27 Januari 1981

Tenggelamnya Tampomas, Kapal Bekas yang Dibeli Lewat Jalur Culas

Oleh: Petrik Matanasi - 27 Januari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Lautan lepas.
Sebuah kapal bekas
tersungkur amblas.
tirto.id - Dari Tanjung Priok, Jakarta, Kapal Tampomas II bertolak pada Sabtu, 24 Januari 1981, pukul 19.00 WIB. Kapal berisi muatan penuh orang dan barang ini seharusnya berangkat 23 Januari 1981. Karena ada kerusakan mesin, pemberangkatannya harus molor sehari.

Di atas kapal terdapat 191 mobil, 200 sepeda motor, dan diperkirakan 1.442 orang. Dari jumlah itu, yang tercatat secara resmi sebanyak 1.054 orang. Sisanya adalah penumpang gelap.

Setelah sehari semalam melintasi lautan, mesin kapal rusak di Minggu malam 25 Januari 1981 pukul 20.00 WITA karena kebocoran bahan bakar. Api mulai menyambar dan kru mesin mati-matian memadamkannya dengan alat pemadam portabel. Api lalu menjalar ke kompartemen mesin karena pintu dek terbuka.

Usaha pemadaman menemui jalan buntu saat air untuk memadamkan api tak bisa disemprotkan karena generator mati. Api tentu saja semakin berkobar ke luar ruang mesin, bahkan sampai ke ruang tempat disimpannya mobil dan sepeda motor yang berbahan bakar.

Setelah api makin sulit diatasi, Kapten Abdul Rivai, sang nahkoda, mengambil keputusan: mendamparkan kapalnya ke pulau terdekat. Namun usaha itu gagal karena baling-balingnya tak bisa berputar. Matinya listrik membuat radio mati dan pesan ke kapal lain atau syahbandar pelabuhan pun tak bisa dikirim. Isyarat cahaya yang dilontarkan ke udara pun tak menyala.


Panasnya api membuat beberapa penumpang terjun dan yang beruntung turun ke dalam sekoci. Evakuasi penumpang berjalan kacau. Tak ada tanda arah jalan keluar yang jelas di dalam kapal. Bahkan, ada awak kapal yang menurunkan sekoci untuk dirinya sendiri.

Tampomas II makin berada dalam bahaya. Munculnya matahari pada 26 Januari 1981 yang menerangi lautan di sekitar Tampomas dan kobaran api yang terlihat dari kejauhan pun jadi isyarat bagi kapal yang melihatnya. Tampomas II butuh tindakan penyelamatan. Datangnya hujan deras pagi itu, membuat kapal makin dipenuhi air.

Kapal Motor Sangihe, di bawah komando nakhoda kapal Kapten Agus K. Sumirat, adalah yang pertama kali tiba. Mualim J. Bilalu dari KM Sangihe melihat kepulan asap yang semula dikiranya datang dari sumur minyak lepas pantai Pertamina. Markonis KM Sangihe, Abubakar, kemudian mengirim pesan telegraf pada pukul 08.15 terkait nasib Tampomas II.

KM Ilmamui menyusul untuk melakukan pertolongan dan tiba pada pukul 21.00. Disusul empat jam kemudian oleh kapal tangker Istana VI dan kapal-kapal lain, yaitu kapal Adhiguna Karunia dan KM Sengata milik PT. Porodisa Lines.

Ruang mesin Tampomas II akhirnya meledak pada pagi 27 Januari esoknya. Kapal pun makin dipenuhi oleh air laut. Ruang Propeller dan Ruang Generator turut pula terisi air laut, dan kapal miring 45 derajat.

Akhirnya pada 27 Januari 1981, tepat hari ini 37 tahun lalu, Pukul 12.45 WIB atau Pukul 13.45 WITA, Tampomas II tenggelam ke dasar Laut Jawa di sekitar perairan Masalembu. Perairan ini terkenal sebagai Segitiga Bermuda-nya Indonesia.

Kapten Abdul Rivai bersama ratusan penumpang yang tak terselamatkan pun jadi korban tragedi Tamponas II nan nahas itu. Kisah tenggelamnya kapal itu ditulis Bondan Winarno dalam Neraka di Laut Jawa: Tampomas II (1981) berdasarkan hasil reportase Sinar Harapan dan Mutiara.

Kapten Rivai dikenang oleh Ebiet G. Ade sebagai nahkoda berjiwa pahlawan dalam lagu "Sebuah Tragedi 1981" yang dirilis pada 1982. Dewa folk Iwan Fals juga menulis lagu tentang Tampomas II, "Celoteh Camar Tolol Dan Cemar" (1983). Seperti lagu-lagunya di zaman itu, Iwan Fals bersikap kritis. Iwan menyinggung muasal Tampomas II sebelum kapal nahas itu tenggelam.

Tampomas sebuah kapal bekas
Tampomas terbakar di laut lepas
Tampomas tuh penumpang terjun bebas
Tampomas beli lewat jalur culas
Tampomas hati siapa yang tak panas
Tampomas kasus ini wajib tuntas
Tampomas koran koran seperti amblas
Tampomas pahlawanmu kurang tangkas
Tampomas cukup tamat bilang nahas

Infografik Mozaik Kebakaran Tampomas II



Beli Lewat Jalur Culas

Iwan Fals tidak sedang meracau dalam lagunya. Ia benar saat menyebut “Tampomas sebuah kapal bekas.” Menurut buku Penyelewengan Dibalik Tenggelamnya Tampomas II (1982), kapal bekas ini dibeli melalui PT Pengembangan Armada Niaga Nasional (PANN) dari perusahaan Jepang Comodo Marine Co. SA dengan harga US$8,3 juta. Angka ini mengherankan beberapa pihak karena PANN ternyata pernah diberi tawaran kapal lain yang harganya hanya US$3,6 Juta.

Tampomas II diproduksi Mitsubishi Heavy Industries di Shimonoseki, Jepang, pada 1956 dengan lebar 22 meter dan panjang 125,6 meter. Kapal ini berjenis Roll on Roll off dengan tipe Screw dan berbobot mati 2419690 dwt.

Kapal ini sempat dimodifikasi ulang pada 1971 sehingga bisa dipacu pada kecepatan 19,5 knot. Memorandum of Agreement (Moa) pembelian kapal tercatat pada 23 Februari 1980 dengan Junus Effendi Habibie alias Fanny Habibie, adik B.J. Habibie, bertindak sebagai Ketua Steering Committe (SC) pembeliannya. Tapi ia menampik bertanggung jawab soal spesifikasi kapal.


“Saya hanya bertanggungjawab atas pembuatan MoA. Saya tidak bertanggungjawab langsung atas sesuai atau tidaknya kapal yang diserahkan dengan persyaratan yang dicantumkan dalam MoA,” ujar Fanny Habibie yang mantan kapten pada Angkatan Laut zaman Sukarno.

Tampomas adalah nama sebuah gunung di Sumedang, Jawa Barat. Ia menjadi nama bagi kapal yang beroperasi sejak Mei 1980 di bawah bendera PT PELNI. Kapal bekas, tua, dan tak terawat ini harus bekerja keras seperti kapal baru. Akhirnya, ia pun tenggelam di hari nahas itu. Sebanyak 666 orang menjadi korban.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight