Susi Pudjiastuti: Kronologi, Penyebab & Mengapa Ia Ramai di Twitter

Oleh: Alexander Haryanto - 4 Februari 2021
Dibaca Normal 2 menit
Susi Pudjiastuti riuh diperbincangkan di Twitter. Namanya pun masuk tren Google hari ini. Berikut kronologi dan penyebabnya.
tirto.id - Susi Pudjiastuti akhir-akhir ini sering diserang di media sosial. Begitu twit Febri Diansyah, eks Kepala Biro Humas KPK, yang penasaran dengan apa yang terjadi dengan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan itu. Berawal dari twit tersebut, nama Susi Pudjiastuti menjadi trending di Google pada hari ini, Kamis, 4 Februari 2021.

"Beberapa hari ini gak terlalu perhatikan Twitter. Tapi ada satu hal yan sering muncul dan bikin jadi pengin tahu sih: kenapa bu @susipudjiastuti seperti diserang di medsos oleh berbagai pihak akhir-akhir ini ya?" tulis Febri di akun Twitternya, Rabu 3 Februari lalu.

Twit Febri itu langsung direspons oleh Susi. Ia bilang, alasan dirinya diserang karena dia sering mengajak para pengikutnya untuk meng-unfollow orang yang sering menyebarkan hate speech (ujaran kebencian), bahkan, karena hal itu. ia sering diidentifikasi sebagai "Kadrunwati". Kadrun adalah singkatan dari kadal gurun.

"Karena ajak unfollow hate speech, karena polarisasi maka stigma identifikasi pun diterapkan, dianggap tidak suka golongan hate speech maka saya diidentifikasi sebagai Kadrunwati. Buktinya foto-foto dengan putri-putri cendana dibilang saya ikut trio kadal gurun. yang dengan Bu Mega mungkin disebut duet banteng," balas Susi di Twitter.

Sebelumnya, Susi memang membagikan sebuah meme di Twitter. Di sana terpajang foto Susi bersama Megawati disertai dengan tulisan "Susi Banteng", kemudian foto Susi bersama Anies Baswedan, di sebelahnya ada Titiek Soeharto disertai dengan tulisan "Susi Kadrun", lalu foto Susi bersama Jokowi disertai dengan "Susi Cebong".


Selain itu, Susi juga membagikan tangkapan layar WhatsApp berisi foto ia bersama dengan dua anak Soeharto, Titiek dan Tutut. Dalam tangkapan layar itu tertulis "Ada Trio Macan ada juga Trio Kadrun. Terkait foto itu, Susi pun berkomentar "Betapa hebatnya kebencian menguasai Anda. Anda sebarkan kebencian. Keindahan pun Anda bohongkan dan jadikan fitnah," tulis Susi Pudjiastuti

Kemudian ia juga membagikan tangkapan layar dari sebuah grup WhatsApp berisi fotonya bersama Anies Baswedan. Di sana tertulis, "ASU, Capres Cawapres 2024. Anies-Susi disingkat ASU". Atas foto itu, Susi pun berkomentar, "Group WA dengan nama terhormat pun Anda pakai untuk sebarkan fitnah".

Di akun Twitternya, Susi juga membagikan sebuah link berita soal sosok Dewi Tanjung yang sering menyerang dirinya sembari menuliskan "ada yang kenal?".

Lewat akun Twitternya, Dewi Tanjung beberapa kali melontarkan kritik kepada Susi. "Nyai pikir Bu Susi enggak seperti para menteri yang telah dipecat. Ternyata sama aja ya. Begitu enggak dapat jabatan langsung membelot ke tetangga sebelah dan mulai menyerang kebijakan pemerintah. Ternyata jabatan telah membutakan mata hati mereka yg harusnya membela rakyat dan negara," twit Dewi di akun @DTanjung15.

Mantan Caleg DPR RI dari PDIP yang tak lolos ke Senayan ini pun menuliskan lagi. "Kadrun yang dulu menghina Bu Susi sekarang berlomba-lomba membela Bu Susi. Memang nyai dan Bu susi tidak satu level. Walau Caleg gagal tapi nyai Kuliah lho dan umur nyai lebih muda kale dari Bu Susi."

Susi Pudjiastuti adalah mantan Menteri Kelautan dan Perikanan era Kabinet Kerja pimpinan Presiden Joko Widodo sejak 2014. Sebelumnya, Susi adalah pengusaha pengekspor ikan dari Pangandaran. Ia juga pemilik Susi Air yang mengoperasikan 50 pesawat berbagai armada tipe pesawat seperti Cesna Grand Caravan, Pilatus PC-06 Porter, dan Piaggio P180 Avanti.

Nama Susi dikenal publik karena aksi penenggelaman kapal-kapal nelayan asing. Puluhan kapal nelayan asing ditenggelamkan di masa kepemimpinannya sebagai menteri. Harapannya menghilangkan pencurian ikan oleh kapal asing, dan meningkatkan pendapatan Indonesia dari sektor perikanan.


Baca juga artikel terkait SUSI PUDJIASTUTI atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Politik)

Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight