Suthida: Kepala Pengawal Istana yang Jadi Ratu Thailand

Raja Maha Vajiralongkorn dan pasangannya, General Suthida Vajiralongkorn dengan gelar Ratu Suthida menghadiri upacara pernikahan mereka di Bangkok, Thailand, Rabu (1/5/2019). ANTARA FOTO/Thailand Royal Household via REUTERS/hp/cfo
Oleh: Joan Aurelia - 4 Mei 2019
Dibaca Normal 2 menit
Raja Thailand Vajiralongkorn selalu menyembunyikan asal-usul isterinya.
Vajiralongkorn, putra mendiang Bhumibol Adulyadej, resmi dinobatkan sebagai raja Thailand pada Sabtu (4/5). Rangkaian acara penobatan akan berlangsung tiga hari berturut-turut.

Pada hari pertama, Vajiralongkorn akan diurapi air suci dari sungai yang mengalir di 76 provinsi di Thailand. Setelah itu kepalanya akan dipasangkan mahkota seberat tujuh kilogram yang menandakan ia sudah sah jadi pengganti sang ayah. Usai mahkota terpasang, sang raja baru dipersilakan menyatakan titah pertama.

Pada hari kedua penobatan, Vajiralongkorn akan mengelilingi penjuru kota dan menyapa ribuan rakyat yang diperkirakan akan turun ke jalan menyambutnya. Selain menyapa rakyat, Vajiralongkorn diharuskan mengunjungi beberapa tempat suci di kota Bangkok.

Keesokan harinya, ia mesti berdiri di balkon Grand Palace untuk kembali menyapa rakyat.


Semua prosesi itu tak dilakoninya seorang diri. Satu Mei lalu, Vajiralongkorn resmi mempersunting Suthida, perempuan yang telah ada di dekatnya selama empat tahun terakhir. Pada 2014, Suthida dinobatkan sebagai wakil komandan pasukan pengamanan raja. Dua tahun setelahnya, Vajiralongkorn memberi pangkat jenderal kepada Suthida. Pada 2017, perempuan itu naik jabatan lagi sebagai kepala pasukan pengamanan istana.

Ternyata pangkatnya terus naik sampai ke tahap ratu.

Rasa was-was sebagian besar rakyat Thailand pun sirna. Lima tahun lalu, dalam tulisannya The Diplomat, Pavin Chachavalpongpun menulis tentang kegelisahan rakyat Thailand terkait calon ratu mereka. Waktu itu, Vajiralongkorn baru saja menceraikan isteri ketiga yang telah dinikahinya selama lebih dari 10 tahun dan memberinya seorang anak lelaki.

Sang mantan istri, Srirasmi, yang tidak berasal dari lingkaran kerajaan atau kaum bangsawan Thailand ini lantas dipulangkan ke tempat asalnya di sebuah kawasan di Bangkok. Ia tidak diperkenankan memboyong putranya yang akan dipersiapkan untuk jadi raja.

Saat itu Vajiralongkorn mempercayakan sang putra diurus oleh Suthida.




Rakyat Thailand pun bertanya-tanya: siapakah yang akan jadi ratu?

Vajiralongkorn menyembunyikan kisah latar belakang Suthida. Siapapun yang menyinggung soal Suthida rentan dikenai hukuman 15 tahun penjara akibat dianggap melanggar hukum Les Majeste atau penghinaan terhadap keluarga kerajaan.

Informasi yang tersebar pun sebatas spekulasi. Suthida dikabarkan berusia 40 tahun dan sempat bekerja sebagai pramugari Thai Airways. Tapi pihak kerajaan tidak mengonfirmasinya.

Kabar resmi yang tersebar sejak awal Mei lalu hanya sebatas raja menikahi jenderal dalam sebuah upacara dan ritual resmi di istana Dusit. Pernikahan dihadiri pimpinan junta militer Prayut Chan O Cha dan disaksikan oleh saudari kandung Vajiralongkorn.

Sampai saat ini pemerintah Thailand pun belum memberi informasi tentang tugas-tugas yang akan dilakukan sang ratu selama masa jabatannya berlangsung.


Bila mengacu pada aktivitas Ratu Sirikit, sang mertua, Suthida akan jadi perempuan yang rajin blusukan ke desa-desa.

Pada tahun 1981, People mengisahkan bahwa hidup Sirikit tidak mewah-mewah amat. Dalam setahun ia dikabarkan tinggal di tiga jenis tempat berbeda. Ada kalanya ia tinggal di rumah yang terletak di kawasan pegunungan dengan pemandangan hamparan taman bunga. Ada waktunya ia menginap di rumah pinggir pantai. Berikutnya ia tinggal di daerah perbatasan yang dikelilingi berbagai jenis tumbuhan anggrek.

Kabarnya, ia senantiasa menyempatkan diri untuk mengunjungi orang-orang desa dan melatih keterampilan membuat produk kerajinan tangan dan memotivasi mereka untuk membaca.

“Dalam setahun, Sirikit tampil di muka publik sekitar 730 kali dan sebagian besar bukan dalam rangka perayaan acara kerajaan. Ia terlibat dalam dunia pendidikan sehingga tingkat literasi Thailand mencapai 90% dan negara tersebut bebas dari wabah malnutrisi. Untuk meningkatkan pendapatan warga, ia mengajari mereka menenun sutera dan membuat aksesori,” tulis People.

“Tidak ada tempat yang aman di dunia ini. Ancaman hidup selalu ada tapi di luar sana banyak rakyat miskin dan kita tidak bisa diam saja di dalam istana,” kata Sirikit.

Sirikit dipandang sukses mempromosikan kerajinan tangan dan tekstil Thailand ke luar negeri. New York Times melaporkan Sirikit masuk dalam daftar International Best Dressed List pada 1965 setelah sang ratu mengenakan busana yang terbuat dari sutera Thailand saat menjalani kunjungan diplomatik ke berbagai negara. Ia pun bekerjasama dengan desainer adibusana asal Paris Pierre Balmain untuk merancang busananya.

Masyarakat Thailand mengenalnya sebagai ratu yang gemar beramal. Namanya telah diabadikan sebagai rumah sakit dan taman. Selama 66 tahun berkuasa, ia juga mendapat berbagai gelar kehormatan dan penghargaan.

Baca juga artikel terkait RAJA THAILAND atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight