Tarot Online Menjamur, Tapi Mengapa Orang Suka Diramal?

Infografik Tarot
Ilustrasi Tarot Online. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Aditya Widya Putri - 27 Februari 2018
Dibaca Normal 2 menit
“Kamu punya potensi besar dalam dirimu yang belum kamu maksimalkan.”
tirto.id - Hal-hal tentang masa depan selalu memiliki daya tarik. Saking misteriusnya, ada orang-orang yang rela mengeluarkan biaya khusus untuk mengintip gambaran masa depannya. Karenanya, jasa ramal pun menjamur, mulai dari yang tradisional, hingga ramal online.

Jasa yang terakhir sedang naik daun. Coba saja cari di dengan kata kunci “ramal online” atau “tarot online” di beragam media sosial. Anda pasti menemukan rentetan akun yang menawarkan jasa ramal di sana.

Rahma Sari (26) merupakan salah satu pelanggan jasa ini. Ia berlangganan jasa ramal di akun Instagram @tarottoday sejak dua tahun lalu. Pertanyaan yang ia ajukan hampir sama seperti muda-mudi lainnya. Tak jauh dari hal-hal seputar cinta.

“Aku jadi bisa bersiap tentang kemungkinan buruk yang bakal datang,” katanya.

Beda dengan Rahma, Putri, pelanggan di jasa ramal online di tempat yang sama, tak punya motivasi serius untuk diramal. Pertanyaan yang ia ajukan seringkali tak punya tendensi apapun. Misalnya menanyakan soal gosip artis atau gosip tentang teman-temannya. Ia jarang bertanya soal cinta, karir, atau keuangan, seperti yang lain-lain.

“Iseng, buat senang-senang saja. Lagian takut kalau tanya yang serius-serius,” ungkap gadis ini.

Salah satu orang yang lihai melihat peluang atas rasa penasaran orang di masa depan adalah Wulan (25). Ia merupakan pemilik sekaligus pengelola akun tarot online di Instagram @tarottoday. Secara khusus, perempuan ini menceritakan seluk beluk bisnisnya. Ia mengaku telah membuka jasa tarot online sejak 2016.

Sama seperti transaksi jual beli online lainnya, calon klien Wulan harus mengirim biaya jasa terlebih dulu sebelum diramal. Mekanisme pengajuan pertanyaan bisa dilakukan melalui pesan chat atau telepon langsung kepada sang peramal.

“Per 30 menit dipatok Rp100 ribu. Kalau minta ketemu langsung Rp250 per jam,” paparnya.

Rata-rata kliennya meminta waktu ramal selama satu jam. Sejak dibuka, @tarottoday tak pernah sepi peminat, bahkan klien yang mulanya hanya berkisar 5 orang, kini sudah mencapai 10-15 orang per minggu. Kata Wulan, permintaan ramal paling banyak datang di musim-musim libur, seperti akhir pekan , libur nasional, dan masa libur sekolah.

Sejauh pengalaman Wulan, problem yang paling sering ditanyakan adalah urusan seputar cinta, karier, keuangan, kesehatan, dan pendidikan. Dua tahun jasa ramalnya berjalan, banyak cerita unik dari klien yang ia dapatkan. Pernah suatu kali ia mendapat klien yang bertanya mengenai peluang bunuh diri. Juga peluang merebut suami orang. Tak jarang pula ia mendapat order “unik” seperti meramal masalah orientasi seksual idola dari kliennya.

“Umumnya, mereka tanya bagaimana gambaran ke depan dan cara terbaik memperbaiki kondisi saat ini,” kata Wulan.

Rata-rata, setelah diramal, kliennya merasa tenang karena bisa mempersiapkan kemungkinan terburuk di masa depan. Namun, Wulan tak menampik ada saja klien yang merasa ramalannya meleset. Untuk kasus seperti ini, ia memberi garansi uang kembali.

“Sebenarnya mereka butuh dukungan, banyak yang sudah punya keputusan tapi butuh motivasi. Jadi saat tahu prediksinya sesuai harapan, lebih memotivasi hal yang mau dikerjakan.”


Mengapa Kita Suka Diramal?

Kalimat terakhir dari Wulan di atas bisa dipendekkan menjadi seperti ini: "Orang butuh motivasi, dan prediksi yang sesuai harapan akan memotivasi klien."

Kesimpulan Wulan itu sesuai dengan studi psikologi mengenai persepsi risiko menyatakan bahwa ketidakpastian merupakan salah satu pengaruh paling kuat dari rasa takut. Semakin sedikit informasi yang dikumpulkan, maka perasaan “terancam” semakin kuat. Kurangnya informasi membuat manusia merasa tak dapat melindungi keselamatannya.

“Di masa mendatang, orang masih akan mencoba memprediksi apa yang akan terjadi. Untuk memberi kontrol atas takdir,” ujar David Ropeik, seorang instruktur di Harvard Extension School dan penulis "How Risky Is It, Really?” seperti dikutip Psychology Today.

Ketakutan akan ketidakpastian menurut Ropeik tak ubahnya seperti mengemudi dengan mata tertutup. Tak bisa melihat medan, membuat pengemudi merasa diterkam bahaya. Informasi sekecil apa pun, meski tidak lengkap, atau salah, merupakan kekuatan untuk menghadapi takdir. Itulah fungsi ramalan.

Dalam psikologi, alasan orang percaya terhadap ramalan disebut dengan efek Barnum. Ditulis dalam artikel lain pada situs Psychology Today, ia merupakan kondisi psikologis ketika kondisi umum dibuat seolah berlaku khusus pada individu atau kondisi tertentu. Singkatnya, Efek Barnum merupakan bentuk manipulasi psikologis.

Sebutan ini merujuk pada Phineas Taylor Barnum, seorang penghibur, pesulap, dan pemilik sebuah sirkus di Amerika. Ia menggunakan taktik tersebut untuk membuat orang-orang percaya ramalannya sangat spesial, unik, dan tak berlaku untuk orang yang sama.

Seorang psikolog bernama Stagner pernah melakukan tes kepribadian kepada responden manajer personalia di suatu perusahaan. Ia memberi hasil palsu kepada responden dalam bentuk pernyataan yang lazim pada horoskop, analisis tulisan tangan (grafologi), dll. Namun lebih dari setengah responden merasa hasil tesnya sangat akurat dan sesuai.



Pada tahun berikutnya, seorang profesor bernama Forer menguji teori tersebut pada mahasiswanya dengan memberikan "evaluasi" acak dan asal. Ada tiga poin hasil tes kepribadian yang ia karang dengan jawaban umum:

“Kamu mempunyai hasrat besar supaya orang menyukai dan mengagumimu.”

“Kamu cenderung kritis terhadap diri sendiri."

“Kamu punya potensi besar dalam dirimu yang belum kamu maksimalkan.”


Mahasiswanya diminta menilai validitas pernyataan yang mereka dapat dengan skala 1 sampai 5 untuk menunjukkan deskripsi paling bagus. Evaluasi seluruh mahasiswa sekelas menghasilkan rata-rata 4,26. Semakin detail paparan yang diberikan, maka semakin dipercaya pula ramalan tersebut. Hal inilah yang diterapkan dalam ilmu horoskop. Spesifikasi kepribadian diberikan berdasar info spesifik: ada tanggal dan bulan lahir.

Orang cenderung mempercayai hasil tes kepribadian yang palsu, asalkan pernyataan yang diberikan bersifat generik dan bernada positif. Contohnya terjadi dalam pembacaan karakter berdasarkan astrologi (horoskop) dan grafologi.

Sifat manusia yang mudah tertipu membuat mereka cenderung menerima klaim-klaim sesuai keinginannya, ketimbang klaim empiris berdasar standar non-subjektif. Kita, manusia, pada dasarnya senang mendengar hal-hal positif tentang diri kita tinimbang yang bernada negatif.


Baca juga artikel terkait PSIKOLOGI atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight