The Post: Film Pembungkaman Pers AS Era 70-an Relevan di Masa Trump

Oleh: Maya Saputri - 9 Desember 2017
Dibaca Normal 1 menit
Berlatar kisah dunia jurnalistik, film yang menyatukan Spielberg, Meryl Streep dan Tom Hanks untuk pertama kalinya ini dipuji oleh beberapa kritikus.
tirto.id - The Post adalah film drama sejarah Amerika yang disutradarai dan diproduksi oleh Steven Spielberg dari naskah drama besutan Liz Hannah dan Josh Singer. Film ini dijadwalkan untuk rilis terbatas di Amerika Serikat pada tanggal 22 Desember 2017, sebelum tayang di semua bioskop di luar AS pada 12 Januari 2018.

Berlatar kisah dunia jurnalistik, film yang menyatukan Spielberg, Meryl Streep dan Tom Hanks untuk pertama kalinya ini dipuji oleh beberapa kritikus.

The Post mendapat ulasan yang sangat positif, dengan pujian khusus untuk akting Streep, Hanks dan Odenkirk serta kritikus yang mencatat perbandingan film ini dari kebijakan kebebasan pers semasa Richard Nixon dan Donald Trump. Selain itu, film ini terpilih National Board of Review sebagai film terbaik tahun 2017.

"Jika saya tidak bisa melakukannya tahun ini, saya tidak membuatnya," kata Spielberg, seperti dilansir dari Independent.

Kisah film mengambil setting awal tahun 1970-an yang menggambarkan jurnalis dari The Washington Post dan The New York Times yang menerbitkan pemberitaan terkait dokumen-dokumen rahasia dari "Pentagon Papers" mengenai keterlibatan pemerintah Amerika Serikat selama Perang Vietnam.

Tom Hanks (Ben Bradlee), editor Washington Post yang dikenal suka tantangan namun tak suka omong kosong beradu peran dengan Meryl Streep (Kay Graham) penerbit surat kabar yang cerdas tapi meragukan diri sendiri. Keduanya terlibat dalam pengambilan keputusan untuk merilis laporan soal Pentagon Papers yang berisi rahasia negara soal Perang Vietnam selama tiga dekade di masa Presiden Richard Nixon dan periode sebelumya. Bahkan hakim federal AS berupaya menghalangi usaha The New York Times untuk menerbitkan naskah pemberitaan itu.

Kisah tentang kerja jurnalistik yang dibungkam ini masih relevan untuk diangkat kembali, begitu diungkapkan penulis cerita The Post, Liz Hannah.

"Tidak masalah bahwa pada tahun 1971 [wartawan] tidak memiliki telepon seluler, Anda masih berurusan dengan pengkhianatan, etika Anda sendiri, gagasan Anda sendiri tentang diri Anda sendiri," kata Hannah saat diwawancarai Vanity Fair.

Konteks peristiwa soal pembungkaman pers ini relevan diangkat mengingat saat pemerintahan Presiden AS Donald Trump juga masih mengalami tantangan yang sama. Trump sempat mengancam akan mencabut izin siaran beberapa media yang berseberangan dengannya, termasuk NBC, yang bahkan pernah melambungkan namanya lewat The Apprentice.

Kesamaan inilah yang membantu naskah Hannah terjual bahkan disutradarai oleh Steven Spielberg dan dibintangi aktor dan aktris kawakan semacam Meryl Streep dan Tom Hanks.

Hannah, yang menulis skenario layar lebar untuk pertama kalinya, tidak tahu bahwa karyanya akan dijadikan naskah film yang awalnya menulis soal memoar Kay Graham, pemenang Pulitzer, yang bertajuk Personal History, tahun lalu.

Rekan Hannah menulis naskah The Post, Josh Singer, baru bergabung sebelum syuting film, pernah menulis sederet naskah antara lain The West Wing dan naskah film biografi Julian Assange The Fifth Estate. Naskah film Spotlight, karya kedua Singer yang membuatnya dianugerahi Oscar pada 2016. "Peran penerbit sangat rumit, karena Anda tidak seharusnya memaksakan kehendak Anda jika Anda hebat. Namun, Anda perlu berdiri di belakang reporter Anda," kata Singer.

Baca juga artikel terkait FILM HOLLYWOOD atau tulisan menarik lainnya Maya Saputri
(tirto.id - Film)

Reporter: Maya Saputri
Penulis: Maya Saputri
Editor: Maya Saputri