Tata Cara Mandi Wajib Setelah Haid dan Bacaan Niatnya

Oleh: Abdul Hadi - 11 Mei 2020
Dibaca Normal 1 menit
Selepas masa menstruasinya, perempuan harus melangsungkan mandi wajib untuk bisa suci kembali dari hadas besar.
tirto.id - Di antara fitrah perempuan adalah mengalami siklus haid atau menstruasi setiap bulannya. Haid merupakan proses alamiah tubuh ketika terjadi peluruhan pada dinding rahim karena tidak ada ovulasi atau proses pembuahan.

Perempuan yang sedang haid dianggap memiliki hadas besar. Oleh sebab itu, mereka yang sedang mengalami menstruasi diharamkan membaca Al-Qur'an, menyentuh atau membawa mushaf Al-Qur'an, salat, berdiam diri di masjid, berhubungan suami istri, serta tawaf mengelilingi Ka'bah.

Sedangkan, selepas masa menstruasinya, perempuan harus melangsungkan mandi wajib untuk bisa suci kembali dari hadas besar. Oleh karena ia merupakan mandi wajib, maka rukun-rukunnya harus dipenuhi agar mandinya dinyatakan sah dan perempuan selepas haid menjadi suci kembali.

Dalam kajian bertajuk "Konsep Al Ghuslu dalam Kitab Fikih Manhaji" dalam jurnal Analisa terbitan Kemenag, disebutkan bahwa terdapat dua rukun yang wajib dilakukan saat melaksanakan mandi wajib. Pertama, membaca niat saat air pertama disiram ke tubuh. Kedua, mengguyur semua badan dengan air dan menghilangkan najis pada tubuh.

Pada bagian tubuh yang berambut atau berbulu, harus dipastikan bahwa air mengalir hingga kulit. Menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidâyatul Hidâyah, selain dua rukun di atas, ada aktivitas lain saat mandi wajib yang hukumnya sunah muakadah untuk dilakukan.

Orang yang mengabaikan sunah ini dianggap merugi karena sesungguhnya amalan-amalan sunah dapat menambal kekurangan pada amalan fardu.


Cara Mandi Wajib

Sebenarnya, mandi wajib bagi perempuan selepas haid tidak berbeda dengan mandi wajib ketika berhadas besar lainnya. Bagi perempuan yang berhadas selepas menstruasi, jika kesulitan dengan tebal rambutnya, diperbolehkan menggelungnya selama mandi wajib.

Rujukannya adalah hadis dari Ummu Salamah, beliau bertanya: "Wahai Rasulullah, aku seorang perempuan yang gelungan rambutnya besar. Apakah aku harus membuka gelungan rambutku ketika mandi junub?”

Nabi SAW menjawab: “Jangan [kamu buka]. Cukuplah kamu menyela-nyelai kepalamu dengan air tiga kali, kemudian guyur kepala dan badanmu dengan air, sehingga kamu suci,” (HR. Muslim).

Kemudian, ketika akan mandi, sebagaimana disiratkan dalam kitab Safinatun Najah, Syekh Salim bin Sumair Al Hadlrami menyebutkan untuk lafal niat mandi wajib sebagai berikut:

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَكْبَرِ مِنَ الحَيْضِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

Lafaz latinnya: "Nawaitul gusla lirof'il hadatsil akbari minal haidi fardlon lillahi ta'ala."

Artinya: "Aku niat mandi untuk menghilangkan hadats besar dari haid, fardu karena Allah ta'ala."

Kemudian, mandi wajib dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut ini:
  • Ambil air di kamar mandi, lalu basuh tangan tiga kali.
  • Bersihkan najis atau kotoran yang menempel pada tubuh.
  • Berwudu.
  • Guyur kepala tiga kali, bersama dengan mengucap niat (rambut boleh digelung).
  • Siramkan air ke seluruh badan, dimulai dari bagian kanan, lalu kiri.
  • Gosok seluruh tubuh sebanyak tiga kali, baik depan maupun belakang.
  • Pastikan air membasuh semua bagian kulit.
  • Menyela rambut dan bulu tebal agar kulit terbasuh air.
  • Jika menyentuh kemaluan saat mandi, berwudu kembali di akhir mandi wajib.
Sebagai catatan, saat melakukan mandi wajib, perempuan diperbolehkan memakai sabun dan shampo ataupun tidak sama sekali. Selain itu, kotoran atau najis yang keluar dari qubul (alat kelamin) dan dubur harus dibersihkan. Noda-noda di tubuh yang sulit hilang, terutama bekas darah yang menempel di kuku, bekas kosmetik, dan lain sebagainya, juga mesti dibersihkan.


Baca juga artikel terkait MANDI WAJIB atau tulisan menarik lainnya Abdul Hadi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Abdul Hadi
Penulis: Abdul Hadi
Editor: Addi M Idhom
DarkLight