The Greatest Ever: Kian Lengkap Kepingan Musik Elephant Kind

Grup musik Elephant Kind. Instagram/@elephantkind
Oleh: Faisal Irfani - 25 Maret 2019
Dibaca Normal 2 menit
The Greatest Ever semakin mengukuhkan status sebagai band yang kosmopolit.
tirto.id - Namanya Julian Day. Usianya kira-kira 23 tahun. Mungkin juga 24, atau lebih. Badannya kurus, rambutnya sedikit gondrong, dan ia terlihat lusuh, seperti tak pernah menyentuh air berminggu-minggu. Julian bukan sosok yang terbuka. Ia tertutup serta pendiam.

Karena sifatnya itulah Julian memilih banyak mengurung diri di kamar, berjalan kaki menerabas hujan dengan begitu santai tanpa takut tubuh diterjang sakit keesokan hari, hingga mematung di pojok bar yang pengap sembari menyaksikan band kesukaannya beraksi.

Makin ke sini, hari-hari Julian makin kelabu. Awan mendung seolah senantiasa menyelimuti kepalanya. Ia tertekan dan, celakanya, tak tahu ke mana harus menumpahkan segala yang mengisi ruang pikirannya. Hingga akhirnya, Julian memutuskan untuk menyudahi hidupnya, di umur yang kelewat muda. Julian tak lagi sanggup membawa beban yang berada di pundaknya.

Julian bukan sosok betulan. Ia adalah karakter fiktif ciptaan Elephant Kind, band pop asal Jakarta, yang muncul dalam dua mini album mereka, Scenarios: A Short Film by Elephant Kind (2014) dan Promenades: A Short Film by Elephant Kind (2015). Melalui sepasang karyanya tersebut, Elephant Kind merangkai cerita pendek, lewat lagu, yang saling berkaitan dengan Julian sebagai titik pusatnya.


Dengan mengangkat tema yang sampai sekarang masih dianggap tabu untuk dibahas di lingkungan sosial, tentu akan ada banyak interpretasi terhadap mini album Elephant Kind. Namun, terlepas dari pelbagai pemahaman yang bermunculan, Elephant Kind, lewat tokoh Julian beserta dinamika yang dihadapinya, sebetulnya hanya ingin memberi penghormatan kepada mereka di luar sana yang seringkali melewati masa sulit─yang berujung pada bunuh diri.

Elephant Kind hendak mendobrak batasan konservatisme yang melekat pada pikiran khalayak seraya meyakinkan kita bahwa mereka yang bunuh diri patut diberi perlakuan layak setelahnya, alih-alih dicaci maki.

“This EP is dedicated to those who took their own lives …”

Satu Kata: Kosmopolitan

Jarang ada band yang menjadikan albumnya sebagai satu konsep cerita yang utuh sebagaimana Elephant Kind. Band ini punya visi bermusik yang jelas─dan mungkin pula tak bisa ditebak.

Sejak didirikan oleh Bam Mastro pada 2013 untuk keperluan tugas akhir semasa ia mengambil studi di Western Australian Academy of Performing Arts (WAAPA), Elephant Kind berhasil memberikan warna lain dalam kancah musik independen.

Di Scenarios, ambil contoh, Elephant Kind memainkan musik-musik yang colorful; memadukan sensibilitas jangle pop ala The Byrds dengan sentuhan modern Ra Ra Riot kala meluncurkan The Rhumb Line (2008).

Corak yang sama juga dimunculkan Elephant Kind dalam mini album selanjutnya, Promenades. Ini adalah hal yang menarik. Elephant Kind membungkus tema tentang depresi dan bunuh diri dalam dua mini album tersebut dengan musik yang upbeat dan bernada mayor. Musik yang menggambarkan nyala terang harapan.

Karakter musik Elephant Kind cukup berubah signifikan saat mereka merilis debut album panjang berjudul City-J (2016), kendati ada satu-dua lagu yang tetap mempertahankan karakter yang sama layaknya dua album terdahulu. Di album ini, Elephant Kind lebih lugas dalam menyuarakan cerita. Mereka membicarakan Jakarta dari sudut pandang orang-orang yang dilindas kesepian. Ada arogansi, ada keputusasaan, ada cinta tak terbalas, dan ada pengaruh Frank Ocean. Semua dirayakan, sekali lagi, dengan gegap gempita.




Tiga tahun usai City-J, trio yang beranggotakan Bam, Kevin Septanto, dan Bayu Adisapoetra ini merilis album baru. Judulnya begitu percaya diri: The Greatest Ever. Album bersampul gambar mirip bungkus kondom itu memuat 10 lagu. Masing-masing lagu tak ubahnya representasi dari tiap lagu di album-album mereka yang lama.

The Greatest Ever dibuka dengan lagu berjudul “One.” Sepintas, lagu ini mengingatkan saya pada “Horchata” garapan Vampire Weekend yang tersimpan dalam album Contra (2010). Lalu di “Pleaser,” Elephant Kind tak mengendurkan kemeriahan pesta. Pukulan drum yang repetitif bertemu dengan teriakan vokal yang unik sekaligus kocokan gitar yang melodius.

Album terbaru Elephant Kind terdengar sekali resonansi personalnya. Baik Bam, Kevin, maupun Bayu seperti ingin mencurahkan segala kegelisahan mereka.

Dalam “Jim Halpert,” Bam menyanyi lirih dengan hanya diiringi suara synth dan piano yang tipis-tipis menyelimuti durasi lagu yang hanya satu sekian menit. Lewat lagu ini, Bam seolah hendak menanyakan kabar Jim, karakter fiksi yang diperankan John Krasinski dalam komedi situasi The Office (2005-2013), yang berada entah di mana.

Pencapaian terbaik dalam The Greatest Ever, saya pikir, patut disematkan pada lagu “Watermelon Ham.” Kombinasi antara gebukan drum yang selaras dengan bunyi efek khas Grizzly Bear, band rock asal New York, membikin lagu ini terdengar dahsyat.

Album terbaru Elephant Kind terdengar sekali resonansi personalnya. Baik Bam, Bayu, maupun Dewa seperti ingin mencurahkan segala kegelisahan mereka. Setelah tiga album banyak berkisah mengenai sisi lain dari kehidupan yang tersusun atas tragedi dan ironi, kali ini, Elephant Kind lebih melihat ke dalam pikiran mereka sendiri: apa yang ingin “kita” capai? Apa yang dapat “kita” lakukan?

Di saat bersamaan, The Greatest Ever semakin mengukuhkan status mereka sebagai band yang kosmopolit. Dengan mengambil dan memadukan pelbagai referensi musisi-musisi modern seperti Vampire Weekends, Anderson .Paak, Kanye West, maupun David Bowie di era Blackstar (2016), musikalitas mereka, tak diragukan lagi, kian bertambah berisi.

Baca juga artikel terkait ULASAN MUSIK atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Musik)

Penulis: Faisal Irfani
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight