Serial Komikus Indonesia

Taguan Hardjo Mengawinkan Cerita, Gambar Ciamik & Riset pada Komik

Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 27 Maret 2019
Dibaca Normal 5 menit
Taguan Hardjo menarik minat pembaca komik dengan cerita-cerita yang kuat dan gambar yang sedap dipandang.
tirto.id - Pada pembabakan sejarah komik Indonesia ada suatu masa yang sering disebut Periode Medan. Peneliti komik Marcel Bonneff menyebut periode tersebut dalam rentang 1960-1963—merujuk pada puncak masa komik-komik terbitan Medan merajai pasaran.

Sementara Arswendo Atmowiloto menyebut Periode Medan sejak 1958 ketika komik bikinan komikus Medan mulai bermunculan.

Namun, keduanya sepakat bahwa penerbit dan komikus Medan terpacu oleh mekarnya penerbitan komik di Jawa. Mereka mencoba mengekor kesuksesan komik wayang garapan Raden Ahmad Kosasih dan Ardisoma. Tapi, lain lubuk lain ikannya, memang. Komik wayang tak begitu laku di pasar Sumatera.

Menyadari hal itu, penerbit-penerbit komik Medan mendorong komikus untuk mengeksplorasi tema-tema berbeda. Mereka mencipta komik dengan mengadaptasi sejarah dan dongeng lokal Sumatera. Itu membikin Periode Medan otentik sebagai kurun tersendiri.

“Kemurnian dari periode Sumatra itu disebabkan oleh dua faktor, yaitu tema-tema daerah dan bakat besar para komikus,” tulis Bonneff dalam Komik Indonesia (1998:32).

Periode Medan memunculkan nama-nama seperti Djas, Zam Nuldyn, Delsy Syamsumar, dan Taguan Hardjo. Di kalangan komik, merekalah para titan dengan derajat estetika luhur. Dan seturut amatan Arswendo, Taguan Hardjo adalah yang paling menonjol.

Taguan Hardjo lahir di Suriname, 6 November 1935. Ia adalah generasi ketiga dari keluarga Jawa yang dikirim Belanda ke Suriname. Ia tinggal di lingkungan yang dihuni para rantau dari berbagai bangsa, dari Portugis, India, Cina, Afrika, dan Spanyol. Lingkungan kosmopolit ini kelak memberi pengaruh tersendiri dalam proses kreatif Taguan.

Sejak kecil Taguan sudah punya minat pada seni, komik salah satunya. Pernah dia mengumpulkan komik hingga dua peti banyaknya. Namun sayang kemudian dimusnahkan ayahnya. Untunglah ia punya tante yang lebih pengertian. Dari sang tante, Carmen de Tixier yang keturunan Perancis itu, ia beroleh komik-komik berbahasa Inggris berlatar kisah klasik Eropa.


Beriring dengan kegemaran lainnya pada film, Taguan memulai proses kreatifnya sejak belia.

“Pada 1949, saat berumur 14 tahun, dia melahirkan komik pertamanya, Tondo. Komik bergaya Tarzan ini tiga tahun kemudian dia buat menjadi film pendek berjudul Tondo de Zoon der Wildernis (Tondo Tarzan Hutan) dengan dia sebagai produser, sutradara, merangkap aktor utama,” tulis Anton Kurnia dalam Buah Terlarang dan Cinta Morina: Catatan dari Dunia Komik (2017:56).

Usai lulus sekolah menengah, Taguan mulai berkenalan dengan dunia koran dan percetakan. Di koran De West ia dapat kerja sebagai tukang bikin klise karikatur. Ia juga mulai memperdalam teknik menggambar komik.

Alur hidup Taguan berubah kala sang ayah memboyong keluarganya balik ke Indonesia pada 1953. Keluarga itu lalu mukim di sebuah daerah di pelosok Sumatra Selatan yang disediakan pemerintah untuk para keluarga yang direpatriasi dari Suriname. Namun, Taguan tak betah dan merantaulah ia ke Kota Medan.

Masa Berkarya

Pekerjaan pertama yang ia dapat di Kota Medan cukup menyenangkan. Ia jadi pelukis teknik di sebuah perusahaan kereta api di Deli. Tiap hari ia didapuk menggambar berbagai denah. Tapi dia belum lagi memulai bikin komik.

Perjalanannya dengan komik baru dimulai setelah ia menikah pada 1955. Waktu itu koran-koran Medan biasa menampilkan komik. Hanya saja, belum ada yang membuat kisah untuk anak-anak. Dari itu, terbitlah ide membuat komik anak dengan tokoh utama seekor tupai bernama Tjip. Inspirasinya datang dari karya-karya Walt Disney.

“Pengaruh Walt Disney. Waktu itu saya banyak membawa komik-komik tersebut. Saya menirunya. Saya bawa ke toko buku Gerak, tapi ditolak. Di sana saya disodori komik karya Delsy Syamsumar. Yang laku yang begini, kata pemilik toko tersebut,” ungkap Taguan kepada Arswendo sebagaimana tersua dalam “Taguan Hardjo Raja yang Menyongket Pesan” yang terbit di Kompas (5/9/1979).

Taguan tak habis akal. Kalau tak belum bisa terbit dalam bentuk buku, terbit di koran pun jadilah. Keputusan itu lantas mempertemukannya dengan Mohamad Said yang sehari-harinya adalah bos harian Waspada. Pak Said melihat Tjip punya potensi, maka diterimanya komik itu terbit berkala di korannya pada 1957. Sekalian diajaknya Taguan masuk jadi karikaturis Waspada.

Sejak itu Taguan banting setir. Meski kariernya mulai cerah di perusahaan lama, ia tak ragu ambil peluang yang disodorkan Mohamad Said. Sejak itu ia rutin membuat komik dan perlahan namanya terkerek naik seiring lahirnya karya-karya baru di Waspada.

Taguan mulai membetot perhatian pembaca kala memulai serial Mentjari Musang Berdjanggut pada 1958. Itu sebuah dongeng lokal yang dikemas ulang. Karena sambutan pembaca yang sangat positif, karya itu lalu dipinang Penerbit Harris untuk diterbitkan dalam satu buku utuh.

Arswendo mencatat, cetakan pertama komik itu laku hingga 10.000 eksemplar. Karenanya, volume terbitannya dinaikkan hingga 50.000 eksemplar pada cetakan kedua dan ketiga. Penerbit Harris berani berproduksi besar karena memang punya ambisi menyaingi Penerbit Melodi dari Bandung yang selama ini merajai pasar dengan komik wayangnya.

“Sejak sukses penjualan Mentjari Musang Berdjanggut, Taguan berproduksi keras. Lahir komik-komik berikut dengan subur. Kematangan bercerita, penguasaan garis menunjukkan perkembangan. Wajah-wajah yang ditampilkan, problem yang digarap, semuanya menarik perhatian,” tulis Arswendo.

Rentang Karya

Taguan ingin komik-komiknya bisa menerabas sekat sosial. Ia ingin bikin komik yang bisa dibaca tukang becak hingga kaum intelektual, dibicarakan emak-emak hingga kakek-kakek. Karenanya, ia tak membatasi diri pada satu genre tertentu.



Ia fasih menggarap komik berlatar historis macam Keulana (1959). Tak hanya mengadaptasi sejarah Aceh, kedua komik itu juga jadi ajang kepiawaian Taguan meramu unsur-unsur budaya lokal dengan Portugis. Buah dari pengalaman hidupnya yang kosmopolit di Suriname.

Komik ini digambar dengan bagus dalam hal detail lukisan karakter tokoh, latar tempat, dan aksi laga. Ilham lukisannya berasal dari komik Eric de Noorman karya Hans G. Kresse yang dibaca Taguan semasa remaja di Suriname,” tulis Anton (hlm. 64).

Lepas sejarah, ia menggarap juga komik humor Dul Molek Si Buta Melek (1960) dan lalu kisah filosofis Batas Firdaus (1960). Lalu ada kisah sangat realis tentang konflik nelayan dengan koperasi berkepala Telandjang Udjung Karang. Ada pula komik perjuangan Irian Barat bertajuk Bentjah Menggelegak (1962). Cerita Eropa klasik pun ia sikat kala menggambar Ben Hur (1960) dan Spartacus (1961).

Ia juga mahir menggarap satir bertajuk Si Pinto Minta Kuat (1972). Karya ini unik karena lahir kala komik silat sedang merajalela dan melalui sosok Pinto Taguan meledek genre ini. Sasaran tembaknya terutama pada plot dan motivasi kependekaran para jagoan silat itu yang rata-rata memang mirip-mirip.

Alkisah Si Pinto berkelana untuk belajar silat agar bisa membalas dendam kematian ayahnya. Selama mengembara ia menyadari satu hal: semua pendekar yang ia temui di mana pun, berduel gara-gara dendam dan dendam.

Singkat kisah Si Pinto akhirnya mendapat kekuatan ajaib dan menjadi kuat. Tapi kekuatannya jadi mubazir karena si pembunuh ayahnya tak jua ketemu. Yang ada ia malah lebih sering menghajar musuh bebuyutan pendekar lain. Merasa gagal ia akhirnya memilih pulang.

“Ketika pulang barulah ibunya bercerita. Ibunyalah yang membunuh Ayah Pinto. Yaitu dengan melempar penumbuk sambal. Alasannya karena Ayah Pinto main perempuan. Begitulah Taguan mengakhiri adegan komik silatnya,” tulis Arswendo.

Infografik Taguan Hardjo
Infografik Taguan Hardjo. tirto.id/Sabit

Kekuatan Teknik dan Riset

Bonneff dalam bukunya (hlm. 32) memuji komik-komik Taguan karena ceritanya yang orisinal dan memikat. Ceritanya selalu punya konteks, dikembangkan dengan logis, dan diakhiri dengan penyelesaian yang jelas.

Bagaimana ia bisa mencapai standar itu? Semua bermula dari riset. Dengan modal riset ia berani membikin komik-komik berlatar sejarah budaya Melayu dan kisah filosofis.

“Cerita saya bertolak dari mendengarkan pengalaman, membaca, yang kemudian saya reka-reka sendiri. Plotnya saya ubah. Lalu saya berusaha menggambarkan setelah riset. Misalnya cerita tentang sejarah Aceh, saya harus tahu bentuk keris bangsawan, bagaimana cara memakainya. Begitu juga kain yang dikenakan dan properti yang lain,” ungkap Taguan kepada Arswendo.

Taguan juga sangat berhati-hati menyusun ceritanya. Ia selalu ingin membuat cerita bermutu yang punya pesan jelas dan berguna. Karenanya ia selalu lebih dulu membuat konsep cerita sebelum mulai menggambar apa pun. Prinsipnya: gambar bisa ngawur tapi cerita tidak.



Meski bilang begitu pun, nyatanya Taguan tak bisa ngawur juga kala menggambar. Ia memoles ceritanya yang kuat juga dengan teknik gambar di atas rata-rata. Kekuatan gambar Taguan terletak pada penguasaannya pada anatomi dan teknik arsir. Itulah segala resepnya menciptakan gambar yang ekspresif dan berdimensi.

Untuk soal ini bahkan, Taguan sendiri mengakui ia hampir-hampir sangat matematis. Maklum, ia memang mengawali karier sebagai penggambar teknik. Ia bahkan sebenarnya lebih melihat dirinya sebagai ahli teknik dari pada komikus.

“Proporsi, ketepatan, kerapian, bahkan arsir yang dianggap sebagai kekuatannya, semua diperhitungkan, bahkan dilakukan secara ‘mekanis’. Ia mengaku, kalau ada ‘rasa seni’, paling banter pada kemampuannya memilih sudut pandang, dan persepsinya akan adegan,” tulis Kompas (29/8/1995).

Dengan semua kelebihan itu Taguan Hardjo meletakkan komiknya—juga komik-komik Periode Medan—dalam level estetika baru. Komiknya adalah bukti sahih bahwa komik bukanlah sekadar produk picisan, apa lagi dianggap sebagai biang kebodohan pelajar.

Taguan punya masa depan cerah sebagai komikus. Namun, masa produktifnya ternyata cepat berlalu. Seiring dengan menurunnya tiras komik Medan pada pertengahan 1960-an, Taguan pun beralih fokus lagi ke bidang teknik percetakan.

Sebab lain yang membuatnya mundur teratur dari komik adalah kejengkelannya pada politik. Eskalasi politik yang menghangat pada awal 1960-an dirasa amat mengekang kebebasan kreatifnya.

“Jauh-jauh saya datang ke Indonesia ingin mengenal bangsa saya. Bukan partai tertentu. Saya ingin bebas dari ideologi-ideologi. Tapi ya susah. Bikin begini takut ada yang tersinggung, bikin begitu disangka mengejek,” akunya kepada Arswendo.

Pada 1968 dengan bantuan beasiswa pemerintah ia berangkat ke Belanda untuk memperdalam teknik percetakan. Sejak 1970-an ia mulai mantap bekerja di bidang ini dan pindah ke Jakarta. Meski tak sekencang dulu, sesekali ia masih juga menggambar komik hingga ia wafat pada 25 September 2002.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Suhendra