Teori Evolusi Perubahan Sosial Menurut para Ahli & Penjelasannya

Oleh: Tara Resya Ayu - 30 Agustus 2021
Dibaca Normal 2 menit
Salah satu teori perubahan sosial yang populer adalah evolusi. Teori evolusi menjelaskan perubahan sosial yang terarah.
tirto.id - Perubahan sosial merupakan salah satu topik yang populer dalam ilmu Sosiologi. Konsep ini sangat dekat dengan kehidupan karena masyarakat senantiasa mengalami perubahan sepanjang masa.

Masyarakat akan terus bergerak mengikuti perkembangan zaman, beradaptasi dengan keadaan baru, dan mengalami perubahan di berbagai dimensi. Itulah kenapa perubahan sosial menjadi perhatian banyah ahli sosiologi.

Mengutip Britannica, terdapat beberapa faktor yang mendorong terjadinya perubahan sosial, salah satunya adalah perubahan lingkungan alam. Misalnya, ketika terjadi wabah, bencana, atau krisis iklim, masyarakat akan turut merasakan perubahan.

Demografi sosial, perkembangan teknologi, hingga situasi politik juga menjadi faktor pendorong perubahan sosial. Masyarakat di suatu daerah dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi akan mengalami perubahan pula.


Salah satu teori perubahan sosial yang populer adalah evolusi. Teori evolusi menjelaskan tentang proses perubahan sosial yang terarah.

Dalam ilmu Sosiologi, teori evolusi menyoroti proses perubahan, perkembangan, dan transformasi masyarakat dari suatu titik ke titik yang berbeda. Misalnya, masyarakat yang awalnya tradisional mengalami evolusi dan bergerak ke arah industrialisasi, automasi, dan modernisasi.

Teori evolusi juga dikenal dalam ilmu Biologi sebagai perubahan biologis yang terjadi pada individu. Hal yang membedakan evolusi biologis dengan evolusi sosial adalah skala perubahannya.

Merujuk artikel Evolutionary Theory in Sociology yang terbit dalam Jurnal Sociological Forum (Juni, 1990), evolusi biologis terjadi di skala mikro dan genetik pada makhluk hidup. Sedangkan evolusi pada perubahan sosial terjadi di skala makro yang mencakup masyarakat luas.


Perubahan yang dihasilkan oleh evolusi merupakan hal besar di masyarakat. Dalam artikel yang sama dijelaskan bahwa evolusi tidak hanya mengubah individu. Proses ini akan turut mengubah institusi sosial, organisasi, dan budaya.

Namun, menukil artikel Social Change or Social Evolution? yang terbit dalam Corvinus Journal of Sociology and Social Policy (Vol 9, 2018), tidak semua proses perubahan sosial membawa sifat evolusioner. Itulah kenapa muncul kritik terhadap teori evolusi. Salah satu alasan kritik itu ialah adanya kecenderungan teori evolusi mengaitkan perubahan sosial dengan kemajuan masyarakat.

Perspektif teori evolusi untuk menganalisis perubahan masyarakat mulai berkembang di kalangan ilmuwan sosial pada abad ke-19. Sejak saat itu, konsep teori evolusi sosial telah dikemukakan oleh sejumlah sosiolog dan filsuf. Dikutip dari Britannica dan University of California Press, berikut teori evolusi dalam perubahan sosial menurut sejumlah ahli.

1. Auguste Comte

Sebagai salah satu sosiolog terkemuka, Auguste Comte turut menyumbangkan idenya tentang evolusi. Salah satu pemikirannya tentang perubahan sosial yang terkenal adalah the law of three stages.

Melalui the law of three stages, Comte menjelaskan bahwa masyarakat bergerak melewati tiga fase yaitu teologis, metafisis, dan positivis.

Masyarakat di fase teologis bergantung pada hal-hal spiritual dan magis. Kemudian, masyarakat mulai mengenal pemikiran-pemikiran spekulatif di fase metafisis. Manusia kemudian bergerak ke fase positivis dan mengenal teori-teori empiris.

2. Herbert Spencer

Filsuf asal Inggris ini merujuk teori evolusi biologis dalam menjelaskan perubahan sosial. Herbert Spencer berpendapat bahwa evolusi masyarakat memiliki pola yang mirip dengan evolusi biologis suatu organisme.

Seperti anggota tubuh, masyarakat berangkat dari keadaan dan dengan fungsi yang berbeda. Mereka akan saling bergantung dan melengkapi fungsi satu sama lain di tengah masyarakat.

3. James M. Henslin

Teori evolusi menurut James M. Henslin terbagi dalam dua tipe, yaitu linear dan multilinear. Cara pandang linear menganggap bahwa masyarakat berubah melalui proses yang sama. Sebaliknya, teori multilinear dalam evolusi memahami perbedaan cara perubahan yang dialami tiap kelompok di masyarakat.

4. Talcott Parsons

Sosiolog asal Amerika Serikat, Talcott Parsons berpendapat bahwa evolusi tidak dapat dilepaskan dari proses adaptasi manusia. Dalam proses evolusi, anggota masyarakat harus bisa beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan segala tantangan yang datang.

5. Lewis Henry Morgan

Sebagai salah satu antropolog terkemuka, Lewis H. Morgan turut mencetuskan pemikiran tentang evolusi masyarakat. Menurut Morgan, ada tiga tahap yang dilewati masyarakat ketika berkembang, yaitu kebuasan (savagery), barbarisme (barbarism), dan peradaban (civilization).

Mengutip artikel The Mind of Lewis H. Morgan di Jurnal Current Anthropology (Vol. 22, 1981), fase kebuasan yang dimaksud oleh Morgan adalah tahap yang dilewati nenek moyang manusia. Lantas, setelah melewati fase barbarisme, masyarakat kembali mengalami evolusi dan akhirnya mencapai tahap peradaban.

Baca juga artikel terkait PERUBAHAN SOSIAL atau tulisan menarik lainnya Tara Resya Ayu
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Tara Resya Ayu
Penulis: Tara Resya Ayu
Editor: Addi M Idhom
DarkLight