Tato dan Wanita

Oleh: Sammy Mantolas - 21 September 2016
Dibaca Normal 3 menit
Tato bukan sekadar fenomena kultural modern, tapi sudah lama hadir dalam peradaban manusia. Sayangnya, mereka yang bertato lebih sering dikonotasikan negatif. Tidak hanya pria, tetapi juga wanita.
tirto.id - “Mami, ini apa?” Yola, kini mahasiswa sebuah universitas di Malang, masih mengingat pertanyaannya pada ibunya, 15 tahun lalu.

“Ini bekas luka bakar, Yola. Telah ada sejak mami kecil.” Sang ibu menjelaskan bagian kulit kerut dan buruk rupa di lengannya itu.

Yola saat itu percaya kata-kata ibunya, hingga suatu hari ibunya bercerita sesungguhnya luka itu akibat upaya menghilangkan tato. Ibu Yola menyeterika tato itu agar tak mendapat cap buruk dari masyarakat, dan supaya ia bisa diangkat menjadi pegawai negeri sipil.

Ibunda Yola tidak sendiri. Ada banyak orang lain, laki-laki maupun perempuan, yang harus menyingkirkan lukisan permanen di kulit bernama tato jika ia ingin menjadi pegawai negeri sipil, khususnya di masa Orde Baru. Jika pada laki-laki saja tato sudah mendapat citra buruk, pada perempuan lebih-lebih lagi.

Orang bertato dianggap sebagai orang yang berperilaku buruk, preman, bahkan pernah ada satu masa orang bertato dibunuh tanpa proses pengadilan. Lihatlah komentar banyak orang terhadap Menteri Susi Pudjiastuti yang bertato naga pada betisnya. Tak sedikit yang menganggap seorang menteri tak patut bertato, apalagi ia seorang perempuan.

Padahal, tato bukan sekadar fenomena kultural modern, atau kiriman dari barat seperti yang kerap dituduhkan orang-orang. Tato, seperti ditulis dalam National Geographic, sudah ada sejak ribuan tahun lalu, tepatnya pada 2.000 SM. Tato itu melekat pada mumi perempuan, yang semasa hidupnya adalah seorang penari. Menurut catatan Dr. Lars Krutak, seorang ahli tato terkenal dunia, sebagaimana dikutip magazine.foxnews.com, tato juga ditemukan pada mumi Amerika Selatan yang hidup di sekitar 6.000 SM.

Krutak juga mencatat alasan seorang wanita merajah badannya, yakni untuk pengobatan atau kepentingan medis. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya “iceman” di Alpen pada 1991 dengan fitur yang menarik.

“Delapan puluh persen dari tatonya berbaris dengan titik akupuntur, sehingga tato yang digunakan adalah untuk tujuan pengobatan," ucap Krutak.

Cate Linaberry dalam Tattoos: The Ancient and Mysterious History, seperti dikutip smithsonianmag.com, juga menyebut fungsi tato pada wanita masa lampau adalah untuk melindungi tubuh. Ia berpendapat tato itu dimaksudkan untuk melindungi wanita dari penyakit seks menular. Ia juga menjadi upaya memperlancar proses bersalin bagi seorang wanita. Hal ini dapat dilihat pada letak tato pada bagian tubuh, yaitu di sekitar perut, di atas paha, dan payudara.

Seiring dengan berkembangnya zaman, tato tak lagi dipandang sebagai pengobatan, melainkan medium ekspresi seseorang.

Sanders dalam bukunya yang berjudul Customizing The Body: The Art and Culture of Tattooing mengatakan perubahan fungsi tato terjadi pada 1769, saat Kapten James Cook mendarat di Pasifik Selatan dan bertemu suku bertato Tahiti. Cook membawa satu kata Tahiti, “ta tu”, yang berarti untuk menandai, dan dari sinilah kata tato menjadi istilah umum.

Pada 1774, Kapten Cook membawa ahli tato asal Polynesia bernama Omai untuk ditunjukkan kepada masyarakat London. Masyarakat London menganggap seni tato yang dibawa Omai sangat modis. Lalu, mesin tato modern ditemukan dan ia semakin ngetren di kalangan menengah ke atas.

Di Amerika Serikat, kaum wanita pun mulai memakai tato. The New Yorker menulis Olive Oatman sebagai wanita pertama kulit putih asal Amerika Serikat yang badannya bertato. Semasa kecil, Olive diasuh oleh suku Indian yang juga berbudaya tato. Pada usia 19, Olive dipulangkan, dan semenjak kepulangannya itu Olive menjadi pesohor karena tatonya.

Selain Olive, ada pula wanita lain seperti Nora Hildebrandt, Maud Wagner, Mildred Hull, Anna Mae Burlingthon, Bety Broadbent, Elizabeth Weinzirl, Billed Variously, serta Bobby Libarry yang menjadi terkenal karena tatonya masing-masing.



Tato di Indonesia

Di Indonesa, budaya tato juga telah ada sejak lama. Kantor berita Antara menulis suku Mentawai sebagai salah satu suku yang memiliki budaya tato tertua. Orang Mentawai telah merajah badannya sejak ras proto-melayu ini datang di Sumatera pada zaman logam atau sekitar 1.500 – 500 SM. Orang Mentawai menyebut tato dengan istilah titi.

Fungsi tato bagi orang Mentawai terdiri dari dua hal: menunjukkan status seseorang dan/atau sebagai penanda keahlian seseorang. Ketika tubuh seseorang bergambar binatang, misalnya, berarti keahliannya adalah pandai berburu.

Selain orang Mentawai, ada juga suku Dayak yang menggunakan tato sebagai bagian dari budaya mereka. Pada masyarakat Dayak, tato bisa menunjukkan status kekayaan seseorang. Makin banyak bertato seseorang, berarti ia lebih kaya.

Meskipun tato telah lama menjadi budaya Nusantara, tato dianggap sebagai penanda keburukan. Mereka yang bertato kerap dikira preman, bahkan pada masa Orde Baru, ada operasi penembakan misterius (petrus). Pada 1980-an, orang-orang yang dirajah tahu-tahu ditemukan dalam keadaan mati. Mereka adalah orang-orang yang dituduh preman dan dibunuh tanpa jalur pengadilan, hanya karena tatonya.

Tato juga menjadi alat di masa Orde Baru, mereka yang bertato dianggap sebagai musuh Negara atau antek-antek komunis. Winanti Praptiningsih menulis dalam Jurnal Perempuan, bahwa tato hingga hari ini masih dianggap praktik budaya menyimpang dan dianggap kultur yang bertentangan dengan moralitas mainstream.

Seperti halnya fenomena “rambut gondrong,” Winanti berpendapat tato tak dilihat sebagai bagian budaya masa kini yang harus dihargai sebagai bagian ekspresi kebudayaan. Bahkan sejarah politik Indonesia merekam tato dan tubuh perempuan sebagai bagian praktik penegasan kuasa.

“Banyak kesaksian yang pernah tercatat pada pengakuan perempuan-perempuan yang dituduh PKI dalam catatan sejarah tentang tragedi 1965 menunjukkan bahwa tato tubuh adalah sesuatu yang binal dan amoral. Pada berbagai operasi penangkapan, perempuan-perempuan diminta membuka penutup tubuhnya untuk melihat apakah dalam tubuh perempuan ada tato lambang Palu Arit atau tidak,” tulis Winanti.

Tahun-tahun kegelapan itu memang sudah lewat. Tapi hingga kini, tato masih menjadi penanda citra buruk bagi siapa yang mempunyainya. Untuk menjadi pegawai negeri, misalnya, memang tak ada aturan yang benar-benar melarang bertato. Tapi tato kerap dikaitkan dengan kepantasan.

Katakanlah Anda ingin menjadi hakim. Hukumonline pernah mengutip ucapan Syamsul Ma'arif, salah satu hakim Mahkamah Agung. Ia mengatakan, rekrutmen calon hakim akan sangat memperhatikan etika dan kepantasan. Di situlah persoalannya. Bagi sebagian anggota masyarakat, tato adalah hal yang tak pantas. Akibatnya, bertato atau tidak kerap menjadi bagian pertimbangan.

Urusan kepantasan ini pulalah yang menjadi bahan obrolan terkait Menteri Susi Pudjiastuti. Meski ada yang membahas kinerjanya, banyak juga yang sekadar membicarakan menteri kelautan dan perikanan ini terkait segala yang terlihat pada dirinya: merokok, bertato, dan tak segan berekspresi. Tapi Susi—juga presiden yang menunjuknya sebagai pembantu—bergeming. Ia, menteri wanita yang bertato itu, telah melewati dua kali reshuffle kabinet dan tetap duduk di posisinya.

Baca juga artikel terkait GAYA HIDUP atau tulisan menarik lainnya Sammy Mantolas
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Sammy Mantolas
Penulis: Sammy Mantolas
Editor: Maulida Sri Handayani