Sulit Berkonsentrasi dan Fokus? Cobalah Meditasi

Oleh: Tony Firman - 13 September 2018
Dibaca Normal 2 menit
Bermeditasi secara rutin dapat membantu seseorang berpikiran jernih dan efektif ketika mengambil sebuah keputusan.
tirto.id - Donnie Trisfian, 25 tahun, akhir-akhir ini merasa susah berkonsentrasi. Ketika hendak mengerjakan sesuatu atau kegiatan lainnya, pikirannya mudah terpancing untuk melakukan hal-hal lain. Sulit sekali rasanya fokus pada satu hal atau pekerjaan.

Kondisi seperti itu cukup mengganggunya. Donnie mulai berselancar di internet, mencari cara meningkatkan konsentrasi dan fokus pikiran. Temuannya berujung pada meditasi - sebuah kegiatan yang identik dengan duduk bersila, memejamkan mata dan menarik diri dari keramaian hiruk pikuk.

Selain itu ia juga ikut kelas meditasi Vipassana di Bogor setelah mendapat cerita bagus dari kawannya yang terlebih dahulu ikut. Setelah 10 hari mengikuti program kelas meditasi saat libur lebaran 2018 kemarin, Donnie mengaku merasakan beberapa dampak positif termasuk masalah konsentrasinya.

"Dengan meditasi jadi lebih sabar menahan diri dan fokus menyelesaikan suatu pekerjaan sebelum beralih ke kegiatan lainnya," ujar Donnie kepada Tirto.

Yang dipikirkan ketika bermeditasi sebenarnya sederhana saja, hanya tentang mengamati diri. Mengamati nafas adalah latihan dasar. Kemudian naik ke tingkat mengamati perasaan. Pikiran dituntut fokus terhadap dua pengamatan itu dan salah satu hasilnya melahirkan sebuah teknik konsentrasi yang luar biasa. Target yang diajarkan dalam kelas meditasi adalah ketenangan dan keseimbangan.


Tiap peserta meditasi termasuk Donnie dianjurkan melanjutkan kegiatan bermeditasi setelah kelas berakhir. Jika di kelas mereka menghabiskan 10 jam per hari untuk bermeditasi, para peserta di kehidupan sehari-hari cukup melakukan meditasi saat pagi dan malam masing-masing satu jam lamanya.

Donnie pernah melakukan hal itu secara rutin dalam sebulan. Selain merasakan ketenangan dan sarana berkontemplasi, ia juga merasa kondisi fisiknya jauh lebih segar dan prima. Ini berdampak pada peningkatan produktifitas sehari-hari.

"Targetnya adalah ketenangan keseimbangan. Dari situ timbul yang namanya kesadaran. Untuk mencapai titik kesadaran, yang dilakukan adalah berlatih rutin. Pada akhirnya, meditasi dapat dilakukan dalam bentuk apapun. Saat berjalan sekalipun bisa meditasi ketika kita sudah mencapai kesadaran." tandas Donnie.

Pikiran kacau juga pernah melanda Emma Seppala ketika peristiwa serangan 11 September 2002. Pikiran perempuan yang tinggal di Manhattan Amerika Serikat ini kacau usai serangan itu berlangsung. Dia sadar pikirannya terganggu, dan memutuskan bermeditasi untuk kembali tenang.



"Ketika saya bermeditasi, saya tak menyadari bahwa itu juga membuat saya lebih sehat, lebih bahagia dan lebih sukses." ujar Seppala dikutip dari Psychology Today. Pengalamannya bermeditasi itu bahkan dilanjutkan di bidang akademik dengan meneliti mengenai dampak meditasi.

Ada banyak riset mengenai hubungan meditasi dengan kemampuan mengambil keputusan yang baik. Riset Laboratorium Neuro Imaging UCLA, AS, misalkan, pada 2012 lalu memindai 100 otak peserta riset. Masing-masing terdiri dari 50 orang dengan rincian 28 pria dan 22 wanita. Mereka bermeditasi rutin selama 20 tahun terakhir dengan berbagai jenis teknik, seperti Samatha, Vipassana, Zen dan banyak lagi. Dan 50 orang lainnya adalah mereka yang tidak melakukan meditasi.

Hasilnya, periset menemukan ada perubahan terukur, konsisten dan positif dari orang-orang yang rutin bermeditasi bertahun-tahun, seperti keterampilan berpikir yang lebih baik dan berdampak pada pengambilan keputusan yang lebih baik pula.

Dalam banyak penelitian, kegiatan meditasi memang punya dampak besar bagi kesehatan mental maupun fisik. Seperti meningkatkan sistem imun tubuh, menurunkan kecemasan, menurunkan stres, meningkatkan kemampuan instrospeksi diri, meningkatkan relasi sosial positif, dan banyak lagi.

Infografik Meditasi


Dari Agama ke Universal


Meditasi telah ada di dunia selama ribuan tahun. Kegiatannya yang identik dengan berdiam diri dan memusatkan pikiran ke suatu titik telah dipraktikkan oleh banyak orang lintas budaya dan kepercayaan.


Muasalnya dapat dilacak lewat jejak arkeologis di lembah Indus berupa gambar seni dinding berumur 5.000 hingga 3.500 SM. Gambar tersebut memperlihatkan orang-orang sedang duduk bersila, tangan bertumpu pada lutut dan mata menutup sedikit. Atau ada pula deskripsi tentang teknik meditasi yang ditemukan dalam kitab keagamaan di India dari 3.000 tahun yang lalu.

Dalam perjalanannya, praktik meditasi berkembang dan bertautan dengan budaya dan relijiusitas. Beberapa pengajaran agama mengandung teknik meditasi dengan tingkatan porsi yang berbeda seperti Yudaisme, Hinduisme, Jainisme, Sikhisme dan tentu saja agama Buddha.

Dikutip dari Time, awal mula penyebaran meditasi ke seluruh dunia dapat dilacak sejak era Jalur Sutra sekitar lima atau enam abad SM. Jalur yang menghubungkan Timur dan Barat ini tak cuma berperan utama sebagai jalur perdagangan internasional kala itu, tetapi menjadi penghubung banyak kepentingan lain seperti jalur para pengembara, biarawan, prajurit, orang-orang nomaden hingga pertukaran budaya antar bangsa-bangsa kala itu. Tak heran bila teknik meditasi ikut tersebar selama hidupnya Jalur Sutra.

Setelah lama berkembang mempengaruhi banyak kebudayaan dan agama di Timur, pada abad ke-20 meditasi mulai merembet ke Barat khususnya AS karena alasan manfaat kesehatan.

Mulanya, meditasi dalam perspektif kesehatan tak langsung diterima di AS. Topik meditasi dengan stereotipe bagian dari kegiatan keagamaan dari Timur cenderung dihindari dalam kaitannya dengan dampak kesehatan. Herbert Benson, profesor di Harvard Medical School bahkan pernah menunggu hingga larut malam untuk memoderasi sebuah penelitian tentang meditasi pada 1967 silam.

Perlahan namun pasti, meditasi mulai mendapat perhatian dan tempat karena alasan kesehatan. Di tahun 1990-an, meditasi sudah menjadi kegiatan populer di AS. Banyak pusat pelatihan meditasi berdiri. Data dari National Center for Complementary and Integrative Health menyebut, 8 persen orang dewasa dan 1,6 persen anak-anak di AS tahun 2012 melakukan kegiatan meditasi.


Dengan segala pengaruh baik yang sudah dikisahkan banyak orang maupun penelitian, tak ada salahnya anda mencoba bermeditasi jika pikiran Anda sedang kacau selama beberapa waktu terakhir dan punya segudang problem lainnya.

Baca juga artikel terkait MEDITASI atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Kesehatan)


Penulis: Tony Firman
Editor: Nuran Wibisono