Tata Cara Puasa Sunah Sebelum Idul Adha dan Makna Hari Raya Kurban

Oleh: Abdul Hadi - 20 Juli 2020
Dibaca Normal 3 menit
Pada setiap bulan Zulhijah, sebelum hari raya Idul Adha, umat Islam disunahkan untuk menjalankan ibadah puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah.
tirto.id - Hari raya Idul Adha 1441 Hijriah tahun ini ditetapkan jatuh pada Jumat, 31 Juli 2020, menurut Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Penetapan itu berdasarkan hasil hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

Sementara Kementerian Agama (Kemenag) RI berencana mengadakan sidang isbat atau sidang penetapan awal Zulhijah 1441 Hijriah sekaligus tanggal Hari raya Idul Adha, pada Selasa, 21 Juli 2020. Sidang isbat ini akan membahas hasil hisab dan laporan rukyatul hilal sebelum menetapkan tanggal jatuhnya awal Zulhijah 1441 Hijriah, dalam kalander masehi tahun 2020.

"Jika tanggal satu Zulhijah sudah ditentukan maka bisa diketahui kapan Hari Raya Idul Adha 1441 Hijriah yang jatuh pada 10 Zulhijjah," kata Menteri Agama Fachrul Razi, dilansir laman kemenag.

Hari raya Idul Adha 2020 bakal berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena berlangsung pada saat pandemi virus corona (Covid-19) masih terjadi. Perayaaan hari raya kurban, pelaksanaan salat Idul Adha, dan penyembelihan kurban perlu mengikuti ketentuan dalam protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah Indonesia untuk mencegah penularan Covid-19.

Makna Hari Raya Idul Adha

Hari raya Idul Adha kerap disebut pula sebagai hari raya kurban. Pada 10 Zulhijah, dimulai sunah penyembelihan hewan kurban, yang bisa dilakukan juga pada tiga hari tasyrik: 11-13 Zulhijah.

Kurban merupakan salah satu ibadah dalam Islam yang hukumnya sunah muakadah. Artinya, ini ibadah sangat ditekankan pengerjaannya, atau amat dianjurkan untuk dijalankan. Ketentuan soal ibadah kurban ini termaktub dalam firman Allah SWT dalam surah Al Hajj:

"Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan [kurban], agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah [Muhammad] kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh [kepada Allah]," (Q.S. Al-Hajj [22]: 34).

Saking ditekankannya, Nabi Muhammad SAW memberi peringatan kepada orang-orang yang punya harta berlebih, tetapi enggan berkurban. Hal tersebut tergambar dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah RA, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

"Barang siapa yang memiliki kelapangan [harta], sedangkan ia tidak berkurban, janganlah dekat-dekat mushala kami," (H.R. Ahmad, Ibnu Majah, dan Hakim).

Ibadah kurban merupakan salah satu ibadah tertua dalam ajaran Islam. Perintahnya dapat ditarik dari keteguhan Nabi Ibrahim AS ketika menerma perintah dari Allah SAW untuk menyembelih anak kesayangannya, Ismail. Karena ketaatannya kepada Allah SWT, Nabi Ibrahim tetap melaksanakan perintah itu, kendati menyalahi kasih sayang seorang ayah kepada putranya. Atas kemurahan Allah SWT, penyembelihan Nabi Ismail kemudian dibatalkan dan diganti dengan kurban kambing.

Aswab Mahasin dalam artikel "Manusia adalah Makhluk Berkurban" yang ditayangkan di NU Online, menyebutkan beberapa makna Idul Adha yang dapat direnungkan. Aswab menarik hikmah dari kejadian Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail ke dalam dua dimensi: spiritual dan sosial.

Pertama, dimensi spiritual dari ibadah kurban yang dilakukan Nabi Ibrahim AS ialah menunjukkan keteguhan iman, kesabaran, serta pengorbanan kepada Allah SWT.

Ketika diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih anaknya, kemudian disampaikan kepada Ismail, tanpa pikir panjang, si anak menyetujui penyembelihan tersebut tanpa protes dan tawar menawar. Hal ini menunjukkan kekuatan iman yang demikian teguh dari spiritualitas sempurna.

Ibadah kurban yang dilakukan oleh umat Islam saat ini tidaklah sebanding dari pengorbanan yang dilakukan Nabi Ibrahim AS dan anaknya, Ismail. Oleh karena iman keduanya itulah, di penghujung prosesi kurban, Allah SWT mengganti Ismail dengan seekor binatang (kambing).

Kedua, dimensi sosial, yang tentu saja disepakati karena daging kurban dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Dengan demikian, Ibadah kurban mengajarkan untuk saling tolong-menolong, sekaligus menyemarakkan cinta kasih di antara umat manusia.

Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam [mengerjakan] kebajikan dan takwa," (Q.S. Al Maidah [5]: 2).


Puasa Sunah Sebelum Idul Adha: Tarwiyah dan Arafah

Jika mengacu pada Maklumat PP Muhammadiyah nomor 01/MLM/I.0/E/2020, disampaikan bahwa awal Zulhijah 1441 H akan dimulai Rabu, 22 Juli 2020. Oleh karenanya, 10 Zulhijjah atau hari raya Idul Adha jatuh pada Jumat, 31 Juli 2020.

Sebelum hari raya Iduladha, terdapat 2 puasa sunah yang amat dianjurkan untuk dikerjakan pada bulan Zulhijah oleh umat Islam. Dua amalan sunah itu adalah puasa Tarwiyah dan puasa Arafah.

Dua hari puasa sunah sebelum Idul Adha ini dianjurkan agar umat Islam juga merasakan anugerah yang dijalani jamaah haji di tanah suci.

Pertama, puasa Tarwiyah dilaksanakan pada tanggal delapan Zulhijjah, yang apabila merujuk pada hasil hisab PP Muhammadiyah, tahun ini jatuh pada Rabu, 29 Juli 2020.

Tanggal 8 Zulhijah disebut hari Tarwiyah tidak terlepas dari sejarah pensyariatan kurban. Dalam bahasa Arab, "tarwiyah" berarti "proses berpikir", yang pada hari itu, Nabi Ibrahim AS merenung dan berpikir (rawwa-yurawwi-tarwiyah) tentang mimpinya menerima perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya sendiri, Ismail.

Kedua, puasa Arafah dilaksanakan pada setiap tanggal sembilan Zulhijjah. Jika merujuk pada hasil hisab PP Muhammadiyah, puasa Arafah tahun ini jatuh pada Kamis, 30 Juli 2020. Hari Arafah juga berkaitan dengan riwayat pensyariatan kurban. Pada hari itu, Nabi Ibrahim AS menyadari sekaligus memahami makna mimpinya sebagai wahyu dari Allah. Adapun "Arafa," dalam bahasa Arab artinya mengetahui.

Keutamaan puasa Tarwiyah dan Arafah dalam Islam tergambar dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu An Najjar dan Abdullah bin 'Abbas bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

"Puasa di hari Tarwiyah (8 Zulhijah) akan mengampuni dosa setahun yang lalu. Sedangkan puasa hari Arafah (9 Zulhijah) akan mengampuni dosa dua tahun," (H.R. Tirmidzi).


Bacaan Niat Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah

Tata cara puasa Tarwiyah yang dilaksanakan pada tanggal 8 Zulhijah dan puasa Arafah di tanggal 9 Zulhijah tidak berbeda dengan ibadah puasa sunah lainnya. Mereka yang mengerjakan ibadah ini harus menahan dari segala hal yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar hingga matahari tenggelam.

Berikut ini bacaan niat puasa Tarwiyah dan puasa Arafah, beserta pelafalannya dalam tulisan latin dan artinya.

1. Bacaan Niat Puasa Tarwiyah

نويت صوم التروية سنة لله تعالى

Bacaan latinnya: "Nawaitu shauma al tarwiyata sunnatan lillahi ta’ala"

Artinya: "Saya niat berpuasa sunah Tarwiyah karena Allah ta’ala."

2. Bacaan niat puasa Arafah

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ عَرَفَةَ لِلهِ تَعَالَى

Bacaan latinnya: "Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnati Arafah lillâhi ta‘ala."

Artinya: “Aku berniat puasa sunah Arafah esok hari karena Allah SWT.”

Niat di atas dibaca ketika berniat menjalankan puasa Arafah pada malam hari sebelum terbit fajar pada 9 Zulhijah. Namun, niat puasa sunah juga boleh dilaksanakan pada siang hari, sejauh yang melaksanakan ibadah ini belum makan, minum dan melakukan hal-hal yang membatalkan puasa lainnya sejak terbit fajar hingga waktu Zuhur.

Bacaan niat puasa Arafah jika diucapkan pada siang hari adalah sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ عَرَفَةَ لِلهِ تَعَالَى

Bacaan latin: Nawaitu shauma hadzal yaumi ‘an ada’i sunnati Arafah lillahi ta'ala.

Artinya: "Saya berniat puasa sunnah Arafah pada hari ini karena Allah SWT."


Baca juga artikel terkait IDUL ADHA atau tulisan menarik lainnya Abdul Hadi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Abdul Hadi
Penulis: Abdul Hadi
Editor: Addi M Idhom
DarkLight