Menuju konten utama

"Tampang Boyolali" ala Prabowo Sukses Digoreng di Media Sosial

Prabowo bilang tampang Boyolali akan diusir jika masuk ke hotel. Ucapan yang dianggap candaan oleh Prabowo memantik reaksi warganet hingga aksi turun ke jalan.

Calon Presiden Prabowo Subianto menunjukan dua jari seusai mengikuti pengundian dan penetapan nomor urut di gedung KPU, Jakarta, Jumat (21/9). Pasangan Prabowo-Sandi mendapatkan nomor urut 02 dalam Pemilihan Presiden 2019. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/kye/18

tirto.id - “Saya yakin kalian tidak pernah masuk hotel-hotel (mewah) tersebut, kalo kalian masuk kalian pasti akan diusir karena bukan tampang orang kaya,” kata Prabowo Subianto, calon presiden nomor urut 02 dalam acara peresmian Kantor Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi di Boyolali, Jawa Tengah.

“Tampang kalian ya tampang Boyolali,” lanjut Prabowo dalam konteks saat menjelaskan soal keadilan di masyarakat.

Pidato itu memang disambut gelak tawa oleh hadirin, tapi ucapan "tampang Boyolali" tersebut jadi riuh di dunia maya Twitter. “Tampang Boyolali” jadi trending topic, dengan menggunakan hashtag alias tagar #SaveBoyolali, yang diinisiasi oleh akun @manggabusuk pada 2 November 2018, pukul 4.43, menanggapi kicauan @eko_kuntadhi yang mentranskrip pidato itu.

Memanfaatkan alat analisis Twitter bernama Tweet Binder, #SaveBoyolali cukup memantik keriuhan di Twitter. Hanya dengan 153 original tweet, hashtag tersebut sukses menggapai lebih dari 1,7 juta follower atau pengguna Twitter yang mengikuti akun-akun yang bercuit #SaveBoyolali. Tercatat, akun @s_quasiah jadi akun yang paling aktif soal hashtag ini.

“Tampang Boyolali” bukan cuma diterjemahkan melalui #SaveBoyolali. Ada pula hashtag #SaveMukaBoyolali, yang menyusul kemudian. Hashtag tersebut, dianalisis menggunakan alat yang sama, sukses menggapai lebih dari 1,4 juta pengguna Twitter hanya dari 289 original tweet. Dan dalam 2 jam, sejak Minggu (4/11) pukul 12 siang, tercatat ada lebih dari 2.000 tweet yang berkicau #SaveMukaBoyolali.

Riuh soal “tampang Boyolali” di Twitter membingungkan Prabowo. Katanya, “saya bingung kalau saya bercanda dipersoalkan. Kalau saya begini begitu dipersoalkan.” Namun, secara tersirat, Prabowo menganggap keramaian dari ucapannya merupakan bagian dari strategi politik di musim kampanye. “Saya tahu tapi ini adalah politik. Ini adalah musim politik.”

Ismail Fahmi, Analis media sosial sekaligus pendiri Drone Emprit, mengatakan ramainya Twitter dengan “tampang Boyolali” sah-sah saja, khususnya bila digunakan oleh kubu lawan Prabowo.

“Tim Jokowi ini efektif dan efisien. Secara jumlah tim Jokowi yang di media sosial lebih banyak dibandingkan tim oposisi,” kata Ismail kepada Tirto.

Ismail menduga pola "menggoreng" isu di media sosial bisa dilakukan dengan cara yang sistematis. Pertama-tama dengan cara mencari noise (kesalahan ucap) dari pihak lawan yang akan dibidik. Setelah noise diperoleh, “Langsung pakai robot (bot) dalam jam pertama dan kedua supaya (noise tersebut) jadi trending topic.”

Penggunaan bot untuk menjadikan suatu noise jadi ramai di Twitter merupakan instruksi yang lantas ditanggapi oleh key opinion leader atau orang-orang yang punya pengaruh di media sosial.

Key opinion leader itu semacam influencer, tokoh-tokohnya,” urai Ismail. “Begitu mereka (key opinion leader) ngomong, langsung diikuti follower-nya.”

Inilah yang jadi alasan mengapa hanya dengan 153 original tweet berhashtag #SaveBoyolali sukses menggapai lebih dari 1,7 juta pengguna Twitter. Selain itu, sebanyak 289 original tweet #SaveMukaBoyolali juga sanggup menggapai 1,4 juta pengguna Twitter.

Namun, Ridlwan Habib, anggota Gugus Informasi Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin membantah tim sukses Jokowi yang memulai memainkan isu "tampang Boyolali" di Twitter. Ia menegaskan ramainya soal “tampang Boyolali” di media sosial adalah “alamiah dan spontan saja.” Namun Ridlwan tak menampik bahwa “kawan-kawan hanya mengikuti netizen yang sudah ramai membahasnya.”

Hashtag alias pound sign alias tanda pagar merupakan salah satu fitur yang dimiliki Twitter, yang dirilis pada Agustus 2007. Ia digunakan untuk memudahkan para pengguna Twitter mengikuti suatu perbincangan dengan tema tertentu.

Yarimar Bonilla, dalam papernya berjudul “#Ferguson: Digital Protest, Hashtag Ethnohraphy, and the Racial Politics of Social Media in the United States” mengatakan hashtag memiliki fungsi clerical. Ia memungkinkan pengurutan dan pengambilan informasi tentang suatu topik tertentu dengan cepat. Misalnya, dalam kasus Ferguson di Amerika Serikat, rincian kematian Michael Brown yang diunggah oleh para pengguna Twitter akan muncul ketika hashtag #Ferguson diklik.

Infografik Save Boyolali

Di awal kemunculannya, hashtag sebagai alat yang memudahkan pengurutan informasi, dari media sosial Twitter yang memiliki batasan kata. Namun, Lexi Pandel, kolumnis Wired, mengatakan hashtag telah berevolusi lebih dari hanya sebatas simbol digital dunia maya. Hashtag, sukses mempengaruhi pemilihan umum hingga memicu gerakan sosial.

Senada dengan pandel, Chris Messina, advokat spesialis di bidang open source, yang merupakan sosok pencetus ide hashtag di Twitter, mengatakan pada The New York Times simbol hashtag merupakan “jalan paling kuat untuk berpartisipasi di media sosial.”

Ini pun diperkuat oleh Paolo Gerbaudo dalam buku berjudul “Tweet and the Streets.” Gerbaudi menyebut bahwa hashtag merupakan cara paling efektif untuk menggerakkan emosi bersama atas suatu percakapan di Twitter. Hashtag adalah jembatan yang menghubungkan rasa solidaritas aksi jalanan dengan pendukung gerakan itu di dunia maya.

Tulisan Gerbaudo senada dengan apa yang terjadi atas hashtag soal “tampang Boyolali.” Selepas gaduh di Twitter, “tampang Boyolali” berlanjut ke jalanan. Pada Minggu (4/11), ribuan orang berkumpul di jalanan Boyolali, di sekitaran Gedung Mahesa dan di Jalan Pandanaran, memprotes ucapan Prabowo. Namun, bagi Prabowo, ucapannya hanya sebagai candaan.

Dari sebuah isu, ditanggapi di twitter, dan berujung aksi jalanan bukan kali pertama terjadi. April lalu, gesekan antara dua kelompok yang berbeda sikap di Twitter Indonesia antara pro Jokowi dan pro Prabowo terjadi. Sekelompok orang berkaos #2019GantiPresiden melakukan tindakan intimidasi terhadap beberapa orang di kawasan Car Free Day (CFD), Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, sekitar pukul 9.15, Minggu (29/4). Yang merupakan respons terhadap kelompok #DiaSibukKerja.

Dalam masa-masa menjelang pemilu presiden 2019, politisasi ucapan-ucapan calon presiden berpotensi banyak terjadi. Twitter, jadi salah satu medium awal tempat terjadinya politisasi untuk menggoreng titik kelemahan lawan.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan lainnya dari Ahmad Zaenudin

tirto.id - Teknologi
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra