Tanam Eceng Gondok di Jakarta: Resep Sempurna Bencana Lingkungan

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 7 Desember 2018
Dibaca Normal 2 menit
Eceng gondok adalah satu dari 100 spesies bumi paling invasif. Jika tak ditangani secara serius akan berdampak pada ekologi.
tirto.id - Rencana pemerintah DKI Jakarta untuk menanam eceng gondok di Kali Sentiong atau Kali Item telah menjadi bahan perbincangan warganet dalam beberapa hari terakhir. Muaranya pada satu pertanyaan pokok: apakah efektif untuk memperbaiki mutu airnya?

Eceng gondok bernama latin Eichhornia crassipes. Cukup populer di Asia, kerap menggerombol di permukaan perairan tawar, dan tingginya ada yang mencapai 1 meter. Bunganya berwarna ungu cerah. Tanaman tanpa batang ini bisa mengapung karena pangkal tangkai daunnya menggelembung.

Habitat eceng gondok terdapat di sungai, tempat penampungan air, danau, aliran air yang lambat, tanah basah, rawa, atau kolam dangkal. Tumbuhan berpenampakan serba hijau ini punya tingkat adaptasi yang tinggi meski terjadi perubahan ketersediaan nutrien, pH, temperatur, atau racun dalam airnya.

Peneliti di Pusat Penelitian Limnologi LIPI Gadis Sri Haryani mengatakan eceng gondok adalah salah satu tumbuhan yang bersifat fitoremedasi, atau punya kemampuan memulihkan masalah lingkungan. Pasalnya eceng gondok mampu menyerap senyawa organik dan anorganik di air dengan sangat efektif.

Tetapi, meski eceng gondok bisa berperan untuk memperbaiki kualitas air Kali Item, Gadis menggarisbawahi dua hal pokok.


Pertama, cara yang seharusnya diprioritaskan adalah menerapkan kebijakan preventif sekaligus pengawasan intensif agar tidak terjadi lagi pembuangan limbah ke sungai. Perlu juga membangun instalasi pengolahan air limbah yang bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar kali.

“Kita harus mengatasinya ke inti permasalahan ini. Kalau itu tidak dilakukan, masalah akan berlarut-larut,” ucap Gadis kepada Tirto.

Kedua, eceng gondok adalah gulma yang bisa melahirkan krisis lingkungan. Pertumbuhannya amat cepat serta kerap susah untuk dikontrol. Jika ini terjadi, permukaan perairan bisa tertutup sepenuhnya oleh eceng gondok, dan ujung-ujungnya muncul kerusakan ekosistem.

Invasif Species Specialist Group (ISSG) memasukkan eceng gondok ke dalam daftar 100 spesies bumi paling invasif.

ISSG menjelaskan proses reproduksi eceng gondok adalah salah satu yang tercepat di antara tanaman lain. Satu batang eceng gondok dalam satu tahun bisa menutup sekitar tujuh hektare permukaan air. Ditambah lagi tiap tanaman dapat menghasilkan ribuan biji per tahun, dan benihnya dapat hidup selama lebih dari 28 tahun.


Eceng gondok memperbanyak diri melalui teknik geragih. Ruas-ruas tubuhnya akan berlipat ganda secara menyamping, menjadi tunas-tunas yang akan tumbuh sebagai tanaman baru. Sehingga, jika dilihat dari dekat, antar tanaman eceng gondok seakan bergandengan tangan satu sama lain.

Tanaman ini akan tumbuh makin cepat di air yang mengandung nutrien tinggi, terutama yang kaya akan nitrogen, fosfat, dan potasium. Sebaliknya, kandungan garam dalam air akan menghambat pertumbuhan tanaman.

Jika invasi sudah menutupi sebagian besar atau seluruh permukaan air, air akan cepat menyusut karena terjadi evapotranspirasi atau penguapan melalui daun. Penutupan permukaan air akan menurunkan jumlah cahaya yang masuk, sehingga tingkat kelarutan oksigen dalam air juga akan menurun drastis.

Kondisi ini tidaklah ideal bagi spesies lain yang tinggal di perairan tersebut. Di sisi lain, eceng gondok jadi habitat yang sempurna bagi tumbuh-kembang vektor penyakit manusia, seperti nyamuk. Eceng gondok yang sudah mati dan turun ke dasar perairan juga akan mempercepat proses pendangkalan.

Di luar penilaian turunnya nilai estetika lingkungan, kehidupan perekonomian masyarakat sekitar perairan jelas akan terganggu. Lalu lintas transportasi air macet, baik kapal nelayan maupun kapal wisata. Warga juga kesusahan jika ingin memanfaatkan perairan sebagai tempat beternak ikan.


Ada dua tempat di Indonesia yang sejak dahulu hingga sekarang masih berkutat dengan invasi eceng gondok. Pertama, Rawa Pening di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Kedua, Danau Limboto di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.

Rawa Pening jadi objek wisata primadona sepanjang dekade 1990-an. Selain itu Rawa Pening juga berfungsi sebagai penggerak turbin pembangkit listrik tenaga air, kawasan perikanan, kawasan peternakan itik, pengendali banjir, penambahan gambut, dan dimanfaatkan sebagai irigasi.


Infografik Eceng Gondok


Sayangnya, mulai memasuki tahun 2000-an, terjadi krisis ekologi di Rawa Pening karena pertumbuhan eceng gondok dan gulma lainnya makin tak terkontrol. Produksi ikan menurun. Saluran irigasi terhambat. Penguapan air terjadi lebih masif, mengakibatkan air semakin dangkal dan permukaan danau semakin menyempit.

Antara melaporkan Rawa Pening masuk dalam 15 danau yang sedang direstorasi oleh Kementerian PUPR sejak 2016. Penyusutannya mengkhawatirkan. Pada tahun 2002 Rawa Pening memiliki luas 2.670 hektare. Pada tahun 2015 menyempit menjadi 1.850 hektare, di mana 820 hektare di antaranya tertutup eceng gondok.

Jika persoalan gulma ini tidak ditangani dengan serius, danau Rawa Pening terancam akan berubah menjadi daratan kering pada tahun 2021.


Danau Limboto, yang turut masuk dalam daftar 12 danau yang sedang direstorasi, juga mengalami nasib yang sama. Invasi yang perlahan namun pasti membuat eceng gondok menutupi 70 persen dari permukaan airnya pada tahun 2016.

Danau yang jadi objek wisata ini akhirnya kena masalah sedimentasi yang berujung pada pendangkalan, penyusutan luas, serta penurunan kadar oksigen terlarut. Krisis ini menjadi ancaman bagi sedikitnya sembilan jenis tumbuhan air. Ada pula 12 jenis ikan di mana empat di antaranya bersifat endemik alias hanya hidup di danau tersebut.

Mongabay mencatat pada tahun 1932 Danau Limboto memiliki luas 8.000 hektare dengan kedalaman 30 meter. Pada 1970, luasnya menyusut jadi 4.500 hektare dan kedalaman 15 meter. Tahun 2003 berubah menjadi 3.054 hektare dan dengan kedalaman empat meter saja.

Memasuki tahun 2010 luas Danau Limboto tinggal 2.537 hektare dengan kedalaman dua sampai 2,5 meter. Dua tahun berselang luas danau hanya 2.500 hektare, kedalaman airnya 1,8 sampai 2,5 meter, dan hingga kini masih menghadapi tren penyempitan serta pendangkalan yang mengkhawatirkan.

Jika pemerintah tidak menjalankan kebijakan penanggulangan yang tepat, Danau Limboto diperkirakan akan hilang pada tahun 2025.

Baca juga artikel terkait KALI ITEM atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf