Misbar

The Sea Beast Bukan Sekadar Aksi Perburuan Monster Laut

Penulis: R. A. Benjamin - 30 Jul 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
The Sea Beast menyuguhkan konsep cerita klasik dengan pendekatan lebih segar. Ada musuh yang lebih mengerikan ketimbang monster laut.
tirto.id - Sejak novel Moby-Dick dirilis pada 1851, berderet karya telah meminjam tema pembalasan Kapten Ahab terhadap seekor paus darinya. Tak sedikit pula film yang mengadaptasi langsung magnum opus rekaan Herman Malville itu.

Dari 1930-an sampai kini, setidaknya ada lima film berjudul Moby Dick. Pengaruh kisah itu sendiri terus bertahan dan bisa ditemukan sampai dekade terakhir pada judul-judul seperti In the Heart of the Sea (2015) dan Beyond White Space (2018). Yang terkini, ia hadir dalam The Sea Beast (2022) produksi Netflix Animation dan Sony Pictures Imageworks.

Berjudul sama dengan film bisu rilisan 1926 yang juga berangkat dari kisah rekaan Malville, The Sea Beast yang ini hadir dengan wujud berbeda dalam medium film animasi. Sempat dijuduli Jacob and The Sea Beast, film ini akhirnya menggunakan judul yang lebih pendek—barangkali seiring cerita yang tak hanya berfokus pada karakter Jacob.

Dilihat sepintas dari desain karakter dan gaya animasinya, The Sea Beast memang tampak bagai film-film animasi keluaran Disney. Bagaimanapun, sutradara sekaligus co-writer Chris Williams kerap terlibat dalam film-film animasi Walt Disney, termasuk menyutradarai film-film animasi beken studio itu seperti Bolt, Big Hero 6, dan Moana.

Dengan tema yang sudah cukup sering direplikasi, kalau bukan kelewat sering, bagaimana Williams (dan co-writer Nell Benjamin) menyajikan kisah Moby Dick versi mereka?

Tema Dewasa untuk Anak-anak

The Sea Beast mengambil latar waktu pada abad ke-17 atau ke-18 di kerajaan fiktif Three Bridges—yang mengambil karakteristik Kerajaan Inggris. Ini adalah masa ketika perburuan monster laut besar-besaran dilakukan. Motifnya? Selama ratusan tahun, para makhluk laut raksasa dianggap mendatangkan malapetaka bagi warga kerajaan. Setidaknya demikianlah yang tertulis dalam buku-buku sejarah yang dipublikasikan oleh kerajaan.

Maisie Brumble (Zaris Angel-Hator) adalah anak yatim piatu yang gemar membacakan kisah para pemburu monster untuk anak-anak penghuni panti asuhan. Sebagian penghuni panti asuhan itu tak lain adalah anak-anak yang orang tuanya tewas dalam pertempuran kontra monster laut. Pihak kerajaan sendiri kampanyekan itu sebagai “great death” (kematian terhormat).

Dalam buku-buku yang dibaca Maisie, terdapat kisah kepahlawanan para sosok pemburu seperti kru kapal Inevitable yang diperkuat Kapten Crow (Jared Harris), First Mate Sarah Sharpe (Marianne Jean-Baptiste), dan anak angkat sekaligus calon suksesor sang kapten Jacob Holland (Karl Urban). Para kru andal nan setia ini senantiasa mengikuti langkah-langkah Kapten Crow yang berbagi kesamaan dengan Kapten Ahab dalam soal obsesi terhadap salah satu monster berjuluk Red Bluster.

Para kru Inevitable digambarkan menyerupai kru kapal bajak laut—sama-sama diromantisasi dengan klise seperti mengenakan penutup mata atau kaki kayu. Di kapal yang sama, bisa ditemukan juga awak perempuan berambut merah di posisi penting yang mengingatkan pada sosok Anne Bonny. Ini menjadi salah satu hal paling menarik dalam The Sea Beast yang memang banyak mengambil referensi dari zaman Keemasan Perompakan.


Ada pula korps Royal Navy yang menjadi saingan para pemburu monster laut. Kau dengan mudah bisa mengasosiasikannya dengan Angkatan Laut Kerajaan Inggris yang kerap bertempur dengan para perompak di abad ke-17.

Pemimpin armadanya bernama Admiral Hornagold yang namanya sangat mungkin dipelesetkan dari nama salah satu pendiri Republik Bajak Laut di Karibia, Benjamin Hornigold. Begitu pula momen ketika para pemburu hendak diputuskan kontraknya oleh kerajaan, yang menyerupai awal mula kisah para privateers berlayar sebagai perompak.


The Sea Beast dimulai dengan cepat. Tak butuh waktu lama, kita bakal langsung disuguhkan pada aksi pertarungan hebat para pemburu melawan monster laut. Ada kapten yang menghabiskan 30 tahun hidupnya mengejar Red Bluster, tapi juga tak melupakan hunter code dan menolong kelompok pemburu lain menghadapi Brickleback—monster mirip caiman bercula yang berukuran masif dan bertentakel dengan kulit macam crustacean.

Kisah pengejaran leviathan ini menyajikan ketengangan konstan sampai Maisie menyelinap ke cerita. Lalu muncullah Red Bluster, si monster yang tampaknya paling ditakuti di seluruh lautan. Namun, ketimbang Brickleback, monter berjuluknature's darkest design" ini malah lebih mengingatkan pada naga-naga dalam seri How to Train Your Dragon yang menggemaskan. Belum lagi bayi-bayi monster seperti Blue yang menyerupai axolotl bermata besar dan bayi-bayi monster kuning berwujud gabungan walrus dan makaroni.


Dengan kehadiran makhluk-makhluk yang didesain sedemikian rupa, penonton serta-merta dapat mengantisipasi kisah yang lebih cerah. Kemunculan mereka tak hanya mengubah tone film, tapi juga menyiratkan ending yang optimis.

Satu pertanyaan tersisa: apa motif Red menyelamatkan Maisie dan Jacob dari pistol Kapten Crow? Bagian krusial itu tak pernah terjawab. Selain untuk mendorong haluan cerita ke arah berbeda, jawabannya bisa jadi karena Red (atau monster laut pada umumnya) melihat anak-anak sebagai sosok yang bisa dipercaya dan mampu berkomunikasi dengan mereka.

"Mungkin kau bisa menjadi pahlawan, tapi tetap keliru," ujar Maisie ketika menyadari—juga meragukan—kebenaran hikayat perburuan bikinan kerajaan. Di titik itu, pertanyaan besar dimunculkan: mengapa manusia dan monster laut bertarung dan siapa yang memulai perseteruan itu.

Itulah bagian terbaik film dari film ini, Maisie dan Jacob yang akhirnya memeriksa ulang narasi yang selama ini dipercayai kaumnya. Maisie menyenggol propaganda rekaan kerajaan, mempertanyakan isi buku usang, sekalian menyangsikan kisah yang telah menjadi tradisi dan diimani orang dewasa itu.

Katakanlah, magis yang tersisa dalam diri anak-anak membuat Maisie dapat memahami sang monster. Namun, sepertinya ada kemampuan dia yang lebih hebat lagi, yakni berpegang pada nurani dan kemampuan berpikir kritis yang bahkan melebihi orang-orang dewasa. Sebagai yatim piatu "korban" dari keganasan monster laut, dia tetap mampu berargumen bahwa manusia selama ini bisa saja salah paham soal monster—yang sejatinya hanya ingin hidup tenang di laut dan daratan tak berpenghuni.

Infografik The Sea Beast
Infografik The Sea Beast. tirto.id/Fuad


Menantang Propaganda Busuk

Harpun, tombak, dan panah dilayangkan ke arah monster laut, sementara kapal pemburu terombang-ambing liar terempas gerakan monster. Semuanya ditampilkan dalam visual memukau, juga diiringi alunan komposisi megah, musik Celtic hingga sea shanty gubahan Mark Mancina menambah tinggi tensi pertempuran laut.


Pertempuran terakhir antara monster dan manusia sendiri tak begitu menegangkan. Kapal Royal Navy dengan cepat dihancurkan sang monster dan kontes berburu monster berlangsung kurang sengit akibat canggihnya senjata baru Kapten Crow.

Namun, kekuranganseruan itu bisa dimaklumi lantaran ada musuh lebih besar yang telah menanti. Musuh itu tak berwujud, tapi bersemayam di kepala orang-orang selama ratusan tahun. Pada akhirnya, The Sea Beast lebih dari perkara adu kuat monster laut dan manusia.

Film animasi ini juga membawa beberapa pesan kemajuan. Kru Inevitable, misalnya, menampilkan keberagaman mencolok dengan hadirnya berbagai warna kulit dan perempuan-perempuan tangguh dengan posisi tinggi dalam hierarki kapal—kendati itu bukan hal langka dalam kapal bajak laut.

Apa yang lebih fantastis ketimbang monster laut raksasa yang bisa memahami instruksi manusia? Salah satu jawabannya: orang-orang dewasa yang mendengar dan menyepakati perkataan anak kecil. Kita tahu peluang hal itu terjadi tak begitu besar di dunia nyata.

Di lain sisi, aspek-aspek fantastis itu menceklis kriteria kisah anak-anak yang tak sekadar penuh harapan, tapi juga menghadirkan karakter yang kritis pula logis.

The Sea Beast cukup menyegarkan kendati berangkat dari kisah lama yang telah berulang kali digunakan. Ia tak benar-benar orisinal, tapi peleburan pengaruh yang diserapnya ditampilkan dengan memikat. Karenanya, The Sea Beast cukup berhasil menambah panjang daftar animasi solid produksi Netflix. Meski belum bisa dijajarkan dengan Klaus (2019) yang sejauh ini menjadi judul animasi terbaik Netflix, ia tetap berpotensi masuk dalam daftar film animasi terbaik tahun ini.

Baca juga artikel terkait FILM ANIMASI atau tulisan menarik lainnya R. A. Benjamin
(tirto.id - Film)

Penulis: R. A. Benjamin
Editor: Fadrik Aziz Firdausi

DarkLight