Tim KKPKC Kevikepan Ungkap Fakta Lain Soal Insiden Pemotongan Salib

Oleh: Irwan Syambudi - 20 Desember 2018
Dibaca Normal 1 menit
Sebelum insiden pemotongan nisan salib di makam Albertus Slamet Sugihardi, pernah terjadi dua kali aksi intoleran pada keluarga almarhum.
tirto.id - Tim Komisi Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (KKPKC) Kevikepan Yogyakarta menyebut sebelum ada insiden pemotongan nisan salib di makam Albertus Slamet Sugihardi, telah terjadi dua kali aksi intoleran pada keluarga almarhum.

Ketua KKPKC Kevikepan Yogyakarta Agus Sumaryanto mengatakan telah menerjunkan tim pencari fakta setelah insiden pemotongan nisan salib di Kelurahan Purbayan, Kotagede, Yogyakarta itu. Pihaknya menemui keluarga almarhum untuk meminta keterangan.

"Menurut cerita dari keluarga almarhum sekitar dua tahun yang lalu, waktu itu bulan puasa, tahu-tahu disuruh membubarkan koor. Menurut keterangan yang masuk [rumah] itu membawa pedang dan pentungan, semua yang ada di situ seperti patung, salib, meja, apapun di dalam rumah itu dipukul dirusak," kata dia, Rabu (19/12/2018) malam.

Kejadian itu, jelas Agus, berlanjut pada waktu berikutnya ketika di rumah keluarga almarhum sedang ada doa adven. Mereka diminta untuk membubarkan doa.


"Bu Slamet [istri almarhum] dipanggil ketua RT diberitahu bahwa anak-anak [massa] di luar sudah siap, sehingga doa harus dibubarkan," katanya.

Saat itu juga, Bu Slamet pulang dan meminta agar doa berhenti. Semuanya bubar kemudian lampu rumah dimatikan.

"Pak Slamet dan Bu Slamet itu berada di dekat pintu melihat keluar anak-anak [massa] membawa jerigen. Menurut keterangan Pak RT mau membakar rumah kalau tidak berhenti [berdoa]," ungkap Agus.

Menurut Agus, aksi intimidasi yang menjurus pada tindak kekerasan itu dilakukan oleh kelompok tertentu yang menggerakkan massa dari luar untuk melakukan aksi tersebut.

Untuk menguatkan kesaksiannya, Agus juga telah meminta keterangan
dari jemaat lain yang berada di lingkungan tersebut. Dan hasilnya memang terdapat kelompok tertentu yang melakukan aksi intoleran.

Sedangkan untuk warga sekitar, kata Agus, malah cenderung menerima keluarga almarhum dengan baik.

"Masyarakat sekitar dengan [almarhum] Pak Slamet bagus. [Pak Slamet] pernah membawa koor juara di tingkat kecamatan. Bu Slamet Ketua kelompok Dasawisma. Ini semua sudah terjadi bertahun-tahun," tuturnya.

Sementara itu, menyikapi temuan di lapangan, pihaknya akan melakukan sejumlah langkah. Pertama akan melakukan pendampingan terhadap keluarga.

Kedua, meminta aparat keamanan untuk bersungguh-sungguh melakukan perlindungan.

"Aparat keamanan harus bisa melindungi warga masyarakatnya. Polisi mesti melindungi mereka," ucap dia.

Lebih lanjut dalam keterangan tertulis, pihaknya juga meminta aparat keamanan menyikapi secara serius adanya ancaman terhadap ketertiban dan keamanan masyarakat. Khususnya untuk menyikapi adanya ancaman yang telah diterima oleh keluarga almarhum.


Baca juga artikel terkait KASUS INTOLERANSI atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Dewi Adhitya S. Koesno
DarkLight