Teror di Mesir dan Kebangkitan Tarekat Global Anti-Ekstremisme

Situasi Masjid Desa al-Rawda, Kota Bir-al Abed, Sinai Utara, Mesir usai diteror kelompok bersenjata yang diduga pendukung ISIS. FOTO/REUTERS.
Oleh: Addi M Idhom - 9 Desember 2017
Dibaca Normal 4 menit
Tekanan terhadap komunitas tarekat di Timur Tengah telah terjadi sejak awal abad ke-20. Tapi, gerakan sufisme ini mampu bertahan dan bahkan menyebar di Barat.
tirto.id - Teror paling brutal dalam sejarah Mesir modern menyasar masjid sufi di Provinsi Sinai Utara pada 24 November 2017. Saat ratusan jemaah duduk mendengar khutbah Jumat, 30 orang bersenjata datang bersama 4 mobil. Diawali ledakan bom di luar masjid, tembakan membabi-buta lalu terjadi. Serangan ini menewaskan 311 jiwa, 27 di antaranya anak-anak, dan melukai setidaknya 128 orang.

Masjid di Desa al-Rawda, Distrik Bir Al-Abed itu terletak 40 km dari al-Arish, ibu kota Sinai Utara. Tarekat berpengaruh di Sinai, al-Jaririyah al-Ahmadiyah menjadikan masjid itu basis utamanya. Pendiri al-Jaririyah ialah Syekh Eid Abu Jarir, anggota Suku Sawarka, klan penting di Sinai Utara. Aliran ini adalah cabang Tarekat al-Ahmadiyah yang didirikan tokoh sufi Mesir Syekh Ahmad al-Badawi pada abad ke-13.

Sebuah zawiyah (tempat ritual tarekat) berdiri di seberang masjid. Sejak beberapa bulan lalu, warga menutup 4 jalan menuju zawiyah dan masjid karena ada ancaman serangan dari militan Sinai. Beberapa hari sebelum teror, militan mengulangi ancaman agar penduduk al-Rawda menghentikan ritual tarekat. Serangan akhirnya muncul sepekan sebelum hari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tiba.

Belum ada yang mengaku melakukan serangan itu. Tapi, pendukung ISIS di Sinai Utara, yakni “the Province of Sinai”, diduga kuat terlibat teror tersebut. Kelompok ini semula bernama Ansar Bait al-Maqdis (ABM). Direktur The Tahrir Institute for Middle East Policy (TIMEP) Nancy Okail berpendapat, dugaan itu kuat sebab kelompok ini pernah membunuh tokoh sufi berusia 98 tahun dari tarekat al-Jaririyah, Sheikh Suleiman Abu Heraz, di Kota al-Arish pada November 2016.

Baca juga: Jalan Setapak Syekh Siti Jenar

Gerakan Sufi Transnasional Penghadang Esktremisme

Teror di al-Rawda menegaskan bahwa kelompok sufi di Timur Tengah makin rentan menjadi sasaran teroris sebagaimana komunitas non-muslim. Dalam dunia Islam, gerakan sufisme sesungguhnya memiliki akar sejarah panjang sejak abad pertengahan. Aksi kekerasan dalam banyak periode sejarah tak mudah membuat gerakan spiritual ini surut. Kebrutalan pasukan Mongol, yang pernah membuat kemegahan Baghdad menjadi abu, justru teredam di tangan para ulama sufi. Ulama-ulama tersebut berhasil mengislamkan penguasa keturunan Jengis Khan di Asia Tengah, Asia Selatan, dan Persia.

Nicolaas H. Biegman, dalam Living Sufism: Rituals in the Middle East and the Balkans (2009), menulis bahwa gerakan sufisme memiliki kualitas daya tahan luar biasa, sebab fleksibel dan mudah beradaptasi. "Meski doktrin sufi beragam, mayoritas tetap toleran," tulis Biegman.

Keragaman sufisme tampak pada banyaknya kelompok tarekat. Hasil pelembagaan sufisme, yang berakar pada ajaran Islam tradisional, ini bercirikan ketaatan murid pada satu guru sufi (mursyid). Di banyak kasus, satu tarekat besar bisa membelah menjadi banyak aliran baru. "Ada ratusan tarekat masih hidup, baik di level nasional atau regional, beberapa menyebar ke berbagai belahan dunia," ungkap Biegman.

Riwayat transnasionalisasi tarekat sebenarnya fenomena yang terjadi sejak abad pertengahan. Namun, di abad ke-20, persebaran beberapa tarekat melampaui batas-batas tradisionalnya: merambah banyak negara Barat yang sebelumnya jauh dari pengaruh Islam. Fenomena ini tidak terlepas dari menguatnya tekanan terhadap sufisme di Timur Tengah, terutama sejak keruntuhan Kesultanan Ottoman di Turki pada awal abad ke-20.

Tiadanya otoritas politik pelindung gerakan sufisme usai Ottoman runtuh membuat sebagian tarekat terdesak. Situasi ini diperparah oleh agresivitas wahabisme, salafisme, dan pengaruh ulama reformis penghujat tarekat. Ditambah lagi berbagai peperangan yang melanda sebagian Timur Tengah sepanjang abad ke-20.

Baca juga: Mekah-Mekah di Nusantara

Di tengah situasi zaman macam itu, gerakan sufisme menunjukkan daya lentingnya dengan mengalihkan dakwah ke negara-negara Barat. Salah satu contoh paling sukses ialah Tarekat Naqsyabandiyah Haqqani, yang sejak era 2000-an telah menyebar setidaknya di 41 negara (5 benua). Dari Inggris hingga Amerika, Jepang, dan Taiwan, bahkan Chile serta Peru, termasuk Indonesia.

Belakangan, tarekat ini lebih sering memperkenalkan alirannya sebagai Naqsyabandiyah Nazimiyyah, merujuk pada nama tengah pendiri gerakan ini, Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani (1922-2014). Misalnya, salah satu situs web otoritatif tarekat ini, naqshbandi.org, sekarang memakai nama Nazimiyyah.

Nama Haqqani ditanggalkan sebab tarekat ini menolak identik dengan sebutan organisasi militan yang kerap melancarkan aksi teror di Pakistan dan Afghanistan, Haqqani Network. Militan ini makin aktif menebar aksi teror, kebanyakan dengan bom bunuh diri, sejak 2006 sampai sekarang.

Dalam disertasinya di Australian National University, The Politics of Contending Piety Naqshbandi-Haqqani, Sufi Movement and the Struggle for Islamic Activism in Contemporary Indonesia, Luthfi Makhasin menilai tarekat ini sebagai contoh ekspansi gerakan sufisme ke Barat saat ekstremisme dan puritanisme merebak di Timur Tengah pada abad ke-20. Tarekat ini juga tercatat aktif menentang ekstremisme sekaligus melakukan evolusi dakwah, yang disebut Luthfi "e-Sufism".

Tarekat ini berakar dari Naqsyabandiyah Khalidiyah, sekte tarekat yang merupakan cabang turunan dari "pohon" besar Naqsyabandiyah. Syekh Bahauddin Naqshbandi (1318-1389), tokoh sufi asal Bukhara, Asia Tengah, dianggap sebagai mursyid utama dan pendiri tarekat besar ini.

Adapun Naqsyabandiyah Haqqani didirikan ulama Sufi asal Siprus, Muhammad Nazim al-Haqqani pada awal 1970-an. Sarjana kimia itu adalah salah satu murid senior ulama sufi dari Tarekat Naqsyabandiyah Khalidi di Lebanon, Abdullah Faiz Dagestani.

Baca juga: Merindukan Sekaligus Mengabaikan Mekah

Situasi Timur Tengah pada 1970-1980 membuat Nazim tidak leluasa mengembangkan tarekatnya di Siprus, Turki, Suriah, dan Lebanon. Menantunya yang asal Lebanon, Muhammad Hisham Kabbani, lalu membantu Nazim membawa tarekatnya ke Eropa dan Amerika. Hisham semula memimpin rumah sakit elit di Jeddah dan memiliki jaringan luas.

Dakwah Nazim memikat para muslim kaya sehingga memudahkan pengumpulan dana untuk kegiatan tarekatnya di banyak negara. Sultan Brunei Hassanal Bolkiah, misalnya, pernah menyumbang 2 juta poundsterling untuk pembelian gedung milik tarekat ini di London.

“Dari London, Nazim menyebarkan tarekatnya ke Asia Tenggara dan Selatan. Pada 1986, ia melakukan tur panjang membaiat banyak murid di Brunei, Malaysia, India, Pakistan, dan Sri Lanka,” catat Luthfi.

Di awal 1990-an, Sheikh Hisham Kabbani menerima Green Card atau status pengungsi yang menetap di Amerika Serikat (AS). Sejak itu, Hisham menginisiasi 23 pusat tarekat Naqsyabandiyah Haqqani di AS dan Kanada. Pusat yang terbesar ada di Fenton, Michigan. Basis di AS mempercepat perluasan tarekat ini secara global. “Fenton dan Lefke (Siprus) lalu dianggap pusat Naqsyabandiyah Haqqani,” tulis Luthfi.

Menurut Luthfi, tarekat ini mengombinasikan kharisma guru sufi dan organisasi yang modern. Hisham, misalnya, membentuk banyak organisasi penyokong tarekatnya di AS. Salah satu yang paling berpengaruh adalah the Islamic Supreme Council of America (ISCA). Misi resmi ISCA ialah mendukung perdamaian, dan menentang pelanggaran HAM, ekstremisme serta radikalisme. ISCA juga rajin melakukan lobi politik.

Baca juga: Empat Generasi dalam Sejarah Terorisme

Hisham memang giat mengkritik ekstremisme. Kritik terkerasnya muncul dalam forum terbuka yang digelar pemerintah AS pada 7 Januari 1999. Pidatonya “Islamic Extremism: A Viable Threat to US National Security” menyebut ideologi ekstremis yang menjalari sebagian organisasi islam di AS bisa mengancam keamanan di sana. Ia menuding 80 persen dari 3000 masjid di AS didominasi ekstremis.

“Akibatnya, 8 organisasi muslim di AS mengecamnya dan memboikot ceramahnya di banyak masjid,” catat Luthfi Makhasin.

Tapi, Kabbani bersikeras mempertahankan pendapatnya dengan alasan dirinya ingin mencegah dampak buruk ke komunitas muslim AS di masa depan. Teror 11 September 2001 diyakini pengikutnya telah diramalkan secara tersirat oleh ulama sufi ini. Tak heran, laporan the New York Times tahun lalu mencatat Hisham adalah salah satu tokoh muslim di AS yang sejak lama masuk dalam target ISIS.

Sikap Hisham ini selaras dengan gurunya, Nazim al-Haqqani. Media Inggris the Telegraph, dalam obituari tokoh ini, memujinya sebagai tokoh sufi pendukung utama perang melawan terorisme. Nazim tercatat pernah mengecam terorisme sebagai aksi tiran, kejahatan, dan setan.

Baca juga: Mencangkul Batin Manusia

Kembali ke Hisham, menurut analisis Luthfi, pemboikotannya di AS mendorong pemakaian sarana dakwah baru: internet. Tapi, strategi di luar kebiasaan ini—karena tarekat biasa diajarkan guru sufi secara tertutup—bisa juga terinspirasi sebuah kasus pada 1994. Saat itu, ulasan panjang Hisham disertai dalil-dalil otoritatif, yang membantah pengkritik tarekat, meluas ke banyak negara, lewat milis MSA.Net.

Tarekat ini memang memelopori e-Sufism sejak akhir 1990-an. Internet lalu memperkenalkan ajarannya ke seluruh dunia. Sejumlah situs web tarekat ini memuat materi ceramah para guru tarekat, dzikir, meditasi, sohbet (interaksi guru dan murid), hingga baiat. Situs web sufilive.com belakangan paling banyak dikunjungi selain naqshbandi.org. “Diakses lebih dari 900 ribu pengakses setiap harinya dari berbagai penjuru dunia,” tulis Luthfi.



Seorang pengikut Naqsyabandiyah Nazimiyyah di Yogyakarta, Joko Sulistio, mengaku mengenal tarekat ini mulanya juga dari internet, khususnya naqshbandi.org. Bahkan, menurut dia, 70 persen dari rekan-rekannya sesama pegiat tarekat ini juga mengalami kasus yang sama.

“Saya tahu tarekat ini pada 2005. Saat itu, saya baru saja lulus kuliah dan tinggal di Yogyakarta. Internet memang membantu memperluas jangkauan pengenalan ajaran guru-guru kami,” kata Joko yang kini aktif mengajar di Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (UII).

Baca juga: Nahdlatul Wathan Cikal Bakal Nahdlatul Ulama dan Yang Bukan

Namun, menurut Joko, pemakaian internet tidak melenyapkan tradisi khas tarekat, yakni hubungan intensif murid dengan guru sufi. “Materi di internet hanya untuk pengenalan, untuk mendalaminya kami tetap harus terlibat langsung di dalam tarekat,” ujarnya.

Selain internet, riset Luthfi menemukan bahwa tarekat ini masuk ke Indonesia melalui beberapa ilmuwan. Misalnya, ahli nuklir Hadid Subki—kini aktif di Badan Tenaga Atom Dunia (IAEA)—yang dibaiat Hisham Kabbani di AS pada 1993.

Pada 1997, sejumlah pengusaha dan akademisi di Jakarta dibaiat oleh Hisham. Sejak itu, tarekat ini berkembang di Indonesia. Di antara para pengikut awal di Indonesia ialah Mustafa Mas’ud (tokoh nahdliyin), Firdaus Wajdi (pengusaha dan eks aktivis 1966), serta Ahmad Mubarok (akademisi dan belakangan jadi petinggi Partai Demokrat).

Baca juga artikel terkait EKSTREMISME atau tulisan menarik lainnya Addi M Idhom
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Addi M Idhom
Penulis: Addi M Idhom
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight