Sutiyoso, Kopassus, dan Diplomasi Pisang

Oleh: Mawa Kresna - 14 April 2017
Dibaca Normal 2 menit
Sutiyoso datang ke lokasi tambang Semen Indonesia. Ia ingin tahu suara masyarakat sekitar tambang. Pulangnya, ia diberi dua sisir pisang oleh Joko Prianto.
tirto.id - Enam hari setelah diangkat sebagai Komisaris Utama PT Semen Indonesia, Sutiyoso mendatangi areal utama penambangan di Desa Tegaldowo, 6 April 2017. Ia bertamu ke rumah Joko Prianto, penggiat Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng. Prianto siang itu tengah di rumah dan, kontras dengan penampilan pensiunan jenderal itu, ia mengenakan kaos oblong dan celana tanggung. Sementara mantan Kepala Badan Intelijen Negara itu memakai kemeja putih dan celana biru. Belasan polisi dan tentara, kata Prianto, mengawal Sutiyoso yang datang buat "mendengarkan" masyarakat yang menolak tambang dan pabrik Semen Indonesia.

Prianto mempersilakan Sutiyoso masuk ke rumahnya dengan sopan. Mereka bersalaman dan saling mengenalkan diri. Rumah Prianto sederhana, dindingnya dari papan kayu bercat putih. Di ruang tamu, dengan kursi kayu seadanya, segelas kopi hitam disuguhkan Prianto untuk menemani perbincangan.

“Kedatangan saya, untuk mendengarkan, apa masalahnya, mengapa menolak keberadaan pabrik semen?” kata Sutiyoso.

Sutiyoso adalah orang yang malang-melintang dalam jagat politik di Indonesia. Ia mendekat ke lingkaran pemerintahan Joko Widodo lewat sebuah partai yang juga dihuni oleh pensiunan jenderal lain seperti Hendropriyono. Karier Sutiyoso di Komando Pasukan Khusus, sebuah elite tempur TNI, dan pensiun dengan pangkat mayor jenderal. Ia pernah menjabat gubernur DKI Jakarta dari 1997 hingga 2007. Jabatan terakhirnya, sebelum jadi komisaris utama Semen Indonesia, adalah Kepala BIN selama setahun dua bulan di era Jokowi.

Pendeknya, dunia Sutiyoso dan Joko Prianto adalah dunia yang sangat kontras. Namun, cara Prianto memperlakukan Sutiyoso menunjukkan martabat petani.

“Sebagai Komut (Komisaris Utama) baru, tugasku itu memberikan saran kepada para direksi. Nah, kalau memberikan saran kan harus bisa dipertanggungjawabkan. Untuk itulah aku merasa perlu untuk datang ke lokasi. Aku mendatangi yang pro dan yang menolak pabrik semen untuk mendengarkan. Mereka saya temui. Saya mendengarkan Joko, mendengar Sutinah, saya mencari masukan dari dia,” katanya kepada Tirto, Kamis (13/4).

Sesuai keinginan Sutiyoso, Prianto menceritakan alasan warga menolak penambangan dan pabrik semen.

“Kami ini hidup dari tanah ini, dari air yang ada di desa ini. Kalau sumber itu rusak, lalu gimana kami menghidupi sawah kami, menghidupi keluarga kami?” kata Prianto.

Rumah Prianto hanya sekitar 1 km dari lokasi penambangan Semen Indonesia dan sekitar 5 km dari lokasi pabrik. Di belakang rumahnya, banyak tanaman tumbuh subur meski tanpa perawatan termasuk pohon pisang. Bila sudah masak di pohon, Prianto menebas tandan-tandan pisang. Terus begitu sepanjang tahun.

“Kami tentu khawatir kalau ada pabrik, lingkungan jadi rusak, apa enggak sayang alam ini rusak? Alam ini yang memberikan kehidupan buat kami,” tambah Prianto.

Sutiyoso menyimak cerita Prianto. Ia tidak mendebat atau memengaruhi Prianto untuk berbalik mendukung Semen Indonesia. Selain itu, soal lingkungan bukanlah keahliannya, dan ia merasa tidak pas untuk berkomentar.

“Itu kan ahli geologi yang tahu, biar nanti mereka yang menjawab. Tidak ada mengintimidasi, dan itu bukan cara saya,” ujarnya.

INFOGRAFIK HL KLHS Kendeng


Sutiyoso, selain ke rumah Joko Prianto, juga mendengarkan warga yang disebutnya "ingin agar pabrik Semen Indonesia segera beroperasi." Ia mengklaim, lebih banyak warga yang pro terhadap pabrik semen ketimbang yang kontra. Ia penasaran soal penolakan yang hanya ditujukan kepada Semen Indonesia, sementara kepada perusahaan lain penolakan itu tidak terlihat.

“Warga itu sudah melihat di Tuban itu bagaimana, lahan yang bekas ditambang itu menjadi lahan hijau, ada pertanian, ada buah-buahan, dan itu punya penduduk semua, walaupun tanahnya sudah dijual kepada Semen Indonesia,” katanya.

Selain itu, Sutiyoso mengatakan sejauh ini Semen Indonesia sudah menghabiskan Rp42 miliar untuk masyarakat di sana. Uang itu digunakan untuk membangun embung hingga pipanisasi ke rumah warga. Sutiyoso pun mengecek langsung ke lokasi untuk memastikan bahwa embung itu bermanfaat untuk warga.

"Jangan sampai kita terbawa opini yang sebenarnya tidak seperti itu. Karena itulah aku ke lapangan, aku kan orang Kopassus, apa-apa ngecek di lapangan,” ujarnya.

Kunjungannya ke rumah Joko Prianto tidaklah lama. Meski demikian, Sutiyoso menyempatkan makan siang bersama keluarga Prianto. Hidangannya sederhana. Sayur asem, tempe goreng, telor ceplok, dan pisang. Karena buru-buru, Sutiyoso tak sempat mencicipi hidangan penutup. Prianto lantas memberikan dua sisir pisang kepada Sutiyoso buat bekal di perjalanan.

Pisang itu adalah pisang raja yang tumbuh subur dan liar di belakang rumah Joko Prianto. Dan pisang ini tumbuh bukan karena keajaiban. Itu karena tanah di belakang rumah Prianto, berjarak sekitar 1 km dari areal tambang Semen Indonesia, memang subur berkat aliran air yang melimpah dari cekungan air tanah Watuputih.

Baca juga artikel terkait KONFLIK SEMEN REMBANG atau tulisan menarik lainnya Mawa Kresna
(tirto.id - Politik)

Reporter: Mawa Kresna
Penulis: Mawa Kresna
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight