Menuju konten utama

Tidak Membuang Sampah ke Sungai Kunci Utama Revitalisasi Citarum

Revitalisasi sungai Citarum dapat dilakukan dengan perubahan perilaku masyarakat untuk tidak membuang sampah di sungai.

Tidak Membuang Sampah ke Sungai Kunci Utama Revitalisasi Citarum
Harod Novandi dari Sekretariat Revolusi Mental Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menjelaskan revitalisasi DAS Citarum di Bandung, Jawa Barat. FOTO/Dok. revolusimental.go.id

tirto.id - Perubahan perilaku tidak membuang sampah di sungai dapat berkontribusi signifikan terhadap upaya revitalisasi Sungai Citarum. Hal ini akan berdampak positif bagi kelestarian Citarum.

Pernyataan itu disampaikan Riki Waskito Relawan Jaga Balai dari Majalaya pada acara Workshop Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas Masyarakat di Bandung, Jawa Barat--sebagaimana keterangan pers yang diterima Tirto, Selasa (4/9/2018).

Riki menjelaskan upaya perubahan perilaku tersebut terus didorong Yayasan Jaga Balai agar sungai Citarum kembali kepada fungsi alamiahnya dan dapat berdampak positif bagi warga. Bencana alam seperti banjir bandang yang disebabkan oleh rusaknya DAS Citarum dapat diminimalisasi bahkan dihindari apabila warga secara serius memelihara alam.

“Secara sederhana, jika kita membuang sampah ke selokan maka sampah tersebut akan berakhir di sungai dan jika jumlahnya banyak, maka potensi banjir bandang akan semakin tinggi. Hal inilah yang harus diubah” ungkap Riki.

Yayasan Jaga Balai juga melakukan aksi nyata lainnya yang terkait dengan deteksi dini bencana banjir bandang. Dengan adanya deteksi dini ini, maka potensi kerusakan dan korban jiwa yang disebabkan oleh banjir bandang dapat diminimalisasi.

“Kami fokus dalam kegiatan pemantauan cuaca, analisa dari berbagai tanda-tanda alam yang berpotensi terhadap terjadinya banjir bandang karena Majalaya memiliki karakter banjir bandang yang berbeda dengan yang ada di Kecamatan Baleendah, Dayeuh kolot dan Bojongsoang. Karakter banjir bandang ini lebih destruktif” papar Riki.

Bersih-bersih DAS Citarum Bagian Revolusi Mental

Di acara yang sama, Suryani anggota PKK dari Kecamatan Baleendah menjelaskan bahwa upaya bersih-bersih DAS Citarum merupakan cerminan dari Gerakan Nasional Revolusi Mental khususnya terkait dengan nilai gotong royong.

“Kita rutin melakukan kegiatan bersih-bersih di sekitar DAS Citarum bergotong royong dengan warga dari berbagai kecamatan lainnya sehingga upaya ini dapat jauh lebih efektif apalagi sekarang sudah ada bank sampah” jelas Suryani.

Suryani meminta agar pemerintah provinsi maupun pusat memberikan dukungan sepenuhnya terhadap upaya komunitas PKK Kecamatan Baleendah dalam merivitalisasi DAS Citarum. “Warga di sekitar DAS Citarum siap untuk di relokasi dan kami juga siap mendukung apabila akan dilakukan pengerukan” ungkap Suryani.

Harod Novandi dari Sekretariat Revolusi Mental Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menjelaskan dalam mendorong semangat masyarakat merevitalisasi DAS Citarum, maka Kemenko PMK mengadakan lomba sharing foto kegiatan melalui media sosial.

“Lomba ini bertujuan untuk memviralkan kegiatan-kegiatan yang ada di masyarakat sekitar DAS Citarum yang terkait dengan Gerakan Indonesia Bersih sehingga dapat mempengaruhi masyarakat lainnya dan memberikan contoh bahwa kegiatan di DAS Citarum berjalan nampak perubahannya” jelas Harod.

Melalui lomba ini, Kemenko PMK berharap aksi nyata revitalisasi DAS Citarum seperti buang sampah dapat menular ke seluruh masyarakat. “Sehingga semangat menjaga kebersihan DAS Citarum dan implementasi Gerakan Indonesia Bersih dapat diwujudkan dan dampak positifnya dapat dirasakan oleh seluruh warga” pungkas Harod.

Baca juga artikel terkait SUNGAI CITARUM atau tulisan lainnya dari Agung DH

tirto.id - Sosial budaya
Penulis: Agung DH
Editor: Agung DH