23 September 1939

Tak Ada yang Lebih Tabah dari Sigmund Freud di Bulan Oktober

Oleh: Uswatul Chabibah - 23 September 2021
Dibaca Normal 3 menit
Pendudukan Nazi di Austria berkontribusi dalam penyebarluasan psikoanalisis Freud.
tirto.id - Setiap tahun, nama yang akan menerima Hadiah Nobel diumumkan pada bulan Oktober. Dan setiap tahun pula, Sigmund Freud tak pernah menerimanya.

Sepanjang 1915 hingga 1938, Sigmund Freud 33 kali diusulkan ke panitia Hadiah Nobel di Swedia sebagai penerima kusala bergengsi tersebut. Dari 33 kali pengusulan, 13 di antaranya masuk dalam daftar nomine. Dan dari 13 kali dinominasikan, 12 di antaranya adalah sebagai nomine Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran, serta 1 kali nomine dalam Hadiah Nobel Kesusastraan.

Orang pertama yang menominasikan Freud adalah William A. White, cendekia terkemuka di bidang sejarah psikoanalisis di New York. Dalam surat pengusulannya kepada panitia Nobel pada 1914, White menyebutkan bahwa Freud telah memulai era baru dalam pengobatan penyakit jiwa dengan menafsirkan gejala-gejala psikis. Robert Barany, dokter THT (telinga, hidung, dan tenggorokan) dari Wina yang menerima Hadiah Nobel pada 1915, juga gigih mengusulkan Freud pada 1917, 1918, 1919, dan 1920. Barany berkali-kali meyakinkan panitia bahwa dengan memberikan Freud Hadiah Nobel Kedokteran, maka psikoanalisis akan memiliki status akademik yang sah dalam ranah ilmu pengetahuan.

Nominator-nominator Freud pada tahun-tahun selanjutnya tak kalah mentereng. Pada 1927, tiga profesor dari Peru dan seorang ilmuwan Jerman, Georg Honigman, menyatakan bahwa Freud telah membuka ranah penelitian yang sama sekali baru. Sebelum Freud merintis psikoanalisis, upaya pengobatan untuk penyakit jiwa didominasi oleh pendekatan spiritual. Bahkan pada 1937, dua peraih Nobel Kedokteran, Julius Wagner-Jauregg dan Otto Loewi, turut memperjuangkan nasib Freud di hadapan dewan panitia Hadiah Nobel. Loewi mendapuk Freud sebagai pendiri psikologi klinis, yang ia tegaskan kembali dalam usulan di tahun berikutnya. (Stolt, Carl-Magnus, 2010, “Why did Freud Never Receive the Nobel Prize?” International Forum of Psychoanalysis, 10:3-4, hlm. 222-224).

Romain Rolland, sastrawan Prancis penerima Hadiah Nobel 1915, pada 1936 menominasikan Freud untuk ranah berbeda, yakni Nobel Kesusastraan. Dalam surat nominasinya, Rolland menyatakan bahwa karya dan pemikiran Freud memiliki pengaruh besar dalam kesusastraan dan teater di Prancis, Italia, serta Inggris. Untuk nominasinya ini, panitia Nobel membalas bahwa mestinya Freud diusulkan untuk Nobel Kedokteran saja.

Padahal, Freud bukanlah dokter atau praktisi klinis pertama yang diusulkan untuk Nobel Kesusastraan. Sejak 1911, setidaknya 13 dokter dari berbagai spesialisasi dinominasikan untuk Nobel Kesusastraan, termasuk sejawat Freud dalam psikoanalisis, Carl Gustav Jung. Dengan keseharian dokter pada upaya menggali riwayat penyakit—secara historis umum maupun individu—demi memahami sepenuhnya gejala pasien, seorang dokter tak pelak berhadapan langsung dengan kisah-kisah penderitaan manusia dan literatur-literatur acuannya. Tak mengherankan seorang dokter juga seorang pencerita. (Hansson, Nils et al. “The enactment of physician-authors in Nobel Prize nominations.” PloS one vol. 15,11 e0242498. 23 Nov. 2020).

Kontribusi Freud dalam kesusastraan lebih luas dan tak lekang hingga kini. Kritik sastra dengan pendekatan psikoanalisis Freudian memungkinkan untuk membuat hubungan antara makna tersembunyi dan ketidaksadaran, juga antara makna eksplisit dan teks. Psikoanalisis Freudian juga dapat mengidentifikasi konteks psikis pada karya sastra. (Barry, Peter. 2002. Beginning theory. An introduction to literary and cultural theory. Chap. 5, Psychoanalytic criticism, hlm. 105).


Karya-karya Freud mengesankan, bahkan Einstein pernah menyatakan kekagumannya, meski pada 1928 menolak pengusulan Freud sebagai penerima Hadiah Nobel Kedokteran. Einstein tidak yakin pada “konten kebenaran” dalam ajaran Freud. Kendati demikian, lima tahun kemudian mereka berdua menerbitkan Why War?, bunga rampai surat mereka bertukar pandangan mengenai perdamaian, kekerasan, dan sifat manusia. Meski tidak meraih Nobel Kesusastraan, kontribusi Freud diakui lewat penganugerahan Goethe Prize pada 1930.

Infografik Mozaik Sigmund Freud
Infografik Mozaik Sigmund Freud. tirto.id/Rangga


Gagasan-gagasan psikoanalisis Freud mulanya hanya berkembang di kawasan Eropa Tengah dan berpusat di kota-kota seperti Moskow, Berlin, Budapest, dan di kota asal Freud, Wina. Ketika tentara Nazi mulai memasuki Wina pada April 1938 dan memburu Yahudi, Freud mau tak mau harus meninggalkan kota itu. Ia menuju London pada 4 Juni 1938 menumpang Orient Express.

Di masa kekuasaan Nazi, sekitar 50 orang psikoanalis Freudian melarikan diri ke Amerika Serikat. Meski jumlahnya sedikit, tetapi dalam waktu singkat mereka berhasil mengubah wajah psikiatri Amerika Serikat. Setelah Perang Dunia II berakhir, para psikoanalis Freudian menduduki jabatan-jabatan penting di perguruan tinggi dan memengaruhi penyusunan kurikulum sekolah kedokteran. Mereka juga menyusun dua edisi pertama Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders—diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA) yang berisi kriteria standar berbagai jenis gangguan mental, digunakan sebagai acuan umum di Amerika Serikat oleh para dokter, peneliti, badan pengatur obat untuk gangguan jiwa, perusahaan asuransi kesehatan, perusahaan farmasi, sistem hukum, dan para pembuat kebijakan.

Pendudukan Nazi justru berkontribusi pada penyebarluasan psikoanalisis Freud. Dekade-dekade pascaperang menjadi boom ilmu psikiatri dan sebagian besar psikiatris dilaporkan menggunakan “pendekatan dinamis”—prinsip dasar Freudian—dalam menangani pasien.

Sementara psikoanalisis berkembang pesat di Amerika Serikat, Freud di London berjuang melawan kanker rahang yang menggerogoti kesehatannya. Ia tinggal di sebuah rumah besar di Hampstead—kini menjadi Museum Freud—yang disiapkan kawan-kawan dan pengikutnya. Virginia Woolf, pemilik Hogarth Press yang menerbitkan semua karya Freud edisi British sejak 1924 dan 24 volume terjemahan semua karyanya, diketahui pernah bertandang ke rumah ini, meski sepertinya Woolf kurang terkesan dengan pribadi tuan rumah.

Tiga pekan setelah Perang Dunia II meletus, yakni pada 23 September 1939 tepat hari ini 82 tahun lalu, Sigmund Freud meninggal di rumah besar itu pada usia 83 tahun, tanpa Hadiah Nobel.

Baca juga artikel terkait PSIKOANALISIS atau tulisan menarik lainnya Uswatul Chabibah
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Uswatul Chabibah
Editor: Irfan Teguh
DarkLight