Pandemi COVID-19

Terjadi Lonjakan BOR, Pemerintah Diminta Aktifkan Lagi Bujet Isoman

Oleh: Alfian Putra Abdi - 15 Juni 2021
Dibaca Normal 1 menit
Anggota Komisi IX DPR RI minta bujet isolasi mandiri perlu diaktifkan lagi mengingat lonjakan BOR di sejumlah daerah.
tirto.id - Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera Kurniasih Mufidayati meminta pemerintah meningkatkan kewaspadaan usai darurat Bed Occupancy Rate (BOR) atau keterisian tempat tidur rumah sakit. Salah satunya dengan mengaktifkan kembali subsidi isolasi mandiri.

Hal tersebut, kata dia, mengingat sejumlah daerah telah melebihi batas minimum BOR 60 persen yang ditentukan WHO.

"Pencabutan anggaran isolasi mandiri oleh BNPB perlu dipertimbangkan ulang. Bertambahnya ketersediaan bed perawatan berbanding lurus dengan perlunya isolasi mandiri bagi non-gejala," kata Kurniasih kepada reporter Tirto, Selasa (15/6/2021).

Merujuk data Kementerian Kesehatan pada 11 Juni 2021, ada 4 provinsi dengan BOR melebihi batas minimum WHO, yakni: Jawa Tengah 65 persen, DKI Jakarta 63 persen, Jawa Barat 62 persen, dan Kalimantan Barat 61 persen.

Melonjaknya kasus baru pasca libur lebaran 2021 diduga menjadi penyebab BOR melebihi batas. Menurut Kurniasih perlu daya dukung ruangan ekstra, dengan memanfaatkan ruang-ruangan yang memungkinkan untuk diperdayakan.

Selain itu, wilayah-wilayah yang terimbas libur lebaran kemarin mestinya diberlakukan kembali PSBB terbatas. Jika perlu, pemerintah setempat menerapkan kebijakan tarik rem darurat guna meminimalisir penambahan kasus Covid-19 baru.

"Tarik rem darurat bukan hanya di wilayah zona merah tapi di wilayah sekitarnya yang memungkinkan mobilisasi antardaerah dari dan ke zona merah dan daerah yang BORnya melebihi batas ambang WHO," ujarnya.

Dampak dari BNPB kehabisan anggaran, pemerintah pusat menghentikan pembiayaan untuk isolasi mandiri di hotel, penginapan, dan wisma di DKI Jakarta mulai 15 Juni 2021. Apabila Pemprov DKI Jakarta keukeuh berkeinginan menggunakan hotel sebagai tempat isolasi mandiri pasien Covid-19, mereka harus menanggung biaya sendiri.

Lonjakan kasus COVID-19 terjadi usai Idulfitri pada 13 Mei 2021 kemarin. Pada 15 Mei penambahan sebanyak 2.385 kasus, itu merupakan titik terendah sejak terjadi tren kenaikan akhir Agustus 2020 hingga mencapai puncaknya 14.518 pada 30 Januari 2021.

Namun sejak 15 Mei, penambahan kasus harian berangsur melejit, sampai pada 13 Juni kemarin penambahan kasus harian mencapai 9.868 pasien.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bilang, lonjakan kasus dampak dari peningkatan mobilitas saat perayaan dan libur Idulfitri akan terjadi beberapa pekan setelahnya. “Berdasarkan bukti empiris puncaknya akan terjadi sekitar 5 sampai 7 minggu sejak liburan itu terjadi. Jadi mungkin sampai akhir bulan atau awal Juli kita masih akan melihat adanya kenaikan,” kata dia, Minggu (13/6/2021).



Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Abdul Aziz
DarkLight