Telecommuting: Masih Relevankah Bekerja di Kantor?

Oleh: Eddward S Kennedy - 1 April 2019
Dibaca Normal 3 menit
Bekerja tanpa kantor kini tengah menjadi semangat zaman. Apakah ke depannya perkantoran sudah tidak lagi diperlukan?
tirto.id - Ketika menjadi direktur untuk divisi penelitian interdisipliner di University of Southern California pada 1973, Jack Nilles menciptakan istilah yang kelak menandai sebuah era dalam dunia industri: telecommuting.

Secara definitif, telecommuting merupakan sebuah sistem yang mengedepankan fleksibilitas kerja, di mana karyawan tak perlu pergi ke kantor karena segala komunikasi dapat dilakukan lewat bantuan teknologi. Dengan sistem ini, banyak karyawan yang pada akhirnya bekerja di rumah. Sementara lainnya, yang lazim disebut pekerja nomaden (nomad workers) atau web commuters memilih bekerja dari kafe atau co-working space yang nyaman bagi mereka.

Satu istilah lain yang turut diciptakan Nilles kala itu adalah telework. Istilah tersebut merujuk pada penggantian segala bentuk teknologi telekomunikasi yang terkait dengan pekerjaan-yang-perlu-bepergian, yang pada akhirnya mengurangi hambatan jarak dengan telecommuting. Seseorang yang melakukan telecommuting pada praktiknya dapat disebut pula sebagai telecommuter.

Gagasan telecommuting muncul seiring dengan berkembangnya teknologi era 1970-an awal di AS yang ditandai dengan terhubungnya kantor-kantor satelit ke perkotaan dan perumahan melalui dumb terminals (piranti yang digunakan untuk memasukkan, mentransmisikan data ke, dan menampilkan data dari komputer) lewat saluran telepon sebagai jembatan jaringan (network bridge). Hal tersebut secara otomatis membuat penyusutan biaya yang signifikan, sehingga ide mengenai desentralisasi perkantoran pun turut pula mewabah.

Memasuki periode 1980 awal, proses keterhubungan kantor-kantor cabang dan pekerja rumahan difasilitasi oleh groupware, jaringan virtual privat, video conference, dan VoiceoverIP (VoIP). Perusahaan pun menganggap hal ini sangat efisien dan bermanfaat. Itulah kenapa kemudian pada tahun 1983, sekitar 2000-an karyawan IBM sudah bekerja secara teleworking.

Pada masa sekarang, dengan kian masifnya sistem komputasi awan (cloud computing) dan ketersediaan teknologi Wi-Fi di berbagai lokasi (yang tidak termasuk kategori urban sekalipun) para telecommuters kian mudah untuk mempraktikkan sistem kerja-tanpa-harus-ke-kantor. Namun demikian, apakah itu berarti telecommuting sepenuhnya akan menggantikan pola kerja konvensional?

Dilema Perusahaan

Clark Valberg, CEO dan pendiri InVision, salah satu perusahaan penyedia piranti lunak untuk desain terbesar di dunia, punya sebuah keinginan dahsyat: ingin menghapus sistem perkantoran selamanya. Ia tidak main-main dengan gagasan tersebut. Kepada BBC ia mengaku: seluruh karyawan InVision yang berjumlah 850 orang sudah bekerja secara telecommuting.


Sejak didirikan tujuh tahun lalu di Brooklyn, New York, InVision kini telah digunakan oleh 4,5 juta orang di ribuan perusahaan, termasuk 80 perusahaan raksasa yang tercantum dalam daftar Fortune 100. Pelanggan terkemuka mereka antara lain termasuk Starbucks, Lyft, Netflix, dan Gap. Mereka menggunakan model bisnis standar freemium SaaS (Software as a Service), di mana konsumen bisa berlangganan hingga lima desain dengan biaya 100 dolar per bulan, tergantung dari penggunaan dan ukuran tim.

Kendati demikian, InVision tentunya juga sempat beberapa kali kendala dalam mengembangkan bisnis mereka. Terutama ketika harus berhadapan dengan beberapa perusahaan super besar yang juga bermain di ranah yang sama. Ketika Google, misalnya, melakukan ekspansi besar-besaran di kantor Manhattan, Clark sadar jika InVision tidak mungkin bersaing mengingat jumlah coders mereka yang terbatas.

Maka sebab itu, Clark pun menempuh jalan inovatif yang selama ini berkebalikan dengan pola pikir C-suite (kelompok eksekutif pada level C seperti CEO, CFO, CMO, atau COO) yang konvensional: membiarkan para karyawan mengatur jadwal dan lokasi kerja mereka. Selain, tentu saja, turut meningkatkan bayaran menjadi dua kali lipat, kendatipun jumlah itu masih jauh lebih sedikit daripada yang ditawarkan di Silicon Valley.

Clark memanfaatkan betul teknologi komunikasi untuk menjalankan sistem desentralisasi kantor semacam itu. Dalam hal ini, InVision memanfaatkan Slack tak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sarana untuk mencari solusi. Dengan cara inilah InVasion kini ditaksir telah mencapai valuasi lebih dari 1 miliar dolar. Mereka bahkan sudah lebih besar daripada Slack sendiri yang sempat pula dinobatkan Inc.'s Company of the Year 2015.

Keberanian Clark menerabas sekat-sekat konvensional tersebut terjadi karena ia percaya betul betapa kedekatan fisik sebagai syarat utama untuk memajukan perusahaan hanyalah mitos belaka. Bahwa gagasan hebat hanya akan muncul ketika orang-orang dari lintas disiplin ilmu adalah bagian dari masa lampau.

“Inovasi bukan sihir, melainkan hasil dari pengaturan yang tepat,” ujar Clark dalam wawancaranya bersama Inc. “Ketika Anda mempertimbangkannya dengan amat matang, maka hal itu akan sering terjadi.”

Apa yang dilakukan Clark segendang-sepenarian dengan studi Amerisleep yang dilansir pada Januari 2019. Dari 1.000 teleworker di AS yang mereka survei, 75 persen tidak berencana untuk kembali ke kantor lagi dan 57 persen dari mereka cenderung lebih bahagia daripada pekerja konvensional karena fleksibilitas tempat kerja.

Kendati demikian, apa yang dilakukan Clark bersama InVision dan studi Amerisleep tentunya tidak dapat begitu saja menjadi parameter mutlak untuk menyebut bahwa telecommuting akan menjadi masa depan industri. Sebab faktanya, masih terdapat banyak pro-kontra terkait sistem tersebut.

Infografik Telecommuting atau telework
undefined


Pada 2014, misalnya, The Guardian menurunkan artikel yang menyebutkan bahwa beberapa perusahaan besar di Amerika Serikat seperti Yahoo, Best Buy, dan Hewlett-Packard (HP) memutuskan untuk tidak lagi menggunakan kebijakan telecommuting karena beberapa pekerjaan dianggap butuh kolaborasi dan inovasi yang digarap bersama oleh para karyawan di kantor.

Khusus Best Buy, ketika perusahaan penyedia piranti elektronik itu masih belum menjalani sistem telecommuting, University of Minnesota pernah melakukan riset dengan melibatkan sampel 300 karyawan yang bekerja dari rumah dan 300 karyawan lain yang bekerja di kantor. Hasilnya: jumlah karyawan yang resign karena tidak betah bekerja di perusahaan tersebut turun 45 persen.

Keputusan Yahoo, Best Buy, dan HP di tahun 2014 dengan kembali memakai sistem kerja konvensional sejatinya cukup mengejutkan, sebab banyak riset di tahun yang sama justru banyak menunjukkan hal sebaliknya: produktivitas karyawan meningkat di bawah sistem telecommuting.



Salah satu riset yang banyak dikutip pernah dilakukan Nicholas Bloom, seorang profesor ekonomi dari Stanford University, bersama mahasiswa pascasarjana bernama James Liang, yang merupakan salah satu pendiri situsweb travel populer di China, Ctrip. Mereka membandingkan produktivitas antara para karyawan di divisi call center yang bekerja di kantor dan yang bekerja dari jarak jauh atau tidak di kantor selama sembilan bulan.

Hasil riset tersebut menunjukkan: para karyawan yang bekerja dari jauh menerima telepon 13,5 persen lebih banyak daripada karyawan di kantor. Itu artinya, karyawan di luar kantor relatif lebih produktif. Mengapa demikian? Dalam wawancaranya dengan Harvard Business Review, Bloom sempat menjelaskan hal ini.

“Menurut kami, sepertiga dari peningkatan produktivitas terjadi karena karyawan memiliki lingkungan yang lebih tenang. Di rumah, orang tidak mengalami apa yang kami sebut dengan efek ‘cake in the break room’. Dua pertiga lainnya dapat dikaitkan dengan fakta bahwa orang-orang di rumah bekerja lebih lama. Mereka mulai lebih awal, beristirahat lebih pendek, dan bekerja sampai akhir hari,” ujar Bloom.

Baca juga artikel terkait DUNIA KERJA atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Gaya Hidup)


Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Nuran Wibisono