Tanaman Tak Layu Ditinggal Mudik dengan Fisika Sederhana

Pengunjung memilih tanaman hias di salah satu stan Pameran Tanaman Buah dan Bunga di Kambang Iwak Palembang, Sumsel, Jumat (3/2). Ajang tersebut memamerkan berbagai tanaman unggulan Provinsi Sumatra Selatan. ANTARA FOTO/Feny Selly/kye/17
Oleh: Wan Ulfa Nur Zuhra - 24 Juni 2017
Dibaca Normal 2 menit
Sebelum berangkat mudik, jangan lupa pikirkan bagaimana tanaman-tanaman di taman rumah Anda bisa bertahan hidup ketika ditinggal pergi selama sepekan atau lebih.
tirto.id - Bagi para pecinta tanaman, meninggalkan rumah selama sepekan atau lebih cukup membuat tidak tenang. Bunga-bunga dan tanaman yang subur saat ditinggal pergi, bisa jadi kering kerontang ketika pulang. Apalagi jika ditinggal saat musim kemarau.

Tanaman yang tak butuh banyak air seperti palem-paleman, lidah mertua, atau sirih gading mungkin akan baik-baik saja jika ditinggal lama. Namun, tanaman seperti daun mint, rosemary, oregano, atau bahkan cabai, tidak bisa ditinggal terlalu lama.

Cobalah meninggalkan daun mint selama satu atau dua minggu. Maka, ketika Anda pulang, daun mint yang tadinya subur akan kering kerontang berwarna hitam. Daun mint tidak tahan panas dan air yang terlalu banyak. Begitu pula dengan cabai, tidak disiram satu hari saja, daunnya mulai layu.

Apa yang bisa dilakukan ketika harus mudik meninggalkan rumah dengan tanaman dan taman kesayangan? Ada banyak cara dari konsep fisika sederhana yang bisa dilakukan untuk memastikan tanaman tetap mendapat air selama ditinggal pergi pemiliknya. Jean Nick, seorang penulis yang menekuni tentang hidup organik pernah menuliskan beberapa solusi meninggalkan tanaman saat sang empunya pergi keluar rumah dalam waktu lama.

Botol plastik yang kosong bisa dimanfaatkan untuk irigasi tetes. Caranya sederhana, botol bekas diisi air hingga penuh. Bagian bawah botol lalu dilubangi, kecil saja, agar air hanya bisa menetes, bukan mengalir. Botol itu kemudian diikat tali di bagian lehernya, lalu digantung di atas pot tanaman.

Jika tak memungkinkan untuk menggantung botol, cara lainnya adalah dengan melubangi tutup botol dan menancapkannya ke dalam tanah di pot. Beberapa toko online ada yang menjual tutup botol berbentuk runcing yang khusus didesain untuk irigasi sederhana.

Plastik es juga bisa digunakan menggantikan botol. Caranya, tusuk plastik dengan jarum dan benang di bagian bawah plastik. Menusuknya dari dalam ke luar. Lalu lepaskan jarum dari benang dan biarkan benang tetap menempel di plastik. Setelah itu, isi plastik dengan air hingga penuh, dan ikat bagian atasnya. Cukup letakkan saja plastik berisi air itu di tiap-tiap pot, dan biarkan air merembes dari benang ke tanah. Detailnya bisa dilihat di sini.

Apabila tanaman Anda terlalu banyak untuk dibuatkan satu botol tiap satu pot, irigasi menggunakan sumbu kompor bisa jadi salah satu solusi. Sumbu kompor memiliki sifat menyerap cairan dan menghantarkannya dari ujung satu ke ujung lainnya.



Irigasi dengan sumbu kompor ini gampang, pindahkan tanaman pada posisi yang berdekatan, mengelilingi ember besar berisi air. Usahakan posisi ember lebih tinggi dari posisi pot-pot tanaman agar air bisa merembes dengan lebih mudah. Jangan lupakan teori sederhana bahwa air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah.

Sumbu kompor di potong sesuai jarak antara ember dan pot. Ia akan berfungsi menghantarkan air dari ember ke pot-pot yang mengelilinginya. Jadi, jumlah sumbu kompor yang dibutuhkan tentu disesuaikan dengan jumlah tanaman.

Jika tak memungkinkan menumpuknya hanya pada satu ember, buatlah dua atau tiga tumpukan. Semakin banyak tanaman, semakin banyak pula air yang dibutuhkan. Semakin dekat jarang antara sumber air dan tanaman, lebih baik. Air tak harus merembes terlalu jauh. Pastikan Anda memasang pemberat di tiap ujung sumbu. Ia penting untuk memastikan posisi sumbu tak bergeser tertiup angin atau tersenggol tikus.

Air yang telah berubah wujud menjadi benda padat alias es batu juga bisa digunakan untuk irigasi sederhana saat tanaman ditinggal mudik lebaran. Syaratnya, jangan gunakan ukuran es yang kecil-kecil. Karena semakin kecil, ia akan semakin cepat mencair. Jadi, gunakanlah es batu ukuran besar, setidaknya segenggam kepalan tangan. Letakkan saja es-es itu di dalam pot.

Namun, irigasi menggunakan es batu sedikit berisiko. Kalau cuaca terlalu panas, es akan sangat cepat mencair. Ia bisa jadi habis dan kering dalam tiga atau empat hari.

Cara terakhir yang tak begitu merepotkan dan tak perlu memikirkan hukum Fisika adalah meminta bantuan tetangga untuk menyiramnya setiap hari atau dua hari sekali. Tetapi pastikan tetangga Anda memahami tanaman dan tidak menyiramkan air terlalu banyak pada tanaman yang tak tahan air. Sebab hal itu akan membuat akar tanaman membusuk dan berujung pada kematian tanaman.

Kendatipun Anda meninggalkan rumah di musim hujan, jangan sepenuhnya menggantungkan irigasi tanaman Anda dari hujan. Tak semua tanaman kuat dipapar hujan. Irigasi sederhana tetap diperlukan ketika Anda mudik Lebaran.

Baca juga artikel terkait RAMADHAN atau tulisan menarik lainnya Wan Ulfa Nur Zuhra
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Wan Ulfa Nur Zuhra
Penulis: Wan Ulfa Nur Zuhra
Editor: Suhendra
DarkLight