Supersemar dan Ketenangan Basuki Rachmat sebagai "Kurir" Soeharto

Ilustrasi Basuki Rahmat. tirto.id/Sabit
Oleh: Petrik Matanasi - 11 Maret 2020
Dibaca Normal 2 menit
Bersama Amirmachmud dan M. Jusuf, Basuki Rachmat menjadi "kurir" Supersemar yang paling tenang.
11 Maret 1966. Letnan Jenderal Soeharto sedang tak enak badan ketika tiga jenderal mendatangi rumahnya di Jalan Haji Agus Salim, Jakarta. Mereka adalah Brigadir Jenderal M. Jusuf (Menteri Perindustrian Ringan), Mayor Jenderal Amirmachmud (Panglima Kodam Jakarta Raya), dan Basuki Rachmat (Menteri Veteran).

Saat itu, Soeharto hanya mengenakan piama dengan leher dibebat kain angkin milik istrinya, Siti Hartinah.

”Basuki Rachmat yang mengetahui Mas Harto sakit langsung berinisiatif masuk ke kamar tidur Mas Harto bersama dua Jenderal,” tulis Probosutedjo dalam autobiografinya, Saya dan Mas Harto (2013).

Mereka melapor kepada Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad), menggantikan Ahmad Yani.

“Bung Karno meninggalkan sidang [kabinet] dengan tergesa”, kata salah seorang dari mereka.

“Gara-gara laporan Sabur (komandan Resimen Tjakrabirawa) pada Bung Karno [yang mengatakan bahwa] ada pasukan tidak dikenal mengepung Istana,” imbuhnya.


Sukarno menyerahkan kepemimpinan sidang kepada Leimena. Namun kemudian menteri itu segera menutup sidang karena situasi tidak kondusif. Sukarno bersama Subandrio dan Chaerul Saleh lalu terbang ke Istana Bogor.

Kepada tiga orang yang mendatanginya, yang juga akan menyusul Sukarno ke Bogor, seperti terdapat dalam Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (1989: 170), Soeharto berpesan, “Sampaikan salam dan hormat saya kepada Bung Karno. Laporkan, saya dalam keadaan sakit. Kalau saya diberi kepercayaan, keadaan sekarang ini akan saya atasi."

Menurut Soeharto, maksud tiga orang jenderal menyusul ke Bogor adalah agar Sukarno lebih tenteram sekaligus menunjukkan bahwa Angkatan Darat tidak mengucilkannya.

Ali Ebram, salah satu perwira intel Resimen Tjakrabirawa, mengatakan kepada Detak (22&27/ 02/1999) seperti terdapagt dalam Misteri Supersemar (2006:17), bahwa ketiga orang utusan Soeharto datang setelah pukul 12.00. Mereka mengendarai dua mobil secara beriringan. Sesampainya di Istana Bogor, mereka segera masuk menemui Sukarno.

”Pak, berikan perintah pada Soeharto biar aman,” kata Amirmachmud, seperti diingat Ali Ebram.


Ia menambahkan, pembicaraan tersebut cukup lama. Amirmachmud yang paling banyak bicara dan minta dibuatkan surat kuasa untuk Soeharto.

”Sudah, Bapak bikin saja!” kata Amirmachmud sambil berdiri.

”Hee, yang sopan, dong, jenderal!” timpal Ali Ebram yang tidak terima Sukarno diperlakukan seperti itu.

Namun, Sukarno justru menarik Ali Ebram ke sebuah ruangan, menempelengnya dan menyuruhnya diam.

Waktu itu, Ali Ebram ingin sekali merogoh pistolnya karena muak dengan tingkah Amirmachmud. Namun, hal tersebut tak ia lakukan karena menghormati Sukarno. Dan pada akhirnya Sukarno pun memberikan surat yang diminta para utusan Soeharto tersebut. Basuki Rachmat waktu itu yang memegang dokumennya.

”Selanjutnya kita bertiga berangkat ke Jakarta dengan mobil. Di Jembatan Situ Duit, Bogor, saya meminjam naskahnya dari Pak Basuki Rachmat. Saya langsung membaca dengan menggunakan baterai karena saat itu hari sudah gelap,” kata Amirmachmud dalam autobiografinya H. Amirmachmud: Prajurit Pejuang (1987:268).

Mereka bertiga menuju markas Kostrad. Menurut Amirmachmud, naskah tersebut diserahkan langsung oleh Basuki Rachmat kepada Soeharto.


Karier Militer dan Menteri

Bagi Ali Ebram, Amirmachmud adalah "kurir" Supersemar yang paling menyebalkan. M Jusuf terlihat agak memanas-manasi, dan Basuki Rachmat yang paling tenang. Secara usia, ia memang paling senior.

Sebagai orang yang menghabiskan hampir seumur hidupnya di dunia militer, Basuki Rachmat sempat ditunjuk menjadi Menteri Veteran yang menghimpun dan mengurus para mantan kombatan revolusi.

Basuki Rachmat sebetulnya sempat bercita-cita menjadi guru dengan belajar di Hollandsche Indische Kweekschool Muhammadiyah, Yogyakarta. Namun, kedatangan Jepang ke Indonesia membuatnya terseret menjadi tentara dengan masuk Pembela Tanah Air (PETA).



Dalam Siapa Dia? Perwira Tinggi TNI Angkatan Darat (1988:254), Harsya Bachtiar mencatat bahwa Basuki Rachmat pernah menjadi komandan peleton dan komandan kompi di Pacitan. Di zaman Revolusi, ia pernah menjadi komandan batalion dalam Brigade Ronggolawe di Jawa Timur.

Setelah PETA dibubarkan pada 1945, seperti dicatat Dasman Djamaluddin dalam Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat dan Supersemar (2008: 10), Basuki Rachmat menjadi Inspektur Polisi di Madiun. Pada tahun 1950-an, ia menjadi pejabat komandan di beberapa resimen di Jawa Timur. Bahkan dari 1962 sampai 1965, ia menjadi Panglima Kodam Brawijaya, Jawa Timur.

Ketika KSAD dijabat oleh A.H. Nasution, perwira kelahiran Tuban, 4 November 1921 itu bertugas sebagai asisten logistik KSAD dan sempat menjadi atase militer di Australia.

Beberapa hari setelah Supersemar keluar, tepatnya dari 28 Maret 1966 sampai 25 Juli 1966, Basuki Rachmat diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri dalam Kabinet Dwikora. Begitu pula setelah Soeharto mulai memegang kekuasaan sebagai Ketua Presidium Ampera, ia tetap di posnya.

Basuki Rachmat wafat pada 8 Januari 1969 di Jakarta. Posisinya sebagai Menteri Dalam Negeri kemudian digantikan oleh Amirmachmud. Namanya dijadikan nama jalan di Jakarta Timur dan Depok. Basuki Rachmat menjadi pahlawan nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 10/TK/ 1969.

Baca juga artikel terkait SUPERSEMAR atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight