9 Mei 1986

Tenzing Norgay dan Pesona Everest yang Tak Pernah Pudar

Penulis: Suhendra - 9 Mei 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Pesona Everest di antara nyali, petualangan, geliat ekonomi, dan kematian.
tirto.id - “Because It’s There”. Frasa itu sangat melegenda di kalangan para pendaki gunung di penjuru dunia dari masa ke masa. Itu merupakan jawaban George Leigh Mallory ketika sering ditanya alasannya mau bersusah-susah mendaki Gunung Everest.

Kutipan multitafsir Mallory ini termuat di surat kabar New York Time 18 Maret 1923 yang berjudul "Climbing Mount Everest is work for Superman". Tak jelas apa makna dari frasa itu. Namun, dalam sebuah penjelasan singkatnya, terbesit maksud Mallory, yaitu hasrat penaklukan.

“Everest adalah gunung tertinggi di dunia, dan belum ada manusia yang telah mencapai puncaknya. Gunung Everest merupakan sebuah tantangan. Jawabannya adalah sebuah bagian dari naluri, saya anggap ini sebuah keinginan manusia menaklukkan alam semesta,” ujar Mallory dikutip dari thisdayinquotes.

George Leigh Mallory dan rekannya Andrew Irvine merupakan salah satu perintis pendakian Everest. Sayangnya, berselang setahun setelah wawancara bersejarah itu, keduanya hilang di Everest. Jasadnya terkubur salju dan baru ditemukan setelah 75 tahun kemudian. Jasad Mallory ditemukan di sisi utara puncak setinggi 8.848 meter itu.

Perdebatan soal apakah Mallory orang pertama yang menaklukkan Everest sempat muncul. Setelah 29 tahun tragedi Mallory, duo Edmund Hillary dan Tenzing Norgay yang meninggal pada 9 Mei 1986 resmi tercatat dalam sejarah sebagai manusia yang menginjakkan kaki pertama di puncak Chomolungma, sang dewi ibu.

Kesuksesan Hillary dan Norgay langsung menginspirasi para “pengadu nyali” lainnya dari berbagai penjuru dunia. Banyak yang berhasil, tetapi tidak sedikit yang gagal dan berujung pada kematian ketika mendaki Everest. Media adventurestats.com mencatat sejak 1922-2006 ada 11.000 upaya pendakian mencapai puncak gunung ini, tingkat keberhasilan hanya 3.000 pendakian atau 29 persen. Tercatat ada 54 pendaki yang sudah mencapai puncak harus pulang dengan tinggal nama.


Tumpukan Ekonomi Nepal

Kurang lebih 91 tahun pasca Mallory pergi, Nepal dilanda gempa maha dahsyat 7,9 skala richter. Tatanan ekonomi mereka yang sudah terbangun pun ikut ambruk. Upaya menggenjot pariwisata pendakian pun terus dipacu. Hasilnya, antrean pendaki Everest tak bisa dihindari.

Peningkatan jumlah wisatawan pendaki Everest diharapkan menjadi napas baru bagi perekonomian Nepal. Negeri yang dijuluki “Atap Dunia” ini menggantungkan ekonominya dari pariwisata Everest. Selain mendapatkan pemasukan langsung dari pendaki, ribuan Sherpa menggantungkan nasibnya dari jasa mengangkut barang bawaan sang petualang. Nepal meraup biaya tiket masuk 11.000 dolar AS dari setiap pendaki yang datang ke Everest.

Pada 2014, sektor pariwisata menyumbang hampir 9 persen perekonomian mereka dan menyumbang 7,5 persen sektor tenaga kerja. Meskipun kontribusi pendapatan langsung dari kegiatan pendakian Everest relatif kecil hanya 3,5 juta dolar per tahun, di luar dari efek pengeluaran para pendaki yang bisa mencapai 12 juta dolar AS. Para pendaki ini berasal dari kalangan lintas usia.

Sempat ada usulan agar para pendaki berusia lanjut dan "anak-anak" dibatasi, tapi pastinya sulit terealiasi. Faktanya banyak pendaki Everest adalah orang-orang veteran atau usia lanjut, persis seperti yang digambarkan dalam film Everest (2015). Mereka seolah berlomba menaklukkan puncak Everest.


Penaklukan Tiada Akhir

Pendakian Everest musim 2016 paling istimewa. Meski memakan beberapa korban jiwa, untuk kali pertama dalam beberapa tahun terakhir puncak Everest kembali terjamah oleh kaki manusia. Setelah dua tahun gunung ini ditutup, karena banyak makan korban jiwa akibat bencana longsor besar pada 2014 dan gempa serta longsor di 2015.

Mencapai puncak Everest, sebuah mimpi dari banyak para pendaki di seluruh dunia. Namun, di gunung ini batas hidup dan kematian sangat tipis. Cerita-cerita menggetarkan hati para pendaki yang berhasil mencapai puncak dan selamat turun dari Everest mewarnai perjalanan sejarah pendakian Everest. Gunung ini juga kerap menjadi titik pamungkas atau ujian terakhir bagi para pendaki “Seven Summits”, pendaki yang berambisi menaklukan tujuh puncak tertinggi di berbagai benua.

Kisah pendaki Brian Dickinson memberi inspirasi bagaimana ketidakberdayaan manusia dan semangat ingin bertahan hidup di Everest. Dickinson termasuk pendaki yang beruntung. Saat sukses mencapai puncak Everest pada 2011, ia hampir meregang nyawa. Mencapai Everest juga tak mudah baginya, tapi lebih sulit untuk kembali turun dari atap dunia ini. Apalagi sherpa pendampingnya memutuskan turun karena sakit menjelang puncak.

Semangatnya tetap tinggi, ia pun memutuskan menggapai puncak tanpa pendamping. Saat kembali turun, Dickinson sempat mengalami kebutaan dari efek pantulan cahaya matahari dengan salju. Ini sebuah masalah besar bagi para penantang maut. Sebagai mantan tim penyelamat angkatan laut, Dickinson punya modal mental untuk bertahan hidup. Semangat tinggi untuk survive dan kesadaran terhadap kekuatan sang pencipta Everest membuat dirinya masih tetap menghirup udara. Keberhasilannya lolos dari "lubang maut" Everest ia torehkan dalam sebuah buku yang menginspirasi banyak orang Blind Descent di 2014 lalu.

“Saya sedang ada di puncak dunia. Tak ada satu pun orang yang menolong saya. Saya sendirian. Saya buta dan saya mau turun. Pada sebuah titik tertentu saya berteriak keras. 'Saya tak mau mati di gunung ini',” kenang Dickinson dikutip dari CBN.


Mengantre demi Everest

Everest memang sudah seperti jalur pendakian wajib bagi para pendaki gunung, terutama yang berkantong tebal. Sayangnya, tak semua pendaki bisa tertampung. Mereka harus mengantre. Tahun 2016 lalu ada sekitar 400 pendaki dan sherpa (pendamping) mengantre untuk menaklukkan sang "dewi ibu" di musim pendakian April-Mei. Pada musim pendakian itu, Everest sudah makan korban 4 orang, 30 orang terkena frostbite yang berujung amputasi.

Teknologi canggih sudah bisa membaca cuaca di Everest yang terkenal ekstrem. Namun, fakta-fakta kematian pendaki di Everest justru bukan hanya longsoran salju, terjatuh, atau risiko alam lainnya, tapi juga faktor pendaki yang terlalu lama di ketinggian Everest. Persoalan antrean menjadi tekanan tersendiri bagi para pendaki, dengan risiko “sakit gunung” yang makin tinggi.

Pada jalur pendakian Everest untuk ketinggian 8.000 meter sering disebut zona kematian. Dickinson menggambarkan seorang pendaki tak bisa berlama-lama di sini. Kadar oksigen yang tipis, membuat pendaki harus terus bergerak dengan langkah yang lambat, sambil napas yang tersengal-sengal.

Zona ini jaraknya tak lebih dari 2 km sebelum puncak Everest, tapi seorang pendaki harus menempuhnya waktu berjam-jam dengan kondisi oksigen sangat tipis. Penurunan kadar oksigen di Everest bisa menyusut jadi 85 persen dari kondisi normal. Bila lokasi makin tinggi, maka kadar oksigen hanya tersisa 35 persen dari normal. Bahaya kurangnya oksigen bisa menghinggapi pendaki, ditandai dengan rasa mual, pusing, sampai halusinasi karena terbatasnya aliran oksigen ke otak dan paru-paru. Celakanya, para pendaki harus mengantre di tengah kondisi ekstrem seperti ini.

“Ini adalah bencana yang dibuat oleh manusia sendiri, yang mungkin bisa ditekan dengan manajemen tim yang lebih baik,” kata President of the Nepal Mountaineering AssociationAng Tschering kepada Associated Press.


Infografik Mozaik Gunung Everest
Infografik Mozaik Gunung Everest. tirto.id/Fuad

Risiko Kematian

Oksigen tipis hanya salah satu risiko pendaki Everest, bahaya lainnya adalah longsoran salju. Suhu di Everest juga terkenal sangat berbahaya. Saat matahari terik, suhu di Everest bisa mencapai 90 Fahrenheit, tapi di saat tertentu suhunya bisa menembus level beku hingga -80 Fahrenheit.

Kematian di Everest sudah jadi fakta yang lumrah. Dalam sebuah jalur pendakian, tak sedikit pendaki lain menyaksikan mayat-mayat yang tergeletak. Bila dihitung rata-rata per tahun, sejak tahun 1900 hingga kini, setiap tahunnya satu nyawa melayang di Everest. Tercatat lebih dari 200 pendaki meregang nyawa sejak 1953, belum termasuk kematian sherpa. Media theatlantic.com mengulas perbandingan tingkat risiko kematian pekerja sherpa di Everest dengan profesi lainnya. Hasilnya sangat mencengangkan, kematian Sherpa di Everest mengalahkan risiko kematian profesi penambang, nelayan, hingga tentara AS yang bertugas di Irak.

“Everest adalah gunung yang ekstrem. Pada ketinggian, kondisi tubuh bisa memburuk dengan level tertentu,” kata Jon Kedrowski, seorang pendaki yang berhasil menapakan kaki di puncak Everest pada 2012 lalu dikutip dari CNN.

Rentetan kematian di Everest tak menyurutkan berbagai pendaki dunia menapaki kaki di puncak Everest. Ancaman nyawa melayang tak menjadi penghalang bagi para penantang maut demi menaklukan puncak tertinggi di Bumi. Semangat penaklukan inilah yang menjadi warna dalam kehidupan manusia.

Mendaki Everest menjadi pilihan bagi para pendaki yang berambisi terhadap naluri manusia. Namun, tak semua orang berpikir seperti Mallory dan para pendaki lainnya yang hanya mengikuti naluri. Mendaki gunung juga sarana mencari pelajaran bagaimana manusia bisa ditempa dalam menjalani dan bertahan hidup di dunia yang keras dan nyata.

==========

Artikel ini terbit pertama kali pada 26 Juni 2016. Redaksi melakukan penyuntingan ulang dan menayangkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait EVEREST atau tulisan menarik lainnya Suhendra
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Suhendra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti

DarkLight