Terbaik Terbaik: Karya Terbaik Ahmad Dhani

Album Dewa 19 Terbaik Terbaik. Foto/Wikipedia
Oleh: Faisal Irfani - 31 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Album ketiga ini menempati peringkat 26 dalam daftar 150 Album Indonesia Terbaik versi Rolling Stone Indonesia.
tirto.id - Terlepas dari sisi kontroversialnya, Ahmad Dhani merupakan salah satu musisi jenius yang pernah dilahirkan kancah musik Indonesia. Ia adalah komposer handal sekaligus pencipta lagu berbakat.

Karya-karya Dhani sebagai musisi sudah tak bisa dihitung jari. Dia menciptakan banyak lagu hits. Memproduseri penyanyi baru. Hingga membentuk superband. Tentu saja karya terbaiknya ada ketika dia bermain bersama Dewa 19, grup band yang sudah jadi legenda di Indonesia.

Dhani membentuk Dewa pada 1986—tahun yang sama ketika Queen menggelar konser akbar di Wembley Stadium yang kelak diingat sebagai konser terbaik sepanjang masa—bersama tiga orang kawannya dari SMP 6 Surabaya: Erwin Prasetyo, Wawan Juniarso, dan Andra Ramadhan. Nama Dewa berasal dari singkatan huruf depan para personelnya.

Dewa tumbuh di era kancah musik Surabaya didominasi oleh musik heavy metal. Band-band lokal banyak memainkan lagu-lagu milik Judast Priest hingga Iron Maiden. Namun, Dewa tak ingin ikut tren. Mereka muncul dengan warna musik yang jarang disentuh kancah Surabaya: pop.

Tapi, Dewa hanya sebentar memainkan ragam pop. Orientasi bermusik mereka lalu berubah ke arah fusion-jazz selepas Erwin, si pencabik bass, mengenalkan lagu-lagu milik Casiopea kepada rekan-rekannya di band. Dari sini, Dewa kemudian banyak membawakan ulang komposisi milik Chick Corea, Uzeb, Krakatau, hingga Karimata.

Berubahnya warna musik Dewa ini mendatangkan konsekuensi berupa cabutnya Wawan dari band, dan bergabung dengan Outsider yang punya vokalis Ari Lasso.


Namun, sekali lagi, mereka hanya sementara waktu memainkan fusion-jazz. Ketika nama Slank mencuat ke permukaan, Dhani memutuskan untuk kembali menghidupkan nama Dewa. Ia lantas mengajak lagi Wawan dan merekrut Ari Lasso. Identitas Dewa pun berdiri tegak, dengan tambahan embel-embel “19” di belakang—mengacu pada usia para personel.

Dari yang semula sekadar membawakan lagu-lagu band lain, Dewa mulai berani bikin karya. Pada 1992 mereka merilis album debut self-titled. Setelah sempat ditolak oleh beberapa label, album ini menarik perhatian Jan Djuhana. Insting Jan terbukti ampuh. Album ini meledak di pasaran, terjual lebih dari 300 ribu kopi. Album Dewa 19 juga melejitkan nomor “Kangen” yang kelak dianggap sebagai salah satu nomor anthemic.

Album Terbaik? Ya Terbaik-Terbaik

Dua tahun usai album debut yang sukses, Dewa 19 merilis album ketiga bertajuk Terbaik Terbaik. Sebagaimana judulnya, album ini menjadi album terbaik yang pernah dibikin Dewa 19. Tak cuma itu saja, Terbaik Terbaik adalah bukti betapa cemerlangnya ide Ahmad Dhani sebagai seorang komposer.

Album Terbaik-Terbaik direkam dalam kurun waktu Oktober 1994 hingga Mei 1995, dengan Dhani bertindak selaku produser. Terdapat 11 lagu dan hampir semuanya dibikin oleh Dhani.

Yang membikin Terbaik Terbaik terasa istimewa ialah karena Dewa 19 tak sekadar memainkan warna pop, tapi juga rock, fusion, sampai folk. Visi bermusik masing-masing personel membuat Terbaik Terbaik terdengar begitu semarak.

Komposisi “IPS,” ambil contoh, memuat solo gitar akustik Andra yang seperti membelah keheningan. Permainannya tenang dan mendamaikan perasaan—mengajak kita melupakan sejenak huru-hara di dunia yang fana.

Lalu di “Hanya Satu,” Dewa 19 tak ubahnya mirip kelompok world music; ketukan perkusi yang rancak, vokal yang saling bersautan, hingga deru nada yang menawarkan eksotisme Timur yang membuai. Di “Jangan Pernah Mencoba,” mereka bergerak lebih energik; membawakan semangat new wave ala Duran-Duran. Sementara “Restoe Boemi,” Dewa 19 seperti sedang terilhami band-band yang mengusung southern rock.

Nomor paling padat tentu jatuh pada “Cukup Siti Nurbaya.” Kombinasi riff-riff berbahaya Andra dan cabikan bass Erwin yang meliuk lincah—mengingatkan permainan Tetsuo Sakurai—menjadikan track ini sangat berbahaya, sekaligus andalan Terbaik-Terbaik.





Kendati menjadi otak dari keseluruhan materi Terbaik Terbaik, Dhani mampu meredam ego tampil menonjol dan lebih memilih menyediakan ruang sebesar-besarnya bagi personel lain untuk unjuk kemampuan. Di album ini, Anda dengan maksimal akan melihat betapa menggairahkannya permainan bass Erwin, rapinya melodi Andra, serta menggelegarnya jangkauan vokal Ari Lasso.

Album Terbaik Terbaik, di saat bersamaan, juga mampu menangkap kegelisahan pada saat itu. Semua lagu dalam Terbaik-Terbaik merangkum pandangan anak-anak muda tentang cinta dan kehidupan. Nyaris tak ada lagu yang punya muatan politis. Dewa 19 seperti hendak merayakan romantika jiwa yang tersusun atas pertemuan, perpisahan, hingga yang paling utopis sekalipun: keabadian.

Tapi, yang perlu ditegaskan, meski mengambil tema percintaan, setiap lagu dalam Terbaik Terbaik tergolong dibungkus dengan gaya yang elegan, alih-alih murahan. Kepintaran Dhani merangkai kata membuat lagu-lagu ini memiliki nyawa dan tak kosong belaka. Misalnya saja di “Jalan Kita Masih Panjang,” ketika Dhani menulis:

Di persimpangan menatap berdua
Ombak yang coba pecahkan karang cinta kita
Palingkan rasa silaunya dunia


Sedangkan di “Cukup Siti Nurbaya” Dhani berkata lebih dahsyat lagi:

Oh, memang dunia
Buramkan satu logika
Seolah-olah hidup kita ini
Hanya ternilai sebatas rupiah
Dengarkan manusia yang terasah falsafah
Sesaat katanya itu bukan dogma
Uh!


Semua lagu dalam Terbaik Terbaik adalah sebaik-baiknya lagu untuk merayakan jatuh cinta, patah hati, maupun ditolak calon mertua akibat penghasilan bulanan yang tak cukup mengesankan.

Album Terbaik-Terbaik memang unggul dari segi penggarapan sehingga membikin saya—dan mungkin khalayak ramai—mendapuknya sebagai album terbaik Dewa 19. Meski demikian, yang membuat Terbaik Terbaik sangat spesial adalah karena di album ini, Dewa 19 sedang tak hendak meniru siapa-siapa.

Mereka tak kelewat keras berusaha menjadi epigon Queen, sebagaimana yang terjadi saat Bintang Lima (2000) lepas ke publik. Juga tak terlampau memaksakan keinginan untuk bereksperimen dengan bebunyian orkestra maupun chamber music, seperti halnya ketika mereka merilis album dengan embel-embel “cinta” di belakangnya.

Lewat Terbaik-Terbaik, arek-arek Surabaya ini hanya ingin bermusik dengan bebas dan tanpa ekspektasi bakal jadi bagus atau tidak.

Usai Terbaik-Terbaik diproduksi, jalan Dewa 19 tak lagi sama. Sekalipun mereka mampu bertahan di rimba industri dan berhasil mencetak kesuksesan besar dalam wujud Bintang Lima yang terjual sekitar 1,7 juta keping, namun kualitas bermusik mereka kian tereduksi dengan ambisi untuk jadi nomor satu.

Namun setidaknya, dari sini, kita paham: hadirnya Terbaik Terbaik membuktikan bahwa pada suatu masa, Ahmad Dhani pernah baik-baik saja.

Baca juga artikel terkait MUSIK INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Musik)

Penulis: Faisal Irfani
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight