Sup Basi Max Allegri Untuk Juventus

Kontributor: Yoga Cholandha, tirto.id - 9 Sep 2022 12:00 WIB
Dibaca Normal 6 menit
Max Allegri sudah tidak layak lagi menangani Juventus dan pertandingan melawan Fiorentina adalah bukti terbarunya.
tirto.id - Max Allegri sudah tidak layak lagi menangani Juventus dan dua pertandingan terakhir, melawan Fiorentina di Serie A dan Paris Saint Germain di Liga Champions, adalah bukti terbarunya.

Angin segar sebetulnya sudah bertiup untuk Juventus sebelum lawatan ke Firenze, Sabtu (3/9/2022). Setelah tampil mengenaskan kala jumpa Sampdoria di Serie A giornata ke-2, Juventus bermain lumayan bagus ketika menjamu Roma pada pekan berikutnya. Dalam laga itu, Juventus memang ditahan imbang, tetapi sedikit banyak pola permainan yang apik mulai tampak.

Setelah itu, pada pertengahan pekan lalu, Juventus berhasil menang atas tim papan bawah Spezia. Dusan Vlahovic kembali mencetak gol tendangan bebas seperti yang dilakukannya pada laga melawan Roma dan striker anyar Arkadiusz Milik sukses membuka rekening gol untuk Juventus.

Sampai situ semua terlihat bahwa Juventus bisa saja mulai tampil meyakinkan musim ini. Lini tengah mereka sudah mulai terbentuk. Siapa-siapa yang kudu dimainkan untuk meraih hasil optimal sudah terlihat. Adrien Rabiot dan Manuel Locatelli dimainkan sebagai poros ganda dan Fabio Miretti didapuk sebagai pemain nomor 10. Lini tengah ini membuat permainan Juventus lebih hidup dan, secara otomatis, penampilan tim secara keseluruhan pun membaik.

Namun, dalam pertandingan melawan Fiorentina, Juventus lagi-lagi tampil menyedihkan seperti kala bertemu Sampdoria. Mereka memang lebih dulu unggul melalui aksi Milik pada menit ke-9 tetapi setelah itu memutuskan untuk bertahan di kedalaman. Hasilnya, pertandingan pun praktis berjalan satu arah. Fiorentina pun lalu sukses mencetak gol balasan lewat serangan balik Christian Kouame dan bisa saja menang andai sepakan penalti Luka Jovic gagal diantisipasi Mattia Perin.

Pada pertandingan melawan PSG, Juventus juga tidak menunjukkan perbaikan. Sejak menit awal mereka tak menunjukkan tanda-tanda ingin meraih kemenangan. Juventus memilih menunggu dan harus kebobolan dua gol terlebih dahulu sebelum Weston McKennie mencetak satu gol balasan. Si Nyonya Tua pun pulang dari Paris dengan kekalahan 1-2.

Apa yang terjadi pada Juventus dalam dua laga terakhir itu bukanlah sebuah kasus spesial. Ini adalah penyakit yang sudah menjangkiti Si Nyonya Tua sejak 2017 dan belum bisa ditemukan obatnya.

Tanda-Tanda Awal

Semua bermula dari final Liga Champions 2017 di Millennium Stadium, Cardiff. Juventus melangkah ke lapangan sebagai unggulan meski lawan yang dihadapi adalah rajanya Liga Champions, Real Madrid. Bukan tanpa alasan Juventus jadi unggulan waktu itu. Penampilan mereka sepanjang musim memang mengesankan. Terlebih, Barcelona yang notabene merupakan lawan setara Real Madrid berhasil dihantam tiga gol tanpa balas.

Kepercayaan diri Juventus melambung. Final itu adalah momentum untuk menghapuskan kutukan Liga Champions mereka. Final itu adalah ajang pembuktian bagi Allegri yang pada 2015 sebetulnya sudah bisa membawa Juventus ke final tetapi akhirnya mesti mengakui keunggulan Barcelona. Final 2017 itu adalah puncak dari kebangkitan Juventus pasca-Calciopoli.

Namun, hasil akhirnya benar-benar di luar dugaan. Juventus kolaps dihajar umpan-umpan ciamik Real Madrid. Kebintangan Cristiano Ronaldo juga tak bisa dipadamkan oleh lini pertahanan Juventus yang digalang duo kawakan Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini. Juventus kalah telak 1-4 dan belum bisa bangkit lagi sejak itu.

Allegri berubah. Dia selalu tampak ketakutan. Fokus utamanya bukan lagi mencari kemenangan melainkan menghindari kekalahan. Dalam olahraga lain, kebencian akan kekalahan bisa lebih mematikan dibanding kecintaan akan kemenangan. Akan tetapi, di sepak bola tidak begitu. Di sepak bola, khususnya sepak bola modern, kecintaan akan kemenangan akan selalu lebih unggul.

Allegri berubah dan Juventus yang kena getah. Sejak musim 2017/18 itu semua orang sudah bisa melihat betapa negatifnya pendekatan Juventus. Banyak yang berkata bahwa itu semua terjadi karena lini tengah Bianconeri kurang berkualitas. Jika dibandingkan tim-tim kaya Eropa lain, argumen itu dapat diterima. Akan tetapi, di Serie A pun, Juventus tidak pernah bisa mendominasi lawan-lawannya.

Sebenarnya, Juventus bukan tidak bisa. Juventus tidak mendominasi lawan-lawannya karena Allegri tidak mau melakukan itu. Juventus biasanya bakal mencetak gol terlebih dahulu lalu bertahan di kedalaman pada sisa laga. Alasannya, ya, itu tadi: Karena Allegri begitu takut dengan kekalahan sampai-sampai tim asuhannya tak diperbolehkan mencari kemenangan.

Meski demikian, karena kualitas tim-tim Serie A lain yang terlalu jauh di bawah, Juventus masih bisa merengkuh Scudetto demi Scudetto. Pada musim 2017/18 dan 2018/19 Allegri masih bisa mempersembahkan gelar juara Serie A untuk Juventus. Namun, pada waktu itu, manajemen Juventus sudah menyadari bahwa Allegri bukan lagi Allegri yang mereka rekrut lima tahun sebelumnya.

Infografik Juventus
Infografik Juventus. tirto.id/Fuad


Transformasi Setengah Hati

Selepas musim 2018/19 Juventus berusaha melakukan transformasi. Mereka merekrut pelatih yang pendekatannya benar-benar berlawanan dengan Allegri. Maka, ditunjuklah Maurizio Sarri yang baru saja membawa Chelsea juara Liga Europa sebagai pelatih anyar. Sarri sendiri, ketika masih mengasuh Napoli, pernah memberi tekanan luar biasa kepada Juventus lewat sepak bola atraktifnya.

Sarri berhasil mempersembahkan gelar juara Serie A untuk Juventus yang sekaligus merupakan trofi liga pertama sepanjang kariernya. Sayangnya, mantan bankir itu justru belum bisa melakukan apa yang semestinya dia lakukan. Yakni, mengubah pendekatan Juventus. Sarri sebetulnya sudah berusaha tetapi pemain-pemain Juventus waktu itu belum bisa melepaskan pengaruh Allegri dari diri mereka.

Alhasil, Sarri pun dipecat. Walau begitu, manajemen belum menyerah dengan upaya merevolusi sepak bola Juventus. Ditunjuklah legenda klub, Andrea Pirlo, sebagai pelatih. Pirlo sendiri awalnya bergabung ke Juventus sebagai pelatih Juventus B yang berlaga di Serie C.

Menunjuk Pirlo jelas keputusan berisiko, terutama bagi klub seperti Juventus. Jika hasil akhir jadi acuan, penunjukan Pirlo itu pun bisa dibilang berbuah kegagalan karena, untuk pertama kalinya dalam satu dasawarsa, Juventus gagal menjadi juara Italia.

Akan tetapi, di bawah asuhan Pirlo, fondasi yang sebelumnya diletakkan Sarri makin terlihat wujudnya. Aliran bola dari satu pemain ke pemain lain tampak lebih lancar. Pergerakan pemain terlihat lebih cair. Juventus betul-betul mulai mengambil inisiatif untuk mengendalikan pertandingan. Sayangnya, itu semua tak cukup untuk mengantarkan gelar. Bahkan, Juventus sempat terancam gagal lolos ke Liga Champions.

Bagi manajemen Juventus, kegagalan lolos ke Liga Champions adalah bencana besar, khususnya karena pandemi COVID-19 membuat pendapatan klub anjlok drastis. Perlu dicatat bahwa di tengah pandemi COVID-19 Juventus pernah harus menunggak gaji pemain selama empat bulan. Itu artinya, kondisi keuangan mereka memang tidak baik-baik saja.

Satu pertanda lain bahwa kondisi keuangan Juventus tidak sehat adalah kengototan presiden klub Andrea Agnelli untuk menyelenggarakan Liga Super Eropa bersama klub-klub elite Inggris, Spanyol, dan Prancis. Agnelli merasa pendapatan dari Serie A tidak cukup untuk membuat Juventus bisa bersaing dengan tim-tim kaya Eropa lainnya. Sebagai gambaran, uang yang diterima juara Serie A sama dengan uang yang diterima peringkat terbawah Premier League.

Maka, Juventus amat bergantung pada performa di Liga Champions untuk terus bisa bersaing karena semakin jauh mereka melaju semakin banyak pula uang hadiah yang diterima. Namun, jika tidak punya uang yang cukup, bagaimana mungkin mereka bisa bersaing di Eropa? Dengan kata lain, Juventus terjebak dalam lingkaran setan dan mereka butuh solusi cepat untuk mengamankan pemasukan.

Sup yang Sudah Basi

Solusi itu, dalam pikiran bos-bos Juventus, bentuknya bisa bermacam-macam. Perubahan di sektor manajemen dilakukan lewat penunjukan Maurizio Arrivabene sebagai CEO dan Federico Cherubini sebagai Direktur Olahraga. Dua peran itu sebelumnya diemban oleh Giuseppe Marotta yang pindah ke Inter Milan dan Fabio Paratici yang hengkang ke Tottenham Hotspur.

Perubahan pun terjadi di sektor teknis. Pirlo dipecat. Dia dianggap masih terlalu hijau dan bisa membahayakan pipa uang Juventus. Manajemen lalu bergerak cepat untuk mencari pengganti dan sosok yang ditunjuk itu adalah Allegri. Ya, Allegri yang dua tahun sebelumnya sudah tidak diperpanjang kontraknya karena dianggap terlalu negatif. Allegri yang dua tahun sebelumnya sudah gagal membangkitkan Juventus pasca-Cardiff.

Manajemen Juventus beranggapan bahwa Allegri sosok yang tepat untuk mengamankan posisi tim di klasemen karena pendekatannya yang pragmatis. Tak masalah tak bermain cantik asalkan konsisten mendapat poin dan bisa finis di zona Liga Champions. Tak masalah tak bermain cantik asalkan uang bisa terus didapatkan.

Nyatanya, musim lalu Allegri gagal membawa Juventus juara. Jangankan juara, untuk finis di zona Liga Champions pun tim ini lagi-lagi kesulitan. Penampilan Juventus benar-benar tidak inspiratif dan sesungguhnya tidak layak dipertontonkan kepada pemirsa yang sudah mengeluarkan uang. Kepengecutan Allegri betul-betul berbuah negatif kepada tim. Juventus dibuatnya jadi tak bertaji dan tak bernyali.

Kualitas pemain jadi tameng Allegri dan dia tidak sepenuhnya salah. Memang Juventus punya kekurangan di sana-sini. Akan tetapi, di atas kertas, apa yang dipunyai Allegri sudah lebih dari cukup. Mau bukti? Tengok kiprah Dejan Kulusevski di Tottenham. Di bawah Allegri dia tak berkutik tetapi di bawah Antonio Conte dia sukses menunjukkan kelasnya.

Kendati begitu, manajemen Juventus tetap menuruti keinginan Allegri. Sejumlah bintang didaratkan. Dusan Vlahovic, Paul Pogba, Angel Di Maria, Gleison Bremer, Filip Kostic, Leandro Paredes, semua didatangkan untuk mengakomodasi kebutuhan Allegri. Namun, sampai sekarang juga hasilnya sama sekali belum terlihat.

Vlahovic acap tampak frustrasi karena nyaris tak pernah mendapat suplai bola. Di laga kontra Sampdoria dia bahkan cuma satu kali menyentuh bola di area permainan lawan. Sementara itu, Pogba belum bisa bermain karena cedera. Di Maria pun, meski sudah bermain dan mencetak gol, kembali mengalami cedera. Kostic sama sekali tak berguna dan Paredes terjebak dalam taktik yang bakal membuat siapa pun naik darah meski dirinya tampil cukup oke di laga melawan PSG.

Praktis, hanya Bremer yang sudah benar-benar menunjukkan kualitasnya. Namun, ini terjadi karena Bremer tak punya pilihan. Juventus memilih untuk bertahan total setelah mencetak gol dan, sebagai bek tengah, tentu Bremer harus menghalau banyak sekali serangan lawan. Rata-rata sapuan yang dibuat Bremer per pertandingan (4,2 per WhoScored) adalah yang paling tinggi kesepuluh di Serie A.

Kepengecutan Allegri tidak cuma terlihat pada cara Juventus bermain tetapi juga dari ucapan-ucapannya. Setelah tahu timnya berada satu grup dengan Paris Saint-Germain di Liga Champions, Allegri berkata bahwa "mengalahkan PSG tidaklah realistis". Allegri juga berkata bahwa dia "senang dengan hasil yang didapat Juventus karena bertandang ke Fiorentina adalah hal sulit."

Mentalitas seperti itu tidak seharusnya dipunyai pelatih tim seperti Juventus. Ya, kualitas Juventus mungkin berada di bawah PSG tetapi haram hukumnya bagi seorang pelatih Juventus untuk menyerah sebelum bertanding. Ya, Fiorentina memang memainkan sepak bola cantik di bawah asuhan Vincenzo Italiano tetapi pelatih Juventus tidak boleh berkata bahwa dia puas dengan hasil imbang.

Lima pertandingan Serie A sudah dilakoni musim ini dan Juventus belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan karena mereka dilatih oleh seseorang yang sudah tidak lagi layak berada di sana. Ada alasan mengapa hampir tak ada klub yang menyentuh Allegri selama dua tahun dia menganggur dan alasan itu adalah karena Allegri tak pernah berkembang sebagai seorang pelatih.

Dalam sebuah wawancara dengan New York Times pada 2019, Allegri pernah berucap bahwa dia tidak percaya pada taktik. Dia memilih menyerahkan semuanya pada kualitas pemain yang dimilikinya. Pendekatan ini mungkin saja bekerja dengan baik di masa lalu tetapi kini semua tim sudah memainkan sepak bola yang terencana dengan baik. Hanya Juventus yang tertinggal di masa lalu.

Allegri sendiri dikontrak selama empat tahun dengan gaji 9 juta euro per tahun. Ini membuatnya jadi pelatih bergaji termahal kelima sedunia. Gaji yang tinggi ini membuat manajemen Juventus mesti berpikir dua kali jika ingin memecat Allegri di tengah jalan. Namun, di sisi lain, jika tidak dipecat, Allegri berpotensi membuat Juventus semakin terpuruk dengan kepengecutannya.

Manajemen Juventus awalnya berpikir Allegri bisa kembali memberikan stabilitas. Nyatanya, dia cuma menjadi minestra riscaldata alias sup yang kembali dihangatkan. Dan celakanya, sup itu sudah kadung basi.

Baca juga artikel terkait JUVENTUS atau tulisan menarik lainnya Yoga Cholandha
(tirto.id - Olahraga)

Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Nuran Wibisono

DarkLight