The Last Castle: Film Penjara Militer dengan Pesona Robert Redford

Oleh: Addi M Idhom - 26 Oktober 2020
Dibaca Normal 3 menit
Sinopsis film The Last Castle yang bisa ditonton di Mola TV: kisah tentang seorang jenderal pesakitan yang melawan kekejaman sipir penjara.
tirto.id - The Last Castle memerlihatkan gambaran senada karakter-karakter yang selama puluhan tahun lekat dengan Robert Redford. Di film garapan sutradara Rod Lurie ini, Redford tetap memerankan karakter "pemberontak" yang tidak puas dengan tatanan sistem.

Dibintangi oleh Robert Redford, James Gandolfini, Mark Ruffalo, dan Delroy Lindo, The Last Castle mengisahkan para narapidana di sebuah penjara militer yang berjuang menegakkan marwah dari hukum. Istilah "castle" sendiri di judul film ini merujuk kepada imajinasi para napi tentang penjara militer dengan pengamanan ketat yang mereka tinggali.

Dengan naskah ditulis oleh David Carpa dan Graham Yost, film rilisan 2001 tersebut menonjolkan unsur patriotisme tentara AS. Laman Box Office Mojo mencatat penayangan The Last Castle dalam 11 pekan di seluruh dunia menghasilkan USD 27,6 juta, kurang dari separuh anggaran produksinya yang menelan USD 72 juta.

Meskipun demikian, pesona Robert Redford tetap menjadikan film The Last Castle, yang kini sudah bisa ditonton di Mola TV, tayangan sinema yang menarik disaksikan.

Dalam The Last Castle, aktor gaek yang pernah masuk ke daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia versi Majalah Time itu memainkan peran sebagai seorang jenderal AS yang menjadi legenda hidup, tetapi harus menjalani hukuman di penjara dengan peraturan yang menindas para napi.


Pesona Robert Redford dalam The Last Castle

Di luar lokasi syuting, Robert Redford telah membikin lompatan besar yang membuat dirinya lantas dijuluki sebagai "bapak film indie." Dia menentang arus dengan menginisiasi Festival Film Sundace, sebuah tindakan "subversif" yang sempat dicibir banyak bos studio-studio besar Hollywood.

Melalui festival itu Redford membikin langkah kontroversial, yakni dengan mengundang para sineas muda, dengan karya-karya yang diproduksi berbekal dana minim. Sekalipun mulanya dinilai tidak menjanjikan nilai komersial, Festival Sundace faktanya membuat banyak sutradara muda berbakat dilirik oleh industri film.

Sejumlah sutradara kondang, sebut saja Steven Soderbergh, Quentin Tarantino, Kevin Smith, Paul Thomas Anderson, dan banyak lainnya, lebih mudah mendapat kesempatan usai diangkat festival ini. Kontribusi Redford untuk perkembangan film indie tersebut membuatnya diganjar penghargaan kehormatan dari Academy Awards 2002.

Sejalan dengan pemikirannya, karakter-karakter yang diperankan oleh Redford pun identik dengan sosok "pemberontak" terhadap sistem. Redford memainkan karakter seperti itu dengan apik dalam Butch Cassidy and the Sundance Kid, All All the President's Men, Three Days of the Condor, Spy Game, dan termasuk pula dalam The Last Castle.


Film bergenre drama aksi ini, melanjutkan legenda-legenda karakter Redford sebagai sosok yang ditekan, tetapi tidak pernah gemetar di depan otoritas penguasa. Dalam The Last Castle, Redford menunjukkan bagaimana seorang jenderal bintang tiga, mengalami kejatuhan, dipermalukan, dan disiksa di penjara, tetapi tak pernah benar-benar bisa ditundukkan.

Meskipun The Last Castle, dikritik terlalu berbelit menayangkan drama ketika proses sang jenderal membuat keputusan moral yang penting, film ini tidak menghilangkan pesona Redford. Dia tampil sebagai sosok tenang, dengan wibawa seorang komandan veteran perang Vietnam, yang memiliki segudang strategi perang.


Sinopsis Film The Last Castle

Dengan latar tempat penjara militer AS bernama Fort Leavenworth, The Last Castle yang sekarang sudah ada dalam koleksi film Mola TV, menggambarkan drama pemberontakan para napi terhadap kesewenang-wenangan sipir penjara. Para napi itu merupakan tentara-tentara AS yang melanggar hukum dan harus menjadi pesakitan.

Bermula dari kedatangan napi baru, jenderal bintang tiga yang legendaris, Letnan Jenderal Eugene Irwin (Robert Redford), film lantas menyodorkan polemik etis mengenai bagaimana metode untuk pendisiplinan tahanan seharusnya diterapkan.

Alkisah, Irwin harus dijebloskan ke penjara selama 10 tahun sebab membikin keputusan berakibat fatal. Irwin mengirimkan pasukan ke Burundi yang berujung pada kematian beberapa bawahannya. Akibatnya, Ia harus menghabiskan masa tuanya dalam bui.

Namun, kedatangan Irwin membuat kepala sipir penjara, Kolonel Winter (James Gandolfini) gusar. "Seharusnya nama orang ini dipakai untuk pangkalan perang, bukan dikirim ke sini," kata Winter saat truk pengangkut Irwin tiba di penjara.


Winter semula bahkan tidak kuasa menyembunyikan kekagumannya ketika bertemu legenda hidup tentara AS tersebut. Hanya karena mendengar satu penggal ucapan sinis Irwin tentang kegemaran Winter mengoleksi artefak perang, jiwa megalomaniak si kepala sipir itu bergolak.

Winter semakin cemas ketika Irwin, yang sekalipun mengaku tidak ingin membuat masalah di bui, secara alamiah memperoleh simpati dari banyak napi. Kompetisi antara dua orang beda posisi itu pun segera membakar konflik yang berujung pada kerusuhan besar di penjara.

Kebiasaan Winter menerapkan metode pendisiplinan yang menbuat para napi terancam kehilangan nyawa, membuat jiwa "pemberontak" Irwin bergolak. Winter selama ini dengan sengaja menindas para napi dengan melarang banyak hal sepele, termasuk memberikan hormat ke sesama tahanan.

Banyak hal dilakukan oleh Winter untuk menghancurkan mental Irwin. Salah satunya mewajibkan Irwin mengangkat setumpuk batu berat dan memindahkannya, selama seharian. Di luar dugaan Winter, jenderal sepuh itu mampu menjalani hukuman dan mendapatkan simpati dari para napi.

Hukuman itu dijatuhkan karena Irwin berusaha mencegah sipir memukuli Ramon Aguilar (Clifton Collins, Jr.), mantan kopral yang dianggap melakukan kesalahan karena memberi hormat kepada sang jenderal.

Dalam pikiran Winter, para napi di penjaranya harus ditekan sekeras mungkin agar mereka tidak lagi merasa sebagai tentara. Winter meyakini cara ini efektif mencegah para napi melawan sipir. Itulah mengapa Winter melarang napi melakukan salam hormat.

Semula Irwin tetap tidak ambil pusing dengan situasi penjara yang menindas banyak napi. Meski sejumlah tahanan membujuknya agar melaporkan banyak keputusan Winter yang menyebabkan beberapa napi tewas, Irwin bergeming dengan alasan ingin hidup tenang di penjara.

Titik balik akhirnya terjadi. Sebuah insiden penembakan membuat Ramon Aguilar tewas di tangan sipir. Ia ditembak dengan peluru karet tepat di kepala, hanya karena memprotes keputusan Winter merobohkan sebuah bangunan tembok setengah jadi yang dibangun para napi, juga atas perintah si kepala sipir.

Momen itu membikin Irwin bertekad membuat Winter dipecat dari posisinya. Di sisi lain, mayoritas napi sudah kehilangan kesabaran mereka. Alhasil, Irwin memimpin para napi itu menjalankan satu rencana untuk mengambilalih penjara dari penguasaan Winter.

Lama sudah tidak terjun dalam peperangan, tidak membuat ketajaman otak Irwin tumpul. Dengan dukungan para napi, dia membikin strategi yang membuat para sipir menjadi sekumpulan pasukan tak berdaya, meski memiliki keunggulan senjata.

Bagaimana keseruan film The Last Castle? Kisah selengkapnya bisa disaksikan di Mola TV.

Baca juga artikel terkait MOLA TV atau tulisan menarik lainnya Addi M Idhom
(tirto.id - )

Penulis: Addi M Idhom
Editor: Agung DH
DarkLight