Tinggalkan Argentina, Omar Sivori Jadi Legenda Juventus

Ilustrasi Mozaik Omar Sivori. tirto.id/Nauval
Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 17 Februari 2020
Dibaca Normal 5 menit
Tepat hari ini 15 tahun lalu Omar Sivori meninggal dunia. Namanya dikenang sebagai musuh federasi sepakbola Argentina sekaligus legenda Juventus.
Mantan pesepakbola asal Italia Sandro Mazzola pernah membuat penggambaran menarik mengenai bintang Juventus, Paulo Dybala. Lelaki berusia kepala tujuh itu menyebut Dybala sebagai reinkarnasi Enrique Omar Sivori.

Sivori adalah legenda sepakbola yang aktif bermain untuk Juventus medio 1957-1965. Seperti Dybala, ia lahir di Argentina, bisa bermain sebagai gelandang ataupun penyerang, punya insting gol dan visi umpan jempolan, serta memiliki tendangan kaki kiri yang mematikan.

"Lalu bila ditanya apakah aku menyukai persamaan-persamaan itu? Ya, tentu saja," sambung Mazzola seperti dilansir Football Italia.

Sivori tak cuma bertalenta, tapi juga nyentrik. Saat beraksi di atas lapangan ia kerap menggulung kaos kakinya ke bawah sampai kulit tulang keringnya tampak.

"Sivori melakukannya untuk membuktikan bahwa dirinya tak takut pada siapapun. Ia tak akan pernah lelah lelah memprovokasi bek lawan agar menekelnya keras-keras,” ujar Giampiero Boniperti, mantan rekan setim Sivori di Turin.

Provokatif dan temperamental adalah dua sifat yang jadi jurang pemisah antara Sivori dan Dybala. Penyerang kelahiran 2 Oktober 1935 ini tak pernah segan memprotes wasit apabila mengambil keputusan yang merugikan timnya. Sivori juga kerap bertindak nekad dengan menendang atau menanduk pemain lawan yang bikin kemarahannya naik sampai ke ubun-ubun.

Konon sifat tempramental ini menjadi pemicu Sivori bertengkar dengan pelatih terakhirnya di Juve, Herriberto Herrera. Herrera akhirnya mendepak Sivori dari skuatnya pada akhir musim 1964/65.

“Mereka [Sivori dan Herrera] benar-benar dua orang yang tidak punya kecocokan,” tulis sejarawan sepakbola Adam Digby dalam Juventus: A Histrory in Black and White (2015) .

Di klub barunya, Napoli, situasi bahkan makin parah. Pada pertandingan terakhirnya sebelum dilego ke bursa transfer, Sivori dihukum kartu merah oleh wasit karena menendang Erminio Vavali, mantan rekan setimnya di Juve.

Menariknya, citra negatif itu tak pernah benar-benar menenggelamkan nama besar Sivori. Di mata fans Juventus, ia tetap jadi pahlawan tak tergantikan.


Bersama Bonaperti dan penyerang asal Wales, John Charles, kombinasi lini depan Juve era Sivori kerap dijuluki Trio Magico (tiga keajaiban). Tiga Scudetto, dua Coppa Italia, dan satu gelar Coppa delle Alpi adalah bukti sahih daya magis ketiganya di atas lapangan.

Tak kurang dari 167 gol dicetak Sivori untuk Si Nyonya Tua selama 253 kali bermain. Pertandingan terbaik Sivori terjadi ketika membawa Juve mempecundangi Inter dengan skor telak 9-1, 10 Juni 1961. Enam dari sembilan gol Juve pada pertandingan ini berasal dari kakinya.

Pada tahun yang sama Sivori dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Eropa (saat ini disebut Ballon d’Or), mengalahkan talenta-talenta lain macam Luis Suarez (Barcelona), Lev Yashin (Dinamo Moskow), Ferenc Puskas hingga Alfredo di Stefano (Real Madrid).

Kini, sejarah mencatat Sivori sebagai purwarupa kemunculan pemain-pemain pendek berbakat lain di Argentina. Mulai dari Diego Maradona, Lionel Messi hingga Paulo Dybala.

“[Sivori] membuat timnya seolah memiliki sosok Maradona, bahkan ketika Maradona sendiri belum lahir,” tulis Adam Digby.

Mengangkat dan Meninggalkan Argentina

Bibit kesuksesan Sivori sudah terdeteksi jauh sebelum kakinya berpijak di Turin, demikian menurut Jonathan Wilson dalam Angels with Dirty Faces: The Footballing History of Argentina (2015).

Memulai karier sepakbola bersama akademi River Plate pada usia 10 tahun, Sivori memang baru mentas ke skuat utama sembilan tahun kemudian. Namun, setelahnya karier Sivori di Los Millonarios seperti berjalan tanpa hambatan.

Pada musim kedua menjadi pemain tim utama (1955), Sivori mengantarkan River Plate juara Liga Argentina. Skuat asuhan Federico Vairo memastikan gelar dalam sebuah pertandingan tandang melawan seteru abadi mereka, Boca Juniors di Stadion La Bombonera.

Setahun kemudian (1956), gelar juara liga sekaligus turnamen domestik juga direngkuh Los Millonarios. Peran Sivori lebih besar lagi pada musim ini. Ia tampil sebagai salah satu pencetak gol dalam laga penentuan melawan Rosario Central yang berkesudahan 4-0.

Buntut dari penampilan apik itu bikin pelatih Timnas Argentina, Guillermo Stabile memanggil Sivori ke skuat Tim Tango. Stabile punya strategi memasangkan Sivori dengan dua pemain depan berbakat lain, Antonio Angelillo dan Humberto Maschio.

Angelillo adalah punggawa Boca Juniors; penampilannya juga berkilau layaknya Sivori. Pada musim 1956/57 misal, ia mampu mencetak 16 gol dari 34 pertandingan. Sedangkan nama kedua, Maschio, adalah pemain yang bisa jadi gelandang maupun penyerang. Ia merupakan tulang punggung klub Racing Klub untuk mempersulit laju River Plate semusim sebelumnya.

Keputusan Sabile mengkombinasikan tiga nama di atas terbukti tepat. Pada Copa America 1957, kompetisi pertama yang menyatukan Sivori, Angelillo dan Maschio, Tim Tango langsung keluar sebagai juara.

Dengan sistem turnamen masih menggunakan hitungan poin, Sivori dan kolega menjadi yang terbaik lewat catatan lima kemenangan dan sekali kalah. Dari 25 gol Tim Tango sepanjang kompetisi, 20 di antaranya (80 persen) dicetak Maschio (9 gol), Angelillo (8 gol) dan Sivori (3 gol).


Statistik tersebtut bikin trisula Sivori-Maschio-Angelillo dapat beragam julukan dari orang-orang Argentina. Yang paling lekat adalah sebutan Trio de la Muerte (trio maut) dan Carascusias (malaikat-malaikat berwajah kotor). Julukan kedua didapat dari sebuah film bioskop berjudul Angels with Dirty Faces.

Di tengah situasi manis itu, eberapa bulan kemudian sepakbola Argentina dikejutkan pengumuman bahwa para anggota angles with dirty faces memutuskan pindah ke klub-klub Italia. Sivori berlabuh ke Juve, Angelillo menuju Inter, dan Maschio menerima pinangan Bologna.

Kepindahan itu menjadi durian runtuh bagi pihak klub. River Plate misal, meraup pemasukan 93 ribu pound (memecahkan rekor dunia saat itu) dari transfer Sivori ke Turin. Konon dana transfer ini punya porsi besar untuk menuntaskan pembangunan El Monumental, stadion anyar Los Milleneiros.

Kendati demikian, trasfer itu menjadi bencana bagi AFA, federasi sepakbola Argentina. Mereka berang lantaran transfer Sivori, Maschio dan Angelillo dianggap merugikan kompetisi sepakbola Argentina dalam aspek komersial dan penjualan tiket.

Maka, tak lama setelah Argentina lolos dari kualifikasi Piala Dunia 1958, AFA menjatuhkan larangan bermain di Timnas Argentina kepada Sivori, Maschio dan Angelillo. Beberapa tahun berselang ketiganya lantas mengambil sikap yang sama: mereka berganti seragam ke Timnas Italia.

Sikap tersebut menjadi sesuatu yang sah sebab Sivori, Maschio maupun Angelillo sama-sama terlahir dari keluarga berdarah Italia. Dalam kasus Sivori misal, kakeknya yang bernama Giulio Sivori adalah imigran asal Genoa.

Keperigan trisula andalan mereka adalah salah satu pukulan paling telak dalam sejarah Timnas Argentina. Permainan Tim Tango pasca-kepergian ketiganya awut-awutan.

Di Piala Dunia 1958 misal, Argentina tersisih lebih dulu lantaran mengakhiri fase grup di posisi juru kunci. Tergabung di Grup 1, mereka kalah tangguh dari Jerman, Irlandia Utara dan Cekoslovakia.

Di sisi lain, situasi yang dialami Sivori juga tak melulu bagus. Performa Sivori di level klub memang memuaskan, tapi saat berbalut kostum Italia dirinya tak segarang ketika masih berseragam Argentina.

Total Sivori hanya bermain sembilan kali untuk Timnas Italia dengan torehan delapan gol. Pada Piala Dunia 1962, Sivori juga tak bisa berbuat banyak. Italia tersingkir dini di fase grup lantaran berada di urutan ketiga Grup 2, di bawah Jerman Barat dan Cile.

Upaya Damai yang Gagal

Selepas pensiun pada 1969, Sivori memilih jalur karier sebagai pelatih profesional. Pada titik inilah dirinya dan sepakbola Argentina, khususnya AFA mencoba berdamai.

Dimulai dengan berpindah-pindah melatih dari River Plate, Rosario Central, Estudiantes, Racing Club, hingga Velez, Sivori akhirnya mendapat jabatan sebagai kepala pelatih Timnas Argentina pada 1972. Jabatan ini didapatnya dengan kondisi tidak mudah.

Sivori harus membenahi penampilan buruk Tim Tango di bawah asuhan pelatih sebelumnya, Joze Pizzuti. Argentina era Pizzuti gagal lolos dari kualifikasi Piala Dunia 1970.

Tantangan itu dijawab Sivori dengan berbagai pertaruhan. Lewat bantuan mantan rekan setimnya, Humberto Maschio, Sivori menyusun menu latihan baru yang lebih variatif dan intens.

Kemudian terobosan lain Sivori adalah memecah skuatnya menjadi dua kelompok, Tim A dan Tim B yang punya menu dan cara latihan berbeda.

Tim A berisi pemain-pemain bintang Argentina dan disiapkan Sivori dalam pemusatan latihan di Spanyol. Sedangkan Tim B--belakangan dijuluki sebagai Tim Hantu--berisi pemain-pemain kelas dua dan dilatih secara terpisah oleh asisten pelatih Miguel Ignomirelli di Tilcara dan Quaica, dua daerah 8.000 meter di atas perrmukaan laut yang terletak di Provinsi Jujuy, Bolivia.

Dari tim yang dipecah ini Sivori berharap dapat muncul skuat yang adaptif bermain di dataran tinggi maupun rendah. Dan benar saja, proses tersebut berbuah manis dalam Kualifikasi Piala Dunia 1974.

Melakoni empat partai di Grup 2, Argentina tampak seperti tim yang tak pernah berhenti kelaparan. Mereka keluar sebagai pemuncak klasemen dengan rapor tak terkalahkan, rinciannya tiga kemenangan dan sekali imbang.

Satu-satunya hasil imbang terjadi ketika mereka bermain di kandang Paraguay (1-1). Sisanya tim Tango membungkam Bolivia dua kali (4-0 dan 0-1) serta menundukkan Paraguay di Buenos Aires dengan skor 3-1.

Salah satu duel yang menunjukkan betapa ampuh pendekatan Sivori adalah pertandingan kontra Bolivia di Stadion La Paz.



Berada 2.600 meter di atas permukaan laut, La Paz kala itu masih jadi daerah dataran tinggi yang sulit ditaklukkan lawan-lawan Bolivia. Skuat bertabur bintang seperti Brazil sekalipun sulit meraih kemenangan di lokasi ini. Namun bagi Argentina asuhan Sivori, Bolivia tak lebih dari tim sepakbola biasa.

Pada laga ini Sivori sengaja hanya mengambil empat pemain dari Tim A sebagai starter, yakni Daniel Carnevali, Ruben Ayala dan Roberto Telch. Sisa tujuh nama lain adalah penggawa Tim Hantu Argentina, yakni Ruben Glaria, Marcelo Trobbiani, Ruben Galvan, Aldo Poy, Oscar Fornari, Ricardo Bochini, dan Mario Kempes.

Dengan skuat yang didominasi pemain-pemain yang akrab denggan dataran tinggi, Argentina akhirnya menang lewat lewat sebiji gol Pablo Fornari.

"Kenangan yang tak terlupakan. Ribuan kali kami membahas gol itu. Aku luput dari kawalan, dan aku berjaga-jaga di posisi itu," ujar Fornari mengenang golnya.

Sayang, menjelang putaran final Piala Dunia 1974 pesta itu terhenti. Ombak besar menerjang Tim Tango. Pemicunya, lagi-lagi adalah konflik antara Sivori dengan AFA.


Belum ada catatan jelas yang menjabarkan duduk perkara cekcok yang terjadi hanya beberapa pekan sebelum pembukaan putaran final ini. Namun satu hal yang jelas: konflik ini bikin Sivori dipecat dari jabatannya.

Tanpa Sivori di bangku pemain, Tim Tango gagal mewujudkan ambisi mereka menjadi juara dunia. Alih-alih, mereka malah tersingkir langsung di putaran kedua.

Medio 1980an perang kian panas lantaran Sivori ketahuan membujuk bintang muda Argentina dan Boca Juniors, Diego Armando Maradona untuk meninggalkan Liga Argentina dan bergabung dengan Juventus.

Jimmy Burns dalam Maradona: The Hand of God (2011) mencatat Sivori berkali-kali mendatangi rumah Maradona di Buenos Aires untuk meyakinkan bahwa "pergi ke Eropa adalah satu-satunya cara untuk meraih kesuksesan".

Burns menyebut Sivori juga mengiming-imingi Maradona dengan mimpi manis serta gaji selangit di Juventus. Padahal di sisi lain kepergian Maradona jelas bakal menurunkan daya tarik kompetisi sepakbola Argentina di mata dunia.

Bujukan Sivori pada akhirnya memang gagal, sebab pada 1982 Maradona memilih bergabung dengan rakssaa Spanyol, FC Barcelona. Namun, kegagalan itu tak mengubah apa-apa saja terkait saling benci Sivori dan AFA.

Hingga tutup usia di San Nicolas akibat kanker pankreas, 17 Februari 2005, tepat hari ini 15 tahun lalu, Sivori masih kerap dipandang sebagai musuh oleh orang-orang AFA. Namun bagi sebagian pencinta sepakbola lain, terutama fans Juventus, Sivori tetaplah seorang legenda.

Baca juga artikel terkait MOZAIK atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight