Menuju konten utama

Taliban Terkini: 1 Juta Anak Afghanistan Terancam Mati Kelaparan?

Taliban sedang menghadapi krisis kemanusiaan dan jutaan orang Afghanistan terancam kelaparan. 

Taliban Terkini: 1 Juta Anak Afghanistan Terancam Mati Kelaparan?
Puluhan warga Afghan berada di depan kantor paspor setelah pejabat Taliban mengumumkan mereka akan mulai menerbitkan paspor kembali bagi warga, menyusul penundaan berbulan-bulan yang menghambat upaya mereka untuk meninggalkan negara setelah Taliban mengambil alih, di Kabul, Afghanistan, Rabu (6/10/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Jorge Silva/HP/djo

tirto.id - Pemerintah Taliban, yang mengambil alih kepemimpinan di Afghanistan, sedang menghadapi ancaman yang sangat serius. Sebab, menurut PBB, apabila bantuan kemanusiaan tidak segera datang, maka lebih dari satu juta anak di negara itu akan meninggal karena kekurangan gizi dan kelaparan.

Salah satu korbannya adalah Sofia (6 bulan) yang menderita kekurangan gizi akut. Ibunya, Arezo mengatakan kepada perwakilan CBS News, Imtiaz Tyab kalau keluarganya sudah tidak punya uang untuk memberi makan Sofia.

Sofia dirawat di Rumah Sakit Anak di Kabul. Ayahnya mengaku sudah putus asa atas keadaan ini. "Aku butuh makanan," katanya sambil terisak. "Saya punya lima anak. Mereka semua sangat lapar."

Pusat distribusi Program Pangan Dunia yang didanai USAID menyediakan makanan dan orang-orang mengantre untuk mendapatkannya, tetapi mereka hanya menyediakan beberapa makanan pokok.

“Orang-orang datang ke sini karena mereka lapar, mereka membutuhkan makanan, tetapi yang bisa Anda berikan hanyalah tepung dan garam,” kata Wahid Ahmad Darwesh, salah satu penyelenggara di pusat tersebut. "Saat ini, dalam situasi ini, itu baik untuk mereka - tidak cukup, tetapi itu akan menyelamatkan hidup mereka."

Seorang wanita di pinggir jalan Kabul mengaku telah menjual pakaian anak-anaknya dan dia berharap mendapatkan sekitar satu dolar. "Hanya itu yang saya miliki."

Afghanistan nyaris diduduki militer AS selama 20 tahun. Selain mengandalkan bantuan internasional, ekonomi Afghanistan juga ditopang oleh pendanaan AS. Kini, pasukan AS telah menarik diri dari Afghanistan dan negara itu dikuasai Taliban.

Pemerintahan Joe Biden telah membekukan sekitar 9 miliar dolar AS aset pemerintah Afghanistan. Isolasi internasional oleh pandemi dan pemblokiran cadangan kas nasional telah menyebabkan para penguasa Taliban membatasi penarikan tunai di bank. Bahkan, sebagian besar pekerja di sana belum mendapat upah selama berbulan-bulan.

Kepada CBS News, juru bicara utama Taliban Zabihullah Mujahid justru menyalahkan AS terkait kemiskinan di Afghanistan sebab membekukan aset pemerintah dan mereka tidak bisa mengaksesnya. Mujahid mengatakan, bantuan kemanusiaan ke Afghanistan tidak boleh ditunda atas apa yang dianggap negara lain sebagai pelanggaran hak asasi manusia yang meluas.

Terkait soal apakah Taliban bisa menyelesaikan krisis kemanusiaan dan menyelamatkan nyawa 1 juta anak tanpa bantuan AS, Mujahid mengatakan: "Di satu sisi mereka mengatakan satu juta anak akan mati, tetapi di sisi lain, AS menahan uang kami," katanya. "AS harus melepaskan uang kami sehingga kami dapat menyelamatkan lebih banyak anak."

Jutaan Warga Afghanistan akan Hadapi Kelaparan

BBC News melaporkan, program pangan dunia PBB (WFP) telah memperingatkan kalau jutaan warga Afghanistan akan menghadapi kelaparan pada musim dingin apabila tidak segera mengambil tindakan.

Menurut WFP, lebih dari setengah populasi--sekitar 22,8 juta orang--menghadapi kerawanan pangan akut, sementara 3,2 juta anak balita bisa menderita kekurangan gizi akut.

"Afghanistan sekarang berada di antara krisis kemanusiaan terburuk di dunia, jika bukan yang terburuk," kata David Beasley, direktur eksekutif WFP.

"Kami sedang menghitung mundur menuju bencana."

Sebelumnya NPR melaporkan, perekonomian Afghanistan sedang dalam keadaan memburuk. Dengan gaji yang tidak dibayar dan itu memaksa keluarga mengencangkan pinggang untuk bertahan hidup.

Afghanistan termasuk dalam salah satu negara termiskin di dunia, ditambah lagi pandemi Covid-19 yang membuat negara itu tertatih-tatih untuk berjuang dalam membenarkan persoalan ekonomi.

Pertempuran yang terjadi selama beberapa tahun terakhir dan ketidakpastian juga membuat investor gelisah. Di tahun ini, tekanan keuangan dan kekeringan juga turut menambah kesengsaraan Afghanistan.

Belum lagi kasus Taliban yang mengambil alih negara itu pada pertengahan Agustus lalu. John Ruwitch dari NPR mengatakan, negara itu "menciptakan badai yang sempurna dan berada di ambang malapetaka."

Baca juga artikel terkait KABAR AFGHANISTAN TERBARU atau tulisan lainnya dari Alexander Haryanto

tirto.id - Politik
Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Iswara N Raditya