumah. Sebab itu, membekali anak dengan Pocari Sweat juga penting dilakukan untuk mempersiapkan pembelajaran tatap muka dengan hidrasi yang tepat yaitu ION Pocari Sweat, hal yang berguna untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang saat beraktivitas di sekolah.

Pocari Sweat, produk yang berasal dari Jepang, mengandung ION yang dibutuhkan oleh tubuh. Kita tahu, tubuh tidak hanya terdiri atas air tapi juga ION seperti natrium, magnesium, dan klorida. Semua ION penting itu ada dalam kandungan Pocari Sweat dan berfungsi membantu menjaga cairan tubuh lebih lama. Ketika anak kembali bersekolah dan kehilangan cairan tubuh akibat melakukan aktivitas ini itu. Dengan menjaga kebutuhan cairan tubuh, kita juga turut menjaga imun tubuh untuk berkegiatan sehari-hari.

Bersama Pocari Sweat, keringatan, kenapa tidak?
DarkLight