Timnas Kosovo di Antara Sepakbola dan Trauma Perang

Tim nasional Kosovo berpose untuk foto grup selama pertandingan kualifikasi grup Piala Dunia I antara Kosovo dan Kroasia di Stadion Loro Borici di Shkoder, Albania. Pengadilan Arbitrase untuk Olahraga telah menolak, Selasa, 24 Januari 2017, permohonan federasi sepakbola Serbia terhadap Kosovo yang memenangkan keanggotaan UEFA. (AP Photo/Visar Kryeziu, File)
Oleh: Faisal Irfani - 16 Oktober 2019
Dibaca Normal 6 menit
Bagaimana cara Kosovo bangkit dari kondisi pasca-perang? Dengan sepakbola.
tirto.id - Inggris diprediksi menang mudah dalam pertandingan Grup A kualifikasi Piala Eropa 2020 pada 11 September 2019 kemarin. Pasalnya, lawan yang mereka hadapi ialah Kosovo, tim gurem dari antah berantah yang tak punya riwayat mentereng di jagat sepakbola Eropa.

Namun, bola itu bulat dan segala kemungkinan bisa terjadi di lapangan. Tak dinyana, Kosovo memberikan perlawanan sengit. Determinasi para pemain sepanjang 90 menit pertandingan membuat Inggris harus mengeluarkan tenaga ekstra. Meski pada akhirnya The Three Lions menang, menang, gawang mereka mesti bobol tiga kali. Total, ada delapan gol yang tercipta di malam itu.

Kejutan tiga gol yang dihadirkan Kosovo mungkin membuat heran. Namun, hal itu jelas membuktikan bahwa Kombëtarja e futbollit të Kosovës—timnas sepakbola Kosovo dalam bahasa Albania—dapat berbicara lebih dari yang diperkirakan orang-orang.

Dan untuk mencapai titik tersebut, tentunya Kosovo melalui perjuangan yang tak mudah.


Perang dan Kemanusiaan


Membicarakan sepakbola dalam konteks Kosovo sebagai sebuah wilayah tak bisa dilepaskan dari sejarah perang yang melanda negeri tersebut pada akhir 1990-an.

Mulanya, Kosovo merupakan daerah otonomi di Yugoslavia. Keistimewaan tersebut diberikan oleh Josep Broz Tito pada 1974. Otonomi yang diterima Kosovo meliputi urusan legislatif dan kehakiman. Akan tetapi, situasi berubah manakala Tito meninggal dan tampuk kekuasaan pindah ke Slobodan Milosevic.

Dengan jargon ultra-nasionalisme, rezim Milosevic berupaya keras menghilangkan status otonomi Kosovo. Tak jarang, Milosevic memakai pendekatan yang cenderung represif sehingga membuat masyarakat Kosovo tak lagi bebas menikmati hak-haknya.

Di saat bersamaan, sikap rezim Milosevic mendorong lahirnya gerakan perlawanan. Salah satu yang terkenal yakni Tentara Pembebasan Kosovo (KLA) yang muncul pada 1996. Tuntutan KLA jelas: ingin memerdekakan Kosovo menjadi negara yang berdaulat penuh. Upaya ini tak banyak didukung oleh dunia internasional.

Keinginan Kosovo untuk merdeka didasari dua keadaan. Pertama, mayoritas penduduk Kosovo adalah keturunan Albania. Bahasa nasional mereka pun menggunakan bahasa Albania. Kedua, sebagian besar penduduk di Kosovo memeluk Islam, alih-alih Katolik atau Kristen Ortodoks.

Oleh Milosevic, KLA dianggap sebagai ancaman dan maka dari itu harus dimusnahkan. Situasi ini membikin Kosovo membara. Pada 1998, perang meletus dan menyebabkan belasan ribu orang tewas dan ratusan ribu lainnya—sekitar 90 persen populasi—mengungsi ke negara lain, menjadikannya sebagai krisis humaniter terparah pasca-Perang Dunia II.

Berbagai upaya perdamaian dilakukan, melibatkan NATO, AS, sampai PBB. Sayang, meja perundingan tak membuahkan hasil. Akhirnya, pada Maret 1999, NATO meluncurkan serangan udara di seluruh Yugoslavia. Serangan ini memukul mundur pasukan Yugoslavia. Tak hanya itu, berselang beberapa bulan, Milosevic turun takhta. Dengan cap “penjahat perang” yang menempel di tubuhnya.

Berakhirnya konflik membuka pintu harapan bagi Kosovo, yang setelah perang berkobar ditempatkan di bawah administrasi internasional. Satu dekade kemudian, tepatnya pada 17 Februari 2008, negara ini menyatakan kemerdekaannya, walaupun ditentang oleh negara-negara satu kawasan seperti Serbia.


Ditekan Sebelum Akhirnya Berkembang


Sepakbola di Kosovo bergerak dalam senyap di antara ruang-ruang konflik. Saat Milosevic berkuasa, dan getol melanggengkan kekuasaannya dengan cara-cara kekerasan, sepakbola jadi barang yang dilarang oleh rezim.

Laporan BBC menyebut bahwa pada masa itu, pertandingan bola di Kosovo digelar di lokasi terpencil—umumnya pedesaan. Fans masing-masing klub akan berkumpul di lereng bukit untuk menonton. Namun, perjalanan ke situ tak pernah mudah. Mereka harus melewati pos pemeriksaan yang diisi para tentara.

Bila tentara maupun polisi mendapati mereka hendak pergi menonton bola, ditahan selama berjam-jam tanpa kepastian jadi konsekuensinya. Tak cuma menahan penonton, aparat juga tak ragu membubarkan pertandingan maupun menangkapi pemain serta pengurus klub.

“Aku melihat seorang rekan satu tim diseret sewaktu pertandingan. Kami menunggu selama tiga jam. Setelah dibebaskan, wajahnya memar akibat dipukuli,” ungkap Kushtrim Munishi, mantan penyerang klub papan atas Kosovo, FC Pristina.

Keadaan bertambah buruk tatkala perang meletus pada 1998-1999. Kondisi yang chaos—orang-orang mati, stadion hancur, klub bubar—membuat sepakbola di Kosovo seperti tak punya masa depan.

Usai konflik, keadaan tak jua membaik. Tak lama setelah mendeklarasikan kemerdekaan, seperti ditulis James Montague dalam "The Dawn of Kosovo’s Football Nation" yang terbit di Bleacher Report (2016), Kosovo mengajukan keanggotan ke FIFA. Tapi, proposal tersebut ditolak berkali-kali.

Pihak yang paling vokal menentang proposal keanggotaan Kosovo tak lain dan tak bukan ialah Serbia. Menurut mereka, status Kosovo bukanlah negara. Menyetujui proposal Kosovo sama saja membuka kemungkinan munculnya konflik yang baru.

Tak diakuinya timnas Kosovo di mata internasional, mau tak mau, membuat perkembangan sepakbola negara ini jalan di tempat. Pembangunan infrastruktur, pengembangan akademi pemain muda, maupun penyelenggaraan kompetisi di tingkat lokal sama sekali tak ada gaungnya.

Perlahan, kegigihan Kosovo mendatangkan hasil. Pada 2014, lapor The Guardian, mereka diperbolehkan FIFA untuk mengadakan pertandingan persahabatan melawan Haiti. Syaratnya: tak boleh ada simbol tim nasional, bendera, sampai lagu kebangsaan.

Kendati hanya pertandingan persahabatan, dengan lawan sekelas Haiti pula, tiket tetap terjual habis hanya dalam waktu empat jam. Stadion sesak oleh penonton.

Ironisnya, beberapa jam sebelum kick-off, susunan pemain Kosovo masih belum lengkap. Mereka menunggu konfirmasi dari FIFA untuk memakai jasa pemain—keturunan Kosovo—yang terdaftar di negara lain. Izin akhirnya keluar dan Kosovo dapat melangsungkan pertandingan dengan jumlah pemain yang layak.

Dua tahun berikutnya, impian besar Kosovo terwujud. Seperti diwartakan Reuters, UEFA resmi menerima Kosovo masuk dalam keanggotaannya—menjadi anggota ke-55. Sebanyak 28 anggota—jumlah minimum yang diperlukan—memberikan suara mereka untuk Kosovo dan 24 lainnya menolak dalam satu sidang yang berlangsung panjang dan cukup panas.

“Akhirnya, kami memiliki [tim olahraga] negara kami sendiri. Mimpi itu menjadi kenyataan. Kami punya tim nasional yang dapat bermain di [level] internasional,” terang Presiden Kosovo, Hashim Thaci, kepada CNN. “Tim adalah simbol negara kita. Mewakili identitas kita, bendera kita, dan lagu kebangsaan kita. Itu adalah sumber kebanggaan. Itu membuatku bangga menjadi orang Kosovo.”

Setelah UEFA, masih di tahun yang sama, Kosovo diterima pula oleh FIFA. Ini membuat mereka berhak mengikuti kualifikasi Piala Dunia 2018—untuk kali pertama sepanjang sejarah—di Rusia.

Namun demikian, perjalanan Kosovo di kompetisi itu tak berakhir mulus. Di bawah asuhan Albert Bunjaki, pelatih timnas sejak 2009, Kosovo kalah sembilan kali dan hanya sekali imbang dalam sepuluh pertandingan.

Secara umum, kebangkitan Kosovo tak lepas dari kontribusi Fadil Vokrri, mantan presiden asosiasi sepakbola negara tersebut. Ia adalah salah satu orang yang begitu meyakini bahwa sepakbola merupakan cara terbaik untuk mewujudkan rekonstruksi Kosovo pasca-perang.

Meletusnya perang membuat Vokrri pindah ke Perancis. Lima tahun usai konflik berakhir, ia kembali ke Kosovo dan duduk di kursi nomor satu asosiasi sepakbola Kosovo.

Pekerjaannya bisa dibilang tak mudah. Sebagaimana dicatat BBC, Vokrri memulai semuanya dari nol. Kantornya yang terletak di Pristina, misalnya, hanya terdiri dari dua meja dan dua komputer. Ia tak punya banyak staf, juga tanpa anggaran operasional.

Namun demikian, Vokrri tak patah arang. Bersama Errol Salihu, yang menjabat sekretaris jenderal asosiasi, ia bergerilya mencari dukungan untuk Kosovo sekaligus meyakinkan orang-orang bahwa sepakbola di Kosovo belumlah mati.

“Ayahku tak pernah membuat deklarasi politik dalam hidupnya dan hanya berfokus pada sepakbola. Sepakbola, untuknya, lebih tinggi dari segalanya. Itu visinya,” kata Gramoz, putra tertua Vokrri. “Itulah yang memungkinkan Kosovo bisa masuk UEFA dan FIFA.”

Cita-cita Kosovo agar diakui internasional sukses dituntaskan ketika mereka diterima UEFA dan FIFA. Publik pun menyambutnya dengan gegap gempita. Tapi, kabar gembira tersebut cepat berubah jadi duka yang mendalam selepas Vokrri meninggal dunia pada 2018.

“Berkali-kali aku menangis dan mencoba menyembunyikannya,” ujar Salihu, kepada ESPN, menanggapi kepergian mendadak sang presiden bola.

Untuk mengenang jasanya, nama Vokrri diabadikan menjadi nama stadion markas FC Prishtina, salah satu klub sepakbola terbesar di Kosovo.


Asa Baru


Selepas resmi masuk keanggotaan UEFA dan FIFA, Kosovo mulai berbenah. Mengucurnya bantuan dari dua institusi tersebut membuat Kosovo lebih leluasa memperbaiki kondisi sepakbola mereka.

Hal pertama yang dikerjakan adalah infrastruktur, dalam hal ini stadion. Kecamuk perang telah menyebabkan fasilitas sepakbola di Kosovo tak layak guna. Selama bertahun-tahun, ambil contoh, mengutip pemberitaan Balkan Insight, timnas Kosovo harus menggelar pertandingan kandang di Shkodra, Albania, sebab stadion mereka tak lolos kualifikasi standar dari FIFA.

Pada 2018, Kosovo merenovasi stadion Fadil-Vokrri di Pristina. Renovasi itu menyusul pembangunan enam lapangan buatan di tujuh wilayah yang telah dilakukan sejak 2016. Beberapa bulan setelahnya, pemerintah Kosovo mengumumkan bakal mendirikan stadion nasional baru berkapasitas 30 ribu penonton yang rencananya selesai serta diresmikan dalam dua sampai tiga tahun mendatang.

Pembangunan fasilitas sepakbola ini ditujukan untuk mendukung pengembangan para pemain lokal yang jumlahnya meningkat dari tahun ke tahun.

“Semakin banyak pemain yang bergabung dengan tim [usia] muda kami setiap tahun. Pada 2014, kami hanya punya 150 pemain. Sekarang, kami punya lebih dari 300,” jelas Arton Hajdari, Direktur Pusat Pengembangan Pemain Usia Muda di KF Feronikeli, klub dari kota Drenas. “Kami harus membangun lebih banyak lapangan agar bisa mengakomodasi semua orang.”

Selain fasilitas, Kosovo juga membangun sistem kepelatihan yang kompeten. Tugas ini dijalankan oleh Michael Nees, Direktur Teknis FFK—PSSI-nya Kosovo—asal Jerman. Dengan dukungan UEFA, Nees akan membantu para pelatih lokal untuk memperoleh lisensi dari UEFA. Targetnya: meningkatkan jumlah pelatih di Kosovo sampai bisa menembus angka 500 pada 2021.

“Kami memiliki banyak pemain muda yang berbakat,” ucap Sanije Krasniqi, Direktur Akademi Pemain Muda FFK. “Tapi, sebagian besar, tergantung pada para pelatih untuk membantu mereka melangkah jauh dalam permainan. Jika kita melakukan pekerjaan [ini] dengan benar, masa depan akan sangat cerah.”

Hasilnya, sedikit demi sedikit, mulai kelihatan. Timnas Kosovo sekarang tak lagi jadi lelucon seperti saat kualifikasi Piala Dunia 2018 silam, melainkan telah menjadi kesebelasan yang penuh determinasi dan gairah bermain yang tinggi.

Di bawah komando Bernard Challandes, pelatih asal Swiss yang ditunjuk pada Maret 2018, timnas Kosovo menorehkan pencapaian yang istimewa: hanya sekali kalah dalam 13 pertandingan terakhir sejak awal September 2018. Ini sudah termasuk rekor empat kali menang, dua kali imbang, dan tanpa tersentuh kekalahan di pertandingan grup D UEFA Nations League.

Satu-satunya kekalahan yang mereka derita adalah ketika melawan Inggris dan hal itu tak menutup pintu untuk mimpi yang mungkin tak pernah terbayang sebelumnya: bermain di Piala Eropa.

Saat ini, mereka berada di posisi ketiga grup A dengan total 10 poin dari total lima pertandingan. Jika mereka bisa menjaga ritme di tiga pertandingan terakhir, pintu ke Piala Eropa 2020 akan terbuka lebar, sekalipun lewat jalur play-off.



“Mimpi itu terus berjalan,” kata kapten sekaligus penjaga gawang timnas, Samir Ujkani, kepada The Guardian. “Jika kami dapat membuat [lolos dari kualifikasi] jadi kenyataan, maka itu adalah hal yang luar biasa. Tapi, yang utama adalah bahwa kami adalah tim yang terus ingin tumbuh dan membuat masa depan yang indah untuk negara kami,” tambahnya.

Timnas Kosovo diisi talenta-talenta muda. Hanya ada dua pemain dalam daftar tim yang berusia 30 tahun ke atas. Di lini belakang, ada Fidan Aliti (26), Amir Rrahmani (25), serta Megrim Vojvoda (24). Sementara lini tengah ditopang para pemain macam Milot Rashica (23) dan Arber Zeneli (24 tahun). Masing-masing mencetak dua dan empat gol. Untuk tugas menjebol gawang lawan, Kosovo punya Vedat Muriqi (25), penyerang asal Fenerbahce yang sejauh ini telah mencetak lima buah gol.

Hampir mayoritas pemain yang ada sekarang tumbuh dari keluarga diaspora, yang tinggal di berbagai negara di Eropa seperti Swiss, Albania, hingga Norwegia, ketika konflik meletus. Kendati begitu, mereka dipersatukan satu tujuan: mengangkat kehormatan Kosovo sebagai sebuah bangsa yang pernah dilanda konflik kelam.

“Hampir 90 persen dari mereka [pemain timnas] lahir di luar Kosovo. Tapi, Kosovo adalah tanah air orangtua mereka. Dan mereka bermain di timnas dengan keseriusan maupun patriotisme yang tinggi,” ujar Agim Ademi, Presiden KFF. “Mereka menyadari bahwa Kosovo adalah rumah mereka dan mereka akan memberikan segalanya untuk itu.”

Konflik yang meninggalkan darah, kehilangan, dan duka berkepanjangan merupakan trauma yang tak akan pernah hilang dari benak masyarakat Kosovo. Dengan sepakbola, mereka sedang berusaha mengikis trauma itu.

Baca juga artikel terkait SEPAKBOLA EROPA atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Politik)

Penulis: Faisal Irfani
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight