Teknologi Penghapus Kenangan: Demi 'Move On' & Sembuh dari PTSD

Infografik menghapus kenangan
Film Eternal Sunshine of the Spotless Mind. FOTO/imdb.com.
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 2 Juli 2019
Dibaca Normal 4 menit
Untuk memudahkan ‘move-on’ dari mantan terindah hingga menyembuhkan gangguan stres pasca-trauma. Sukses dicoba di spesies non-manusia.
tirto.id - “Kau bisa menghapus seseorang dari pikiranmu. Tapi dari dalam hati, itu soal lain.”

Sepenggal kalimat bijak ini harus dipahami Joel Barish (Jim Carey) melalui serangkaian pengalaman pahit. Meski bisa menghapus sosok Clementine (Kate Winslet) dari pikirannya, melalui jasa penghapus ingatan Lacuna Inc., ia menyadari bahwa Clementine tinggal secara lebih mendalam di lubuk hatinya.

Eternal Sunshine of Spotless Mind (2004) dikenang sebagai lebih dari sekedar film percintaan. Elemen fiksi-ilmiahnya terus diperbincangkan sebab membayangkan metode atau teknologi yang bisa membantu seseorang untuk bisa move on.

Alih-alih berdamai dengan masa lalu yang pahit, metode atau teknologi itu akan menghilangkannya secara permanen dari bilik memori jangka panjang.

Lingkar akademisi tidak membatasi tujuan untuk urusan romantis, tapi untuk tujuan ilmiah yang lebih luas. Misalnya dipakai oleh pengidap gangguan stres pasca-trauma (PTSD) untuk menghapus pengalaman tragisnya. Harapannya, tentu saja, agar mereka bisa melanjutkan hidup dengan lebih tenang.

Science Alert mencatat pada masa lalu ilmuwan berpikir memori disimpan dalam satu bilik neurologis. Mereka kemudian menyadari bahwa masing-masing memori tersimpan pada banyak titik di dalam otak.

Memori terbentuk ketika protein menstimulasi sel-sel otak untuk tumbuh dan membentuk koneksi-koneksi baru, jaringan-jaringan baru, yang akhirnya membangun sirkuit pikiran manusia. Sejak saat itu memori tersimpan baik di bilik jangka pendek (short-term) maupun bilik jangka panjang (long-term).

Memori jangka panjang bersifat tidak stabil. Ia cenderung melunak saat dikunjungi. Prosesnya bernama rekonsolidasi. Hal ini menjelaskan mengapa memori bisa berubah dari waktu ke waktu, sesuai dengan respons emosional orang yang bersangkutan terhadap memori tersebut.

Contoh, memori terluka berat akibat jatuh dari sepeda motor. Setiap kali diingat dengan perasaan kesal, memori itu akan menghasilkan rasa takut dan sedih. Jika berlangsung secara terus menerus, hasilnya adalah perasaan takut saat melihat atau bahkan memikirkan sepeda motor.


Semakin kompleks otak satu spesies, semakin rumit proses rekonsolidasinya. Selama ini ilmuwan “bermain-main” dengan memori spesies non-manusia karena memiliki struktur otak yang jauh lebih sederhana.

Tim peneliti dari University of California Los Angeles (UCLA) pernah menghapus memori menyakitkan dari siput laut. Temuan mereka publikasikan di Journal of Neuroscience edisi 27 April 2011.

Tim peneliti mula-mula menerapkan setrum ringan ke siput, lalu dicubit di satu bagian. Prosedurnya dilakukan berkali-kali. Tujuannya agar siput mengasosiasikan cubitan dengan rasa sakit akibat disetrum. Siput terbukti mengingat rasa sakit karena berkontraksi ketika disentuh di bagian yang sama.

Setelah tim menghambat aktivitas pada enzim memori jangka panjang yang disebut PKM Apl III, siput tidak bereaksi saat dicubit. Ia lupa dengan asosiasi antara cubitan dan setruman. Mengutip periset senior tim David Glanzman dalam siaran pers, “memori jangka panjangnya hilang”.

Keberhasilan itu memunculkan wacana penghapusan memori pada manusia di masa depan. Pasalnya, masih mengutip Glanzman, “hampir semua proses terkait memori pada siput punya hubungan dengan aktivitas memori di otak mamalia”.

Nature Research edisi Oktober 2012 melaporkan keberhasilan para peneliti Stanford University menghapus memori traumatis pada beberapa ekor tikus.

Pertama, mereka melatih si tikus untuk merasa takut. Caranya dengan menyemprotkan parfum jasmine, lalu disetrum. Usai beberapa kali pengulangan, tikus merasakan trauma terhadap parfum sebab ia mengasosiasikannya dengan rasa sakit.

Tim kemudian membagi tikus ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama dipapar parfum saat sedang tidur tanpa dilanjutkan setruman. Responsnya adalah rasa takut setelah bangun. Tikus-tikus ini bak pengidap Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) yang traumanya kambuh saat terpapar objek yang diasosiasikan dengan pengalaman tragisnya.

Kelompok tikus kedua diberi obat penghambat produksi protein di amigdala basolateral—area otak yang terkait penyimpangan memori traumatis—sebelum mereka tidur.

Setelah dipapar parfum, mereka bangun tanpa menunjukkan respons ketakutan sebagaimana yang tampak pada tikus-tikus di kelompok pertama. Respons ini bertahan bahkan saat mereka dibawa ke lingkungan baru.

Percobaan Li-Huei Tsai dari Massachusetts Institute of Technology (Smithsonian Magazine, 2014) atau Kazumasa Tanaka dkk (dari laman kampus University of California, Davis, 2014) sama-sama melibatkan tikus. Perlakuan memanipulasi memorinya juga serupa.


Meski terdengar menjanjikan, menjajaki percobaan yang sama pada otak manusia adalah pekerjaan ddengan tantangan yang sama sekali berbeda.

Kembali mengutip Science Alert, walaupun sejumlah ilmuwan pernah berhasil mengikis fobia dan trauma, penghilangan ingatan secara sepenuhnya dari bilik memori jangka panjang manusia masih terkendala oleh dua hal.

Pertama, kendala teknis. Struktur manusia jauh lebih kompleks ketimbang spesies lain. Pada konteks siput laut, misalnya, tantangan ilmuwan hanya berkutat pada sambungan antara dua neuron.

Meski ilmuwan berhasil menciptakan protein PKM yang dapat menghambat aktivitas memori, mereka masih harus membangun teknologi yang mampu menargetkan ingatan secara spesifik. Jika gagal, resikonya adalah hilangnya seluruh memori jangka panjang si pasien, bukan yang traumatis saja.

Kembali merujuk pada adegan film Eternal Sunshine of Spotless Mind, secara prinsip barangkali mirip dengan cara kerja Lacuna Inc.

Mula-mula pasien diperlihatkan objek pemicu memori traumatis. Di layar komputer muncul titik-titik yang menunjukkan lokasi memori traumatis itu, yang tersebar di sejumlah wilayah otak pasien.

Titik-titik itu kemudian dihilangkan selama pasien tidur. Ketika terbangun, pasien bak lupa ingatan tapi khusus untuk memori traumatisnya.


Kedua, kendala etis. Dua tahun lalu Rachel Riederer pernah mengulas soal mesin pengedit memori di kanal Vice. Ia meminta pendapat Julie Robillard, ahli neurologi yang pernah menulis tren manipulasi memori untuk jurnal yang dikelola American Medical Association.

Robillard menegaskan bahwa teknologi manipulasi kenangan dan produk bioteknologi lain mesti dibangun, digunakan, serta dikontrol dalam lingkungan interdisipliner.

Misalnya, para ilmuwan dan ahli etika harus bekerja sama untuk merumuskan aturan main dalam penerapan teknologi penghapus memori. Mereka juga mesti membuat rumusan yang jelas mengapa teknologi itu dipandang perlu untuk ada.

Robillard tidak mengelak bahwa teknologi penghapus memori memiliki kegunaan positif. Selain memudahkan hidup penderita PTSD, teknologi ini diklaim akan membantu pengguna narkoba untuk keluar dari adiksinya, juga mendorong barisan patah hati untuk secara instan move-on dari mantannya.



Tetapi, bersamaan dengan hadirnya teknologi itu, muncul pertanyaan-pertanyaan penting yang mendesak untuk dijawab (agar dampak-dampak horor yang ditampilkan serial Black Mirror tidak menjadi kenyataan).

Misalnya, siapa otoritas yang berhak menjalankan proses penghapusan? Bagaimana cara paling tepat untuk menyeleksi jenis-jenis memori yang boleh dihapus dan yang tidak? Apakah teknologi bisa diakses oleh semua orang atau ujung-ujungnya bersifat elitis semata?

“Bagaimana Anda bisa melaporkan kejadian kriminal atau menjadi saksi untuk proses penyelidikannya jika memori atas kejadian itu telah terhapus? Apakah narapidana akan dipaksa menjalani prosedurnya demi mengurangi kemungkinan mengulangi kejahatan yang sama setelah ia bebas?,” tambah Robillard.


Sewindu yang lalu Lane Wallace menganalisis polemik ini di kanal Atlantic. Ia berkaca pada pengalamannya sendiri. Pada usia 20 tahun Wallace mengalami kecelakaan mobil tunggal. Ia kemudian dibawa ke rumah sakit dalam kondisi teramat kritis, tapi untungnya bisa sembuh.

Itu secara fisik. Secara mental Wallace menderita PTSD yang membuatnya kehilangan karier hingga teman dekat. Psikolog mengawasinya selama 24 jam karena khawatir Wallace akan melukai dirinya sendiri.

Singkat cerita, kecelakaan itu menjelma sebagai pengalaman traumatis. Tapi, di sisi lain, kejadian itu menjadi momentum transformatif yang membuat Wallace tumbuh sebagai pribadi yang lebih waspada di segala situasi. Secara umum ia juga makin mudah berbahagia serta lebih gampang mensyukuri hidup.

Wallace tentu tidak sedang menyamakan kondisinya dengan veteran perang, penyintas genosida, atau saksi kejadian horor lain. Poin utamanya: ia menjadi dirinya yang lebih bijaksana sekarang berkat kecelakaan yang ia alami dulu.

Menghapus kenangan pahit barangkali solusi yang instan, kata Wallace, tapi di sisi lain ia belajar banyak darinya. Setiap kejadian, baik maupun buruk, pada akhirnya punya peluang untuk menjadikan diri lebih baik ke depannya.

Ia menutup refleksi dengan memberikan kebebasan bagi para pembaca: memilih untuk mengingat, atau melupakan?

Baca juga artikel terkait MEMORI atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight