Menuju konten utama

Sumitro Pernah Bela Prabowo, Seperti Mien Uno Bela Sandiaga

Bagi Prabowo, Sumitro Djojohadikusumo adalah Papi yang peduli pada anaknya, terutama di saat terpuruk.

Sumitro Pernah Bela Prabowo, Seperti Mien Uno Bela Sandiaga
Sumitro Djojohadikusumo. FOTO/Istimewa

tirto.id - Membela diri adalah hak semua orang. Membela anak tentu saja hak bapak dan ibunya.

Rachmini Rachman alias Mien Uno, ibu cawapres Sandiaga Uno, menyampaikan sakit hati sekaligus pembelaan terhadap banyaknya tagar yang menyindir anaknya bersandiwara.

Di Media Center BPN Prabowo-Sandiaga pada Senin (11/2/2019), Mien menantang penuduh Sandiaga minta maaf. Dia bahkan menantang orang yang mengatakan anaknya bersandiwara berhadapan langsung dengan dirinya. Ia tidak terima karena merasa telah mendidik sang anak dengan baik.

"Saya ingin berhadapan dengan orang itu untuk mengatakan bahwa apa yang dilakukan adalah sesuatu yang memang benar terjadi. Jadi sekarang, kalau ada orang yang mengatakan itu Sandiwara Uno, dia harus minta maaf kepada ibunya yang melahirkan dan mendidik Mas Sandi dengan segenap tenaga untuk menjadi orang yang baik. Siapa yang mau berhadapan dengan saya sebagai ibunya?" tantang Mien seperti dikutip Detik.

Istri Razif Halik Uno itu melanjutkan, "[...] banyak yang mengatakan Mas Sandi itu kok sabar amat, ya? Dikata-katain sama orang dia cuma senyum. Nah, itu ada aturannya sebetulnya, yaitu landasannya adalah etika. Etika adalah aturan emas. Landasannya adalah moral."

Dua puluh tahun sebelum Mien membela Sandiaga, Sumitro Djojohadikusumo pernah melakukan hal serupa.

Kala itu anak Sumitro, Prabowo Subianto, yang biasa memanggilnya "Papi", tengah terpuruk setelah Soeharto lengser. Sebagai bapak yang tentu saja tahu lebih banyak soal Prabowo dari siapapun, Sumitro turun membela.

Bedanya, Sumitro melakukan pembelaan lewat buku biografi, bukan konferensi pers.

"Saya bangga Prabowo tabah"

Pada Maret 1998, ketika Prabowo masih berstatus suami daripada putri Soeharto, dia diangkat menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) dengan pangkat letnan jenderal. Usianya saat itu baru 46. Karier Prabowo memang melesat cepat.

Pada awal 1995 dia masih kolonel. Setahun kemudian dia sudah brigadir jenderal dengan jabatan cukup penting: Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Danjen Kopassus). Setelahnya, di masa menjabat Danjen Kopassus, dia naik pangkat lagi jadi mayor jenderal. Sampai akhirnya jadi letnan jenderal. Tak sampai lima tahun, dari brigadir jenderal dia sudah berhasil jadi letnan jenderal.

Prabowo dalam hal ini mirip Andika Perkasa, menantu Jenderal A.M. Hendropriyono. Sudah pasti orang macam Andika dan Prabowo jadi buah bibir di Indonesia.

“Kenaikan pangkat yang cepat dari anak saya itu sudah jelas mengundang ketidaksenangan bagi beberapa orang,” kata Sumitro dalam biografinya, Sumitro Djojohadikusumo: Jejak Perlawanan Begawan Pejuang (2000: 428), yang disusun Aristides Katoppo dan kawan-kawan.

Bagi laki-laki yang pernah tidak diterima ikut Brigade Internasional dalam Perang Saudara Spanyol ini, "kecemburuan adalah sifat umum manusia di mana pun."

Salah satu pencemburu itu, menurut Sumitro, adalah Panglima ABRI Jenderal Wiranto (hlm. 429).

Menjelang hari mundurnya Soeharto, Sumitro menyebut bahwa Wiranto pernah melaporkan kepada presiden soal pergerakan pasukan yang dilakukan Prabowo. Atas laporan itu Soeharto bilang, “copot saja Prabowo dari Kostrad!”

Kala itu Prabowo sempat curhat ke Sumitro lewat telepon. “Saya dikhianati,” kata Prabowo pada ayahnya (hlm. 430).

Sebagai bapak yang baik, Sumitro tentu ingin tahu oleh siapa. “Papi nggak percaya kalau saya bilang, saya dikhianati oleh mertua. Dia bilang kepada Wiranto, singkirkan saja Prabowo dari pasukan,” tambah Prabowo.

Prabowo akhirnya memang dicopot, tapi oleh Presiden B.J. Habibie, karena Soeharto sudah mundur pada 21 Mei 1998.

“Pada 22 Mei 1998 pukul 19.00 WIB, Prabowo dicopot dari jabatan Pangkostrad dan digantikan oleh Mayjen Johny Lumintang,” kata Kivlan Zen, senior Prabowo di Akabri sekaligus orang dekatnya, dalam Konflik dan Integrasi TNI-AD (2004: 91).

Seperti dicatat dalam biografi Sumitro, beberapa hari setelah pencopotan itu Prabowo dikirim ke Bandung mengisi jabatan Komandan Sekolah Staf Komando ABRI. Jabatan di bidang pendidikan militer itu tidak dianggap strategis, bahkan terkesan posisi buangan.

Bagi Sumitro, apa yang dialami Prabowo adalah ujian. “Saya bangga Prabowo tabah,” katanya.

Kepada anaknya, Sumitro bahkan berpesan, “Jangan mengharapkan teman-teman kamu sendiri akan membantu. Orang yang berhutang budi terhadap kamu pun bakal meninggalkanmu.”

"Cuma black propaganda"

Setelah diperiksa Dewan Kehormatan Perwira (DKP) terkait kasus penculikan aktivis 1998, karier militer Prabowo pun tamat. Biang keroknya, masih menurut Sumitro dalam biografinya, lagi-lagi Wiranto. Prabowo hanya diperiksa DKP dan tidak pernah ada mahkamah militer untuknya. Atas kasus anaknya yang tidak jelas itu Sumitro begitu prihatin.

“Saya rasa, keadilan terhadap perihal Prabowo Subianto terlihat kabur dan ngawur, karena seakan-akan segala tenaga menghujat terpusat pada Kopassus dan Prabowo Subianto,” kata Sumitro kepada Antara (26/11/1998) seperti dicatat juga dalam biografinya (hlm. 435).

Sumitro menambahkan, “Mengapa segala sesuatu berada di pundaknya? Padahal kita semua tahu banyak kesatuan lain dan perwira tinggi lain yang terlibat di situ.”

Bagi Sumitro, Prabowo adalah ksatria dan berani mengambil tanggung jawab atas kesalahan Orde Baru itu. Menurutnya, “kalau ada penyimpangan di dalam ABRI maka ada dua tingkat atasannya yang harus tahu.”

Nama Prabowo tercoreng karena kasus penculikan aktivis itu dan dia pun pindah ke luar negeri. Meski dalam kondisi berbeda, Sumitro pernah terpuruk seperti anaknya waktu zaman PRRI-Permesta pada 1950-an. Saat itu Sumitro hidup di luar negeri selama bertahun-tahun.

Selain masalah penculikan, Prabowo tentu dikaitkan dengan konsentrasi pasukan di sekitar rumah Habibie pada 22 Mei 1998. Ada pula yang menyebut Prabowo bernafsu menjadi Kepala Staf Angkatan Darat bahkan Panglima ABRI di masa genting itu.

“Itu cuma black propaganda yang dilancarkan oleh orang-orang yang membenci Prabowo,” kata sang ayah.

Sumitro merasa banyak orang ingin menjatuhkan Prabowo.

Infografik Sumitro Djojohadikusumo

Infografik Sumitro Djojohadikusumo

"Habibie atau Wiranto pasti berdusta"

Bagi Sumitro, orang penting yang melakukan propaganda hitam kepada Prabowo adalah B.J. Habibie. Di hadapan Forum Editor Asia Jerman II di Istana Merdeka pada 15 Februari 1999, Habibie bercerita soal konsentrasi pasukan di rumahnya waktu dia baru menjabat presiden. Habibie menduga pasukan tersebut dikerahkan oleh seorang jenderal. “Namanya tidak usah disembunyikan lagi, Jenderal Prabowo,” kata bekas Menristek itu, seperti dikutip dalam biografi Sumitro (hlm. 437).

Kabar konsentrasi pasukan diperoleh Habibie dari Wiranto. Tapi Wiranto membantah hal itu. Sumitro menyebut, "Jelas sudah, dalam soal ini satu dari dua orang itu: Habibie atau Wiranto pasti berdusta."

Lima tahun setelah Sumitro meninggal dunia, Habibie merilis buku berjudul Detik-detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi pada 2006. Dalam buku itu Habibie bilang, “Saya menerima laporan mengenai pergerakan pasukan Kostrad. Oleh karena itu Panglima ABRI saya beri perintah untuk segera mengganti Pangkostrad, dan kepada Pangkostrad baru diperintahkan mengembalikan pasukan Kostrad ke basis masing-masing pada hari ini juga sebelum matahari terbenam.”

Pasukan di sekitar rumah Habibie itu, seperti dicatat dalam biografi Sumitro (hlm. 437-438), bukanlah pasukan Kostrad melainkan Kopassus. Informasi ini didapat dari Panglima Kodam Jaya Mayor Jenderal Sjafrie Sjamsoeddin. Kala itu komandan Kopassus adalah Mayor Jenderal Muchdi Purwoprandjono. Nasib Muchdi juga ikut apes seperti Prabowo: hilang jabatan.

Prabowo boleh hilang jabatan, tapi dia beruntung terlahir sebagai anak Sumitro Djojohadikusumo. Sebagai Papi, Sumitro tidak hanya membesarkan Prabowo, tapi juga peduli dengan nasib apes yang dialami anaknya.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan lainnya dari Petrik Matanasi

tirto.id - Politik
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan