Tenaga Surya Versus Batu Bara, Mana Lebih Murah?

Oleh: Wan Ulfa Nur Zuhra - 12 Juli 2016
Dibaca Normal 3 menit
Batu bara merupakan sumber energi listrik paling murah. Tenaga surya adalah energi yang biayanya mahal. Benarkah demikian? Dalam konteks kekinian, keduanya adalah klaim yang sudah usang.
tirto.id - Sekitar 3490 sebelum Masehi, batu bara sudah ditambang dan digunakan untuk kebutuhan rumah tangga di Cina. Sebuah risalah pada batu pernah menceritakan penggunaan batu bara oleh pandai besi. Risalah itu ditemukan oleh ilmuwan Yunani Theophrastus.

“Di antara bahan yang digali karena mereka berguna, yang dikenal sebagai bara terbuat dari bumi, dan, sekali dibakar, mereka membakar seperti arang. Mereka ditemukan di Liguria dan di Elis sebagai salah satu pendekatan Olympia oleh jalan gunung; dan mereka digunakan oleh para pandai besi,” demikian tertulis dalam risalah batu itu.

Tahun demi tahun, abad demi abad, batu bara tak lagi ditambang hanya untuk kebutuhan rumah tangga atau para pandai besi. Batu bara menjadi komoditas primadona dan ditambang secara membabi buta oleh perorangan hingga korporasi.

Penggunaan batu bara yang terbilang masif membawa berbagai dampak buruk. Di Kalimantan, tambang batu bara menyisakan lubang-lubang raksasa menganga yang sudah merenggut nyawa manusia. Di Hunter Valley, Australia, aktivitas tambang batu bara mengakibatkan penyakit asma pada masyarakat sekitar lokasi tambang. Akibatnya, tambang batu bara banyak dikecam, mulai dari aktivis lingkungan hingga petani anggur di Australia.

Tahun 2014, harga batu bara merosot. Perusahaan penambang batu bara di Indonesia mulai kelimpungan. Aktivitas tambang lesu. Salah satu perusahaan tambang, PT United Coal Indonesia sampai harus berurusan di pengadilan dan akhirnya dinyatakan pailit.

Perusahaan pembiayaan yang sebelumnya bergantung pada aktivitas tambang pun terkena imbas. Tak berhenti sampai di situ, banyak perusahaan shipping yang mengangkut batu bara juga gulung tikar, PT Meranti Maritime salah satunya.

Masa kejayaan batu bara terlihat mulai memudar dan kebangkitan energi terbarukan tampak semakin menjanjikan. Dubai mengumumkan akan membangun pembangkit listrik tenaga surya sebesar 800 megawatt pada 27 Juni lalu. Ini menjadi salah satu langkah dalam Strategi Energi Bersih Dubai 2050 yang menargetkan 75 persen penggunaan energi terbarukan pada 2050.

Lokasi panel surya akan terpusat pada satu titik. Ia akan menghasilkan listrik dengan biaya rata-rata 2,99 sen per kilowatt jam. Bloomberg menyebutkan biaya rata-rata untuk tenaga surya sepertiga kali lebih murah dibandingkan dengan pembangkit listrik batu bara yang juga sedang dibangun di kota terbesar di Uni Emirat Arab itu.

Jatuhnya harga pembangkit listrik tenaga surya ini tentu akan mengubah bisnis di sektor energi. Selama ini, banyak negara menggantungkan kebutuhan listriknya pada batu bara. Tak peduli batu hitam itu adalah energi kotor yang berkontribusi besar dalam pemanasan global. Di Indonesia, sekitar 79 persen listrik masih berasal dari batu bara.

Beberapa negara juga mengandalkan tenaga air sebagai sumber pembangkit listrik. Air memang sumber energi murah dan ramah lingkungan. Tetapi untuk kawasan yang kering seperti Dubai, pembangkit listrik tenaga air adalah kemustahilan. Maka, energi matahari adalah sebuah solusi.




Menghitung Biaya Panel Surya

Di kepulauan Pasifik, ada satu negara kecil bernama Tokelau. Penduduknya hanya 1.500. Luas wilayah daratannya cuma 10,8 kilometer persegi. Sampai tahun 2012, penduduk negara ini mengandalkan generator untuk memenuhi kebutuhan listriknya. Listrik hanya menyala sekitar 12—18 jam per hari.

Dalam setahun, Tokelau butuh 2.000 drum minyak untuk menyalakan generator. Biaya listrik untuk 1.500 orang itu mencapai $1 juta atau setara Rp13 miliar per tahun. Ini angka yang cukup besar untuk negara dengan jumlah penduduk sekecil Tokelau.

Tahun 2012, mereka mendapat pinjaman senilai $7 juta dari Selandia Baru untuk membangun pembangkit listrik tenaga surya. Uang yang biasanya dihabiskan untuk membeli bahan bakar generator, digunakan untuk membayar utang tersebut. Dalam waktu sembilan tahun, utang itu akan lunas. Selanjutnya, tak perlu lagi mengeluarkan $1 juta pertahun.

Kini, Tokelau menjadi negara pertama di bumi yang seluruh kebutuhan listriknya berasal dari energi matahari. Generator yang ada tetap dirawat sebagai cadangan. Tak hanya menghemat biaya listrik jangka panjang, negara bekas jajahan Inggris ini juga berkontribusi mengurangi emisi karbon.

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah listrik dengan panel surya lebih murah dari tarif listrik di Indonesia? Rumah dengan kapasitas listrik 1.300 watt, harus membayar sekitar Rp500.000 setiap bulan kepada PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai penyedia listrik. Dalam setahun, biaya listrik satu rumah ini mencapai Rp6 juta. Bagaimana jika kebutuhan 1.300 watt ini digantikan dengan panel surya?

Kita mulai dulu perhitungan dengan total beban listrik. Rumah dengan kapasitas 1.300 watt belum tentu menggunakan seluruh kapasitas itu. Berapa watt rata-rata yang digunakan rumah setiap jamnya? Sebut saja 200 watt.

Lalu, berapa lama beban 200 watt ini digunakan dalam sehari? Kalau jawabannya adalah 12 jam, maka beban listrik yang digunakan rumah tersebut dalam sehari adalah 2.400 watt. Yang harus dihitung selanjutnya adalah jumlah baterai yang dibutuhkan untuk menyimpan daya 2.400 watt.

Jumlah beban 2.400 watt perlu ditambahkan 20 persen untuk penggunaan perangkat seperti inverter yang mengubah arus DC menjadi AC dan controller sebagai pengatur arus. Jadi, total beban menjadi 2.880 watt.

Total beban itu harus dibagikan dengan 12 Volt—tegangan umum yang dimiliki baterai—untuk mengetahui jumlah arusnya. Maka, total arus yang dibutuhkan adalah 240 ampere.

Jadi, jika menggunakan baterai 60 Ah 12 Volt, maka dibutuhkan empat buah baterai. Makna dari 60 Ah 12 volt adalah baterai tersebut memiliki tegangan 12 volt dengan arus 60 ampere jika digunakan dalam satu jam.

Setelah mendapatkan jumlah baterai, yang harus dihitung kemudian adalah jumlah panel surya yang dibutuhkan. Jika panel berukuran 100 watt peak (wp) yang digunakan, maka dalam sehari panel ini bisa menghasilkan 500 watt listrik. Ini dengan asumsi dalam sehari panel surya hanya mampu menyerap sinar matahari selama lima jam. Dengan begitu, untuk 2.880 watt, dibutuhkan enam panel surya.

Kisaran harga panel surya adalah $10 per wp. Artinya, enam panel wp berkapasitas 600 wp menguras kocek senilai $6.000 atau sekitar Rp79,8 juta dengan kus dolar saat ini. Sepintas, ini tampak mahal. Ibaratnya, kita harus membayar listrik sepuluh tahun ke depan yang belum kita gunakan.

Akan tetapi, bukankah kita akan terus membutuhkan listrik? Dan dengan panel surya, kita hanya membayar sepuluh tahun penggunaan listrik dan menikmatinya dalam waktu yang jauh lebih lama? Untuk jangka panjang, panel surya jelas jauh lebih menguntungkan. Pengguna panel surya bisa menghemat dan mengurangi emisi karbon dalam waktu bersamaan.

Perawatannya pun tak memakan banyak biaya. Panel surya hanya harus dibersihkan dari debu dengan menggunakan air dan sabun. Ini bisa dilakukan enam bulan sekali untuk menjamin panel tersebut menyerap energi matahari dengan maksimal. Tak ada biaya apa-apa.

Dosen Teknik Fisika ITB Brian Yuliarto mengatakan sebuah sistem panel surya dengan perawatan yang baik bisa bertahan lebih dari 20 hingga 30 tahun. Tak heran, jika di Nevada, Amerika Serikat, banyak warga yang menggadaikan rumahnya untuk biaya pembuatan panel surya.

Jika dilakukan sendiri-sendiri oleh warga, investasi energi matahari tentu terasa sangat memberatkan. Tetapi jika dilakukan oleh pemerintah, seperti yang dilakukan di Dubai, hasilnya tentu akan lebih maksimal. Dan yang paling penting adalah, Dubai telah membuktikan bahwa harga yang harus dibayar tidak lebih mahal dari batu bara.




Baca juga artikel terkait PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA atau tulisan menarik lainnya Wan Ulfa Nur Zuhra
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Wan Ulfa Nur Zuhra
Penulis: Wan Ulfa Nur Zuhra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti