Tip Mengatasi Gangguan Mental pada Generasi Sandwich

Penulis: Aditya Widya Putri - 22 Okt 2021 13:00 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Istilah generasi sandwich diberikan kepada orang dewasa yang memiliki beban merawat orang tua dan anak-anak mereka sendiri.
tirto.id - Generasi sandwich yang sehat secara fisik dan mental bisa mengoptimalkan kesehatan dan kesejahteraan tiga generasi: Generasi dirinya, serta dua generasi lain yang mereka rawat.

Istilah ini diberikan kepada orang dewasa yang memiliki beban merawat orang tua dan anak-anak mereka sendiri.

Belakangan istilah generasi sandwich menjadi topik perbincangan populer karena dirasakan oleh sebagian besar milenial.

Orang-orang dalam kelompok ini rentan sekali terkena masalah kesehatan mental. Sebabnya beban dan tanggung jawab multipel baik secara fisik, mental-emosional, maupun finansial.

Istilah generasi sandwich pertama kali diperkenalkan oleh Dorothy Miller dan Elaine Broody pada 1981. Kedua orang tersebut merupakan pekerja sosial.

Mereka mendefinisikan generasi sandwich sebagai gambaran pelaku rawat (caregiver) yang terjepit di antara dua generasi.

Secara umum, karakteristik individu generasi sandwich adalah dewasa berusia 30 tahun ke atas, telah menikah, dan bekerja.

Mereka bertanggung jawab atas perawatan dan layanan seperti transportasi, pengaturan makan, perawatan kesehatan, dan urusan rumah tangga lain, baik bagi anak-anaknya maupun orangtua.

Masalah Kesehatan Mental

Berbagai studi membuktikan, akibat peran multipel, generasi sandwich yang terdiri dari usia 35-54 tahun, mengalami tingkat stres lebih tinggi.

Hampir 40 persen perempuan generasi sandwich melaporkan tingkat stres ekstrem.

“Stres tidak hanya memengaruhi relasi personal terhadap pasangan, anak dan keluarga, namun juga kesejahteraan diri sendiri,” ungkap Zulvia Oktanida Syarif, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa dalam rilis kepada Tirto.

Generasi sandwich lebih rentan mengalami berbagai masalah kesehatan mental, antara lain:

    • Burnout (kelelahan fisik dan mental),
    • Gangguan tidur (banyak tidur atau kurang tidur),
    • Perasaan bersalah,
    • Merasa khawatir terus-menerus,
    • Hilang minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disenangi,
    • Ansietas (kecemasan), dan
    • Depresi.
“Pada akhirnya, kondisi mental tersebut juga bisa memengaruhi kesehatan fisik,” lanjut Zulvia.

Beberapa keadaan berikut dikategorikan psikosomatis, alias sakit fisik yang dipicu gangguan kesehatan mental.

    • Kadar hormon stres lebih tinggi,
    • Sering sakit karena infeksi penyakit menular,
    • Respons imunitas lebih rendah terhadap influenza,
    • Penyembuhan luka lebih lambat,
    • Tingkat obesitas lebih tinggi,
    • Risiko penurunan kesehatan mental lebih tinggi
Mengatasi Gangguan Kesehatan Mental

Peran multipel dari generasi sandwich memiliki dampak negatif dalam aspek fisik, psikologis, emosional, dan beban finansial.

Studi terbitan Public Library of Science (PLOS) ONE pada tahun 2016 menunjukkan perempuan generasi sandwich perlu memiliki strategi untuk menyeimbangkan peran.

  • Menjaga kesehatan dan kesejahteraan
  • Menekan perfeksionisme
  • Mengelola waktu dan energi
  • Melepaskan tanggung jawab
  • Memelihara hubungan sosial dan timbal balik
Sementara itu sebagai psikiater, Zulvia memberi beberapa tip tambahan untuk mengurangi stres generasi sandwich.

    • Meminta bantuan
Cari bantuan untuk mengerjakan beberapa tugas rumah tangga, pengaturan pengurusan anak dan orang tua, dan sebagainya.

    • Luangkan waktu untuk diri sendiri (me time)
Ambil waktu khusus untuk mengerjakan hobi, sekadar bersantai, dan memanjakan diri.

    • Adakan pertemuan keluarga
Semakin tinggi persepsi dukungan sosial, maka semakin rendah beban pengasuhan yang dirasakan oleh generasi sandwich. Gunakan pertemuan keluarga untuk berbagi cerita.

    • Pertahankan komunikasi yang baik
Saat lelah dan stres pola komunikasi cenderung mengarah lebih emosional. Pelajari cara komunikasi asertif dan baik agar suasana tetap nyaman dalam menjalankan peran.

    • Lepaskan kendali
Perfeksionisme dapat memicu stres lebih tinggi. Turunkan ekspektasi dan coba untuk tidak selalu mengatur semua hal di kehidupan.

    • Nikmati momen
Upayakan untuk dapat menikmati peran dalam merawat anak, melihat pertumbuhan, dan perkembanganmereka.

Sekaligus menikmati peran merawat orang tua sebagai wujud kasih sayang dan bakti.

“Jika berbagai cara tersebut telah dilakukan tapi tetap merasa tertekan, depresi, serta tidak dapat menjalankan fungsi kehidupan sehari-hari dengan baik, sebaiknya lakukan konsultasi ke psikolog klinis atau psikiater,” tandas Zulvia.


Baca juga artikel terkait GENERASI SANDWICH atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Dhita Koesno

DarkLight