Serial Komikus Indonesia

Teguh Santosa, Menggambar Komik dengan Filmis

Infografik Serial Komikus Teguh santosa
Ilustrasi Teguh Santosa. tirto.id/Sabit
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 1 April 2019
Dibaca Normal 4 menit
Berbekal teknik yang dipelajari otodidak, Teguh Santosa memantapkan diri memilih jalan hidup sebagai seniman gambar. Menemukan teknik blok tinta yang jadi ciri khasnya melalui kebetulan.
tirto.id - Apabila kasus patung putri duyung Ancol yang ditutupi kain terjadi pada 1970-an, komikus Teguh Santosa barangkali bakal jadi yang pertama kali berang. Dulu komiknya pernah dapat perlakuan yang nisbi sama. Salah satu panel komiknya yang memampang adegan erotis diblok hitam dan dicap “Sensor!”.

Bahkan ia sampai diinterogasi polisi gara-gara dianggap keseringan menyisipkan erotisme dalam komiknya. Tentu saja, sebagai seniman, Teguh merasa kebebasannya berekspresi dikekang.

Tak mau tunduk, Teguh merepet balik polisi yang menginterogasinya. Dengan telak ia menunjuk erotisme yang sudah sejak tahun jebot hidup di masyarakat Nusantara. Contoh sahihnya: patung Loro Jonggrang di Candi Prambanan.

“Relief candi di zaman Hindu Buddha yang dirujuk sebagai cikal bakal komik Indonesia juga memuat adegan-adegan yang penuh manusia telanjang dada, termasuk wanita. Lalu mau diapakan candi-candi itu? Wong budaya kita sendiri saja juga penuh erotisme,” ungkap Teguh sebagaimana dicatat putranya Dhany Valiandra dalam bunga rampai Maestro of Darkness Teguh Santosa (2016, hlm. 33).

Tapi jangan salah sangka, meski pernah berurusan dengan polisi gara-gara erotisme, Teguh bukanlah komikus kaleng-kaleng. Namanya masyhur dan dikenang banyak penekun komik lokal bukan karena ia komikus erotis, tetapi karena roman sejarah dan silat-mistiknya. Ia adalah salah satu titan di masa puncak kejayaan komik Indonesia dekade 1970-an.

Dari Majalah hingga Grup Ketoprak

Teguh Santosa yang lahir di Malang pada 1942 belajar menggambar secara autodidak. Sekolah formalnya tak lebih tinggi dari jenjang SMA, karena setelah lulus ia memutuskan untuk jadi seniman. Untuk menyambung hidup ia berjualan amplop bergambar di depan Kantor Pos Besar Malang dan Jalan Kayu Tangan.


Wawasan dan kemampuan gambar Teguh terasah kala ia bergabung dengan grup ketoprak tobong Siswo Budoyo. Soemarmo Adji, sang ayah, adalah pelukis set di grup ketoprak itu. Dari Malang ia lantas mengembara ke Yogyakarta dan bergabung dengan grup seni Sanggar Bambu.

Di Sanggar Bambu ia mendapat bimbingan dari beberapa seniman penting. Ada pelukis Sunarto Pr, pendiri sanggar, yang mengajarinya gaya arsir dan tipografi. Lain itu Teguh juga dapat bimbingan dari Kentarjo si ilustrator cerita silat S.H. Mintarja dan komikus Abdulsalam.

“Dari pengakuan Bapak, Pak Nartolah yang mengarahkannya untuk menjadi seorang ilustrator komik, karena di Jogja pada saat itu telah banyak anggota Sanggar Bambu yang menjadi pelukis,” tulis Dhany (hlm. 6).

Memang jalan itulah yang kemudian ditempuh Teguh. Lebih dulu ia jadi ilustrator di majalah berbahasa Jawa Djaja Baja dan kemudian majalah Gelora. Ia banyak menggambar untuk kisah-kisah kepahlawanan. Hingga komik debutnya yang berjudul Suma terbit pada 1963.

Tentang komik pertama ini, Arwendo Atmowiloto dalam artikel “Koran Medan, Serta Cinta Jakarta” yang terbit di Kompas (11/8/1979), memujinya sebagai karya yang dikerjakan dengan, “Tekun, serius, sampai kepada teks yang dituliskan dalam huruf-huruf yang perbandingannya tetap. Sungguh prestasi yang tak diikuti oleh komikus yang lain.”

Rentang Karya

Selepas Suma Teguh masih menggarap beberapa komik lagi sebagai penggambar. Sebutlah Ki Danureksa dan Pusaka Sunan Giri (1964) berdasar cerita anggitan Basuki Rachmat dan Airlangga (1964) berdasar cerita dari Pitono.

Sekira 1966 Teguh pindah kerja ke majalah Kemuning yang berkantor di Semarang. Sayang sekali, majalah itu bangkrut setahun kemudian. Sejak itu Teguh memutuskan untuk mudik ke Malang dan lebih serius lagi menekuni komik.

Nama Teguh Santosa kian harum sebagai komikus pilih tanding kala ia menganggit drama sejarah Sandhora pada 1969. Terbit dalam sepuluh jilid, komik itu mendapat sambutan sangat bagus dari pembaca. Kisah Sandhora lantas dilanjutkan dengan sekuelnya Mat Romeo (1971) dan berakhir sebagai trilogi dengan Mencari Mayat Mat Pelor (1974).

Kisah ini berhulu dari petualangan Therezia Sandhora van Lawick—putri angkat seorang penyelundup senjata dari Filipina. Suatu kali dalam sebuah upaya penyelundupan senjata ke Surabaya ia bertemu dengan seorang berandal bernama Mat Pelor. Berdua kemudian mereka bertualang hingga ke Malaka, Sumatra, dan Sulawesi.

Yang bikin menarik, petualangan Sandhora dan Mat Pelor itu bersinggungan dengan peristiwa Perang Paderi yang bersejarah. Di serial kedua, giliran anak Sandhora, Mat Romeo, yang bertualang. Kali ini kisahnya terjadi Filipina, di mana Mat Romeo terlibat pemberontakan melawan penjajah Spanyol.

“Trilogi Sandhora ini dianggap salah satu komik epik terbaik Indonesia yang berlatar sejarah. Selain unggul dalam pengisahan, penggarapan visual Teguh juga amat rapi. Teguh melakukan riset, menggubah cerita, melukis dan menggambar sendiri sampul komik ini,” tulis Anton Kurnia dalam Buah Terlarang & Cinta Morina: Catatan dari Dunia Komik (2017, hlm. 81).

Karya lain Teguh yang mengeksplorasi sejarah di antaranya serial Mahesa Rani yang berlatar zaman Singasari dan terbit di majalah Hai. Ada juga serial The Godfather 1800 yang mengadaptasi kisah mafia Mario Puzo ke alam Selat Malaka dan bersinggungan dengan sejarah Perang Diponegoro.

Lain itu, komik silat berbumbu mistik juga jadi trademark Teguh di pertengahan 1970-an. Sebutlah misalnya Hancurnya Istana Sihir (1972), Si Mata Siwa (1973), Kamadhatu (1975) dan Pendekar Pilihan Dewa (1979). Komik terakhir itu sungguh unik karena Teguh memadukan cerita silat dengan unsur-unsur futuristik ala film Star Wars.

Seiring dengan melesunya pasar komik pada 1980an, produktivitas Teguh juga menurun. Tapi setidaknya ia masih bertahan dengan membikin serial wayang dan kontributor komik untuk beberapa media.

“Pada 1980-an hingga 1990-an itu Teguh juga kerap membuat komik lepas untuk majalah anak-anak Ananda berdasarkan cerita rakyat dan kisah pewayangan,” tulis Anton dalam bukunya (hlm. 77).




Ciri Khas

Seturut Arswendo, komik-komik Teguh dapat dikenali dari satu ciri khasnya: teknik blok tinta. Kontras yang diciptakan blok-blok tinta hitam itu memberikan kedalaman karakter dan suasana. Menjadikan komiknya khas, bahkan dikagumi oleh maestro sekelas R.A. Kosasih.

Tapi siapa sangka, ia menemukan teknik itu mulanya dari sebuah kebetulan. Kisah itu pernah ia ceritakan kepada Syarifuddin, seorang kurator seni asal Malang yang dekat dengannya.


Suatu kali, sebagaimana biasa, ia menyerahkan sebuah manuskrip komik ke percetakan. Setelah komik dicetak, beberapa bagian gambar yang semestinya berupa arsiran ternyata berubah jadi blok-blok tinta hitam. Si operator percetakan yang ia tanya beralasan bahwa itu gara-gara mesinnya kotor saat proses cetak.

“Kok tambah apik! Akhirnya saya ulangi di karya-karya saya yang lain,” kata Teguh sebagaimana dicatat Syarifuddin dalam bunga rampai Maestro of Darkness Teguh Santosa (hlm. 91).

Ia juga dikenal tak sungkan menampilkan erotisme dalam komiknya. Tapi bukan berarti ia lantas menampilkannya sembarang. Menurut Dhany, ada kaidah artistik yang jadi peganganannya dan itu pun dilakukan selama perkembangan cerita memang memerlukan penekanan sensual.

Meski begitu, tetap saja Teguh kena sensor. Bahkan, karena berkukuh membela karyanya ia harus rela “nyantri” beberapa waktu di Polda Metro Jaya.

Kekuatan lain bikin komik Teguh khas adalah caranya bercerita yang filmis. Tak mengherankan, karena Teguh memang sering menjadikan film sebagai inspirasinya berkarya. Sebutlah misalnya Pendekar Pilihan Dewa dan The Godfather 1800 yang telah disebut sebelumnya.

Menurut amatan Seno Gumira Ajidarma dalam "Sastra Film dalam Komik Teguh Santosa” yang tayang di Kompas (15/12/2002), pengaruh film itu terlihat dari caranya menampilkan adegan laiknya kamera statis. Setiap panel komiknya pun disusun dalam sekuen-sekuen yang dinamis.

Seno mencontohkan bagaimana Teguh menggambar adegan pertempuran. Laiknya film, ia selalu memulai dengan suatu gambar long shot yang memotret seluruh medan perang. Dengan begitu pembaca dibuat akrab dulu dengan lingkungan. Setalah itu barulah ia "memindahkan kamera" kepada sudut pandang tokoh-tokoh yang terlibat.

Teguh juga piawai memasukkan adegan yang mungkin tidak penting dalam bangunan keseluruhan cerita, tapi dampak visualnya signifikan. Seno menunjuk satu contoh: close up bahan peledak yang menggelinding sebelum meledak.

Karena kelihaian itu, Seno memuji Teguh sebagai penggambar dengan teknik yang perfek. Tak ada garis atau titik yang salah tempat dalam komik Teguh. Dan karena itu, namanya sendiri adalah jaminan mutu.

“Bagi saya, komik-komik Teguh Santosa sangat berhak mendapat pembacaan yang lebih rinci dan teliti, tepatnya lebih bertanggung jawab, di mana bisa dimainkan berbagai teori budaya visual, untuk sebuah penjelajahan yang lebih sistematis, sebagai suatu tugas untuk masa mendatang,” tulis Seno menutup uraiannya.

Baca juga artikel terkait KOMIK INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight