Syuting di 70 Lokasi, Film Gundala Tak Pakai Green Screen

Oleh: Nasywa Humaira - 29 Agustus 2019
Dibaca Normal 1 menit
Sutradara Film Gundala, Joko Anwar mengatakan, proses produksi film superhero tersebut tidak memakai teknologi kunci kroma, untuk menonjolkan sisi Indonesia yang lebih kental.
tirto.id - Film Superhero Indonesia Gundala mengambil lokasi syuting di 70 tempat dan tidak menggunakan teknologi kunci kroma (chroma key) atau yang dikenal dengan green screen.

Kunci kroma atau green screen biasanya digunakan untuk memanipulasi tempat kejadian.

Joko Anwar sebagai sutradara mengatakan, ia tidak memakai teknologi tersebut demi menonjolkan nuansa Indonesia yang lebih kental.

“Proses pasca-produksi hampir satu tahun. Jadi, semua dari ditulis sampai rilis dua tahun. Yang paling susah cari lokasi karena pakai green screen. Kalau kita mau syuting di pasar, cari pasar beneran,” ungkapnya sebagaimana dilansir Antara.

Dikutip dari laman Technopedia, kunci kroma (chroma key) merupakan teknik penggabungan dua gambar dengan salah satu gambar dihilangkan atau dibuat tembus pandang, agar gambar lain yang terletak di belakang dapat terlihat.

Dalam industri film menggunakan layar biru atau hijau sebagai latar belakang dan menempatkan aktor di depan layar, sehingga warna mudah diseleksi tanpa khawatir ada bagian dari aktor yang terseleksi.

Kunci kroma disebut juga layar hijau (green screen) dan layar baru (blue screen).

Selain mengambil 70 lokasi yang berbeda selama 53 hari pengambilan gambar, film Gundala juga melibatkan 1.800 pemain.

Di antaranya Abimana Aryasatya (Gundala/Sancaka), Tara Basro (Wulan), Marissa Nasution (Ibu Sancaka), Rio Dewanto (Bapak Sancaka), Muzakki Ramdan (Sancaka Muda), Bront Palarae (Pengkor) dan lainnya.

Cerita pahlawan Gundala merupakan penggabungan cerita komik ciptaan Harya Suryaminata atau biasa disapa Hasmi, dengan kisah baru yang ditulis sendiri oleh Joko Anwar.

Gundala pertama kali muncul dalam komik Gundala Putra Petir pada tahun 1969. Terdiri dari 23 judul seri yang terbit tahun 1969-1982, Gundala terinsirasi dari The Flash, karakter superhero ciptaan DC Comics.

Film ini bercerita tentang Sancaka yang hidup di jalanan sejak orang tuanya meninggalkannya. Menjalani kehidupan yang berat, Sancaka bertahan hidup dengan memikirkan keselamatannya sendiri.

Ketika keadaan kota makin buruk dan ketidakadilan berkecamuk di seluruh negara, Sancaka harus memutuskan, apakah dia terus hidup menjaga dirinya sendiri atau bangkit menjadi pahlawan mereka yang tertindas.

Film Gundala tayang pada 29 Agustus 2019 akan menjadi pintu masuk bagi Jagat Sinema Bumilangit yang berisi jagoan-jagoan dari cerita-cerita klasik Indonesia, yang terdiri dari grup Jawara, sekumpulan pendekar yang berbagi tujuan memerangi kezaliman, seperti Si Buta dari Gua Hantu, Mandala, Selendang Biru, Bidadari Mata Elang, dan Selendang Mayang.

Grup Patriot yang berisikan superhero legendaris, seperti Gundala, Godam, Herbintang, Tora, Merpati dan Tira bergabung memerangi kejahatan.

Dan grup Satria Nusantara, sebuah kelompok superhero dari berbagai nusantara, terdiri dari Sri Asih, Nusantara, Kapten Halilintar, Aquanus, Maza, dan Siti Gahara.

Baca juga artikel terkait FILM INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Nasywa Humaira
(tirto.id - Film)

Kontributor: Nasywa Humaira
Penulis: Nasywa Humaira
Editor: Yandri Daniel Damaledo
DarkLight