Survei BI: Indeks Keyakinan Konsumen Meningkat Pada April 2022

Reporter: Dwi Aditya Putra, tirto.id - 11 Mei 2022 16:02 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Indeks keyakinan konsumen pada April 2022 meningkat didorong oleh membaiknya persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini.
tirto.id - Hasil survei Bank Indonesia mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi meningkat pada April 2022. Hal tersebut tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tercatat sebesar 113,1, meningkat dari 111,0 pada bulan sebelumnya.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono mengatakan, indeks keyakinan konsumen pada April 2022 meningkat didorong oleh membaiknya persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini.

"Peningkatan IKK terpantau pada mayoritas kategori pengeluaran, kelompok usia, serta kategori pendidikan responden," kata Erwin di Jakarta, Rabu (11/5/2022).

Erwin menambahkan peningkatan IKK tersebut, juga berkaitan dengan persepsi terhadap penghasilan saat ini, ketersediaan lapangan kerja, dan pembelian barang tahan lama (durable goods) yang meningkat.

"Secara spasial, kenaikan IKK terjadi di sebagian besar kota cakupan survei, terbesar di kota Bandar Lampung, diikuti kota Samarinda dan Denpasar," jelasnya.

Sementara itu, ia memperkirakan ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan tetap berada di level optimis (indeks >100) meskipun tidak setinggi bulan sebelumnya, ditopang terutama oleh ekspektasi penghasilan.

Di sisi lain, peningkatan IKK ini juga turut mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga pada kuartal I-2022 atau Q1 mencapai 4,34 persen. Posisi ini meningkat tajam dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang terkontraksi minus 2,21 persen.

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga ini juga meningkat dibandingkan kuartal per kuartal. Di mana pada Q4 2021 konsumsi rumah tangga hanya tumbuh di 3,55 persen.

"Konsumsi rumah tangga tumbuhnya di triwulan pertama ini cukup tinggi di 4,34 persen," kata Kepala BPS Margo Yuwono, dalam rilis BPS di Kantornya, Jakarta, Senin (9/5/2022).

Margo mengatakan, penyebab peningkatan konsumsi rumah tangga pada tiga bulan pertama ini didorong karena faktor mobilitas semakin baik. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya konsumsi masyarakat.

Di sisi lain, masyarakat juga sudah mulai melakukan konsumsi di sektor tersier seperti hotel, restoran, dan transportasi. "Ini yang mendorong pertumbuhan di konsumsi rumah tangga," imbuhnya.

Margo menambahkan, untuk konsumsi pemerintah pada Q1 2022 ini justru sebaliknya mengalami kontraksi sebesar minus 7,74 persen. Kontraksi ini terjadi karena belanja barang dan sosial menurun seiring dengan kondisi pandemi yang membaik.

"Untuk Q1 ini pemerintah kurangi belanja barang dan sosial untuk penanganan COVID-19," jelasnya.


Baca juga artikel terkait DAYA BELI MASYARAKAT atau tulisan menarik lainnya Dwi Aditya Putra
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Abdul Aziz

DarkLight