27 Desember 2007

Terbunuhnya Benazir Bhutto dan Betapa Ganjilnya Politik Pakistan

Para pendukung Benazir Bhutto menangisi kematiannya. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Ign. L. Adhi Bhaskara - 27 Desember 2018
Dibaca Normal 3 menit
Hidup dan mati Benazir Bhutto diwarnai permainan politik yang mungkin terlihat tak masuk akal. Sampai kini kematiannya masih misteri.
tirto.id - Jika boleh memilih dinasti politik mana yang mengalami nasib paling nahas dalam lima dekade terakhir, maka keluarga Bhutto dari Pakistan boleh jadi masuk sebagai kandidat utama. Salah satu anggota klan ini, Benazir Bhutto, perdana menteri perempuan pertama di negara Islam, meninggal secara tragis.

Benazir menjadi korban serangan bom bunuh diri pada 27 Desember 2007, tepat hari ini 11 tahun lalu. Pelakunya seorang pemuda berusia 15 bernama Bilal.

Ketika itu, Benazir baru saja merampungkan kampanye pemilihan umum Pakistan di Rawalpindi dalam upaya untuk menjabat perdana menteri ketiga kalinya. Bilal, yang melihat ada kesempatan untuk melakukan aksinya, kemudian mendekati rombongan Bhutto. Tanpa keraguan ia menembak perempuan kelahiran 21 Juni 1953 itu dan kemudian meledakkan dirinya sendiri.

Kelompak Taliban Pakistan mengklaim bertanggungjawab atas serangan tersebut. Merekalah yang meminta Bilal untuk menyerang Benazir.


Sebelumnya, percobaan pembunuhan kepada Benazir pernah terjadi ketika ia baru saja kembali dari pengasingan di bulan Oktober tahun yang sama. Ada dua bom bunuh diri yang menewaskan 130 orang. Tapi Benazir selamat.

"Kami akan terus bertemu dengan masyarakat," katanya ketika mengunjungi korban pemboman di rumah sakit Karachi seperti dikutip New York Times. "Kami tidak akan takut."

Yang menyedihkan, tidak hanya Benazir yang menghadapi kematian tragis. Dua saudara laki-lakinya juga mengalaminya. Seperti dilaporkan BBC, salah seorang saudara laki-lakinya, Murtaza, melarikan diri ke Afganistan setelah sang ayah, Zulfikar Ali Bhutto, perdana menteri Pakistan pertama yang terpilih secara demokratis pada awal 1970-an, terjungkal dari kekuasaan.

Bersama grup militan bernama al-Zulfikar, Murtaza memimpin kampanye melawan pemerintahan militer Pakistan. Ia memenangi pemilu pada 1993 dari pengasingan dan menjadi legislator provinsi. Namun, ia ditembak mati beberapa waktu setelah ia kembali ke Pakistan pada 1996. Hingga kini, motif penembakan itu masih gelap.

Mundur ke belakang, Shahnawaz, saudara laki-laki Benazir lainnya yang juga aktif dalam politik, ditemukan meninggal dunia di apartemen French Riviera, Cannes, Perancis, pada Juli 1985. Menurut Tariq Ali dalam The Duel: Pakistan on the Flight Path of American Power (2008), istri Shahnawaz mengklaim sang suami tewas karena menenggak racun.

Namun, Benazir mengatakan tidak ada seorang pun dalam keluarga Bhutto percaya terhadap klaim tersebut. Hasil penyelidikan menyatakan telah ditemukan bukti bahwa kekerasan terjadi di ruangan Shahnawaz dan disinyalir bahwa dokumen-dokumen miliknya telah digeledah.

Bertahun-tahun sebelumnya, ayah mereka seperti mengawali nasib tragis anak-anaknya. Pada 5 Juli 1977, Zulfikar Ali tidak tuntas melaksanakan tugas sebagai perdana menteri. Jenderal Zia-ul Haq berhasil mendongkel kekuasaannya. Rezim militer yang dipimpin Zia-ul Haq kemudian menggantungnya pada 1979. Zulfikar Ali dituduh sebagai dalang pembunuhan musuh-musuh politik pada 1974.


Diktator Kecil yang Suka Omong Demokrasi

Benazir tentu saja menjadi oposisi paling keras dari rezim militer Zia-ul Haq. Gara-gara itulah ia harus menjalani separuh waktu hidupnya dalam penjara, tahanan rumah, atau pengurungan di tempat terpencil.

Seperti dilaporkan New York Times, ketika Jenderal Zia terbunuh secara misterius dalam sebuah kecelakaan pesawat pada 1988, Benazir dengan sigap memanfaatkan kesempatan dalam pemilu yang diselenggarakan segera setelahnya. Ia berhasil dan bahkan terpilih menjadi perdana menteri sebanyak dua kali dengan kendaraan Partai Rakyat Pakistan.

Periode kepemimpinannya yang pertama berlangsung dari Desember 1988 hingga Augustus 1990. Ia kemudian terpilih lagi pada periode Oktober 1993 hingga November 1996. New York Times menyebut Benazir sebagai pemimpin partai bertangan besi yang “mempertahankan posisinya dengan penuh kecemburuan bahkan ketika ia memimpin partainya secara in absentia selama hampir satu dekade”.

Benazir tercatat pernah menyingkirkan ibunya sendiri dari pucuk kepemimpinan partai. Karena hal tersebut, ibunya menyebut Benazir sebagai diktator kecil yang kerap berbicara mengenai demokrasi.


Polisi menangkap saudaranya, Murtaza, setelah ia menuduh pemerintahan Benazir melakukan tindak korupsi. Di sisi lain, sang suami, Asif Ali Zardari, yang terjerat dakwaan atas pembunuhan, dapat lolos secara ajaib dari tuduhan tersebut. Kala itu, Benazir mengangkat Asif sebagai menteri investasi.

Yang menarik, kendati berhasil terpilih secara dua kali sebagai perdana menteri, Benazir diberhentikan dari jabatannya oleh presiden karena tuduhan korupsi, baik pada periode pertama maupun kedua. Ketika meninggalkan Pakistan bersama sang suami pada 1996, keduanya memiliki kekayaan ratusan juta dolar AS meski sumber kekayaan mereka tidak jelas asalnya. Ia kembali pada 2007 setelah menerima amnesti atas tuduhan tersebut.

"Dalam benaknya, dia adalah seorang Pakistan, sehingga dia bisa melakukan apa saja yang dia mau," kata mantan penasihatnya, Husain Haqqani, seperti dikutip New York Times.

Jelas bahwa meski Benazir memiliki banyak pendukung, musuh yang ia miliki juga tak sedikit. Namun, di mata dunia internasional, ia berhasil membangun citra sebagai pendobrak dunia politik Pakistan yang didominasi laki-laki. Pada saat yang sama, ia juga lekat dengan tuduhan korupsi.


Masih Misteri

Hingga kini, menurut laporan BBC, pemerintah Pakistan masih berusaha menutup-nutupi kejelasan dari investigasi pembunuhan Benazir. Jaksa yang menyelidiki kasus tersebut, Chaudhry Zulfikar, seorang pengacara yang memiliki reputasi moncer baik secara kompetensi maupun kegigihannya, meninggal dunia setelah ditembak mati di Islamabad pada 3 Mei 1993. Ketika itu, ia sedang berkendara menuju sebuah sidang terkait kematian Benazir.

Terdapat pula seorang pria bernama Ikramullah—pengebom bunuh diri yang mendampingi Bilal—yang secara misterius masih hidup kendati pemerintah Pakistan selama bertahun-tahun mengatakan bahwa ia sudah tewas dalam serangan drone.



Pada 2017, kepala jaksa penuntut umum Mohammad Azhar Chudhry mengatakan bahwa bukti-bukti yang dikumpulkan dari penyelidikan pemerintah Pakistan menyimpulkan bahwa Ikramullah telah meninggal.

Namun, pada bulan Agustus tahun yang sama, pemerintah Pakistan mengeluarkan daftar pencarian teroris sepanjang 28 halaman yang di dalamnya menyebut nama Ikramullah pada nomor sembilan. Dokumen tersebut menyebutkan Ikramullah terlibat dalam pembunuhan Benazir.


Dari penyelidikan BBC, Ikramullah saat ini tinggal di daerah timur Afganistan dan menjabat sebagai komandan kelas menengah pasukan Taliban Pakistan.

Hanya dua orang petugas polisi yang dihukum dalam kaitan dengan kasus pembunuhan Benazir. Oleh banyak orang, ini dianggap tidak adil karena mereka percaya bahwa polisi tidak mungkin bertindak tanpa perintah dari pihak militer. Kematian Benazir Bhutto pun masih diselimuti misteri hingga kini.

Baca juga artikel terkait PAKISTAN atau tulisan menarik lainnya Ign. L. Adhi Bhaskara
(tirto.id - Politik)

Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight