Sulianti Saroso, Pelopor KB yang Jadi Nama RS Penyakit Infeksi

Ilustrasi Mozaik Sulianti Saroso. tirto.id/Nauval
Oleh: Petrik Matanasi - 29 April 2020
Dibaca Normal 2 menit
Kisah Sulianto Saroso yang namanya kini sering muncul terkait pandemi Covid-19.
Sulianti lahir di Karangasem, Bali, pada 10 Mei 1917. Ia anak seorang dokter lulusan STOVIA yang bernama Moehamad Soelaiman. Ayahnya salah seorang tokoh pergerakan nasional. Dalam buku 100 Tahun Kebangkitan Nasional (2008) yang disusun oleh Bambang Eryudhawan dan kawan-kawan, disebutkan bahwa Moehamad Soelaiman (1886-1941) berasal dari Grabag, Purworejo.

Pada tahun 1911, setelah lulus dari STOVIA, ia bersama dokter Soetomo ikut memberantas penyakit pes di Malang. Sebelum bertugas di Karangasem, ia pernah berdinas di Keresidenan Madiun. Di sinilah ia bertemu dengan Umi Salamah dan menikahinya pada tahun 1914.

Setelah menabung, bersama istri dan anaknya, Soelaiman kuliah di Leiden, Belanda, dan menjadi doktor spelialisasi kolera pada tahun 1929. Sementara anaknya, Sulianti, lulus SD (Europe Lager School—ELS) di Belanda dan melanjutkan ke sekolah menengah di Gymnasium Bandung, sebelum akhirnya kuliah kedokteran.

Waktu Sulianti kuliah kedokteran, STOVIA sudah tidak ada. Pendidikan dokter sudah diganti oleh sekolah tinggi kedokteran yang bernama Geneeskundige Hogeschool (GHS). Jika di zaman ayahnya lulusan ELS yang setara SD bisa langsung masuk STOVIA untuk jadi dokter, maka di zaman Sulianti harus lulusan sekolah menengah atas setara Gymnasium, Hogare Burger School (HBS), atau Algemene Middelsbare School (AMS).

Dalam Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1983-1984 (1984:761), Sulianti disebutkan kuliah sejak 1935 dan baru lulus pada tahun 1942. Setelah itu, ia kemudian bekerja di Centrale Burger Ziekenhuis (CBZ) yang kini bernama Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Sulianti fokus pada kesehatan ibu dan anak. Ketika baru bertugas sebagai dokter, militer Jepang keburu berkuasa di Indonesia.

Menurut Rosihan Anwar dalam In Memoriam: Mengenang yang Wafat (2002:119), di masa mudanya Sulianti merupakan sosok yang supel dan gemar bermain tenis. Ia tergolong elite Jawa di Betawi. Sebagai dokter perempuan--yang kala itu belum banyak--Sulianti yang biasa dipanggil Syuul atau Julie ini cukup menonjol.

Semasa pergerakan nasional, Sulianti termasuk apolitis karena di masa-masa itu ia fokus pada kuliah. Namun, setelah Indonesia merdeka, Sulianti menjadi salah seorang terpelajar yang aktif berjuang membela Republik.

Di masa revolusi, Sulianti bekerja di rumah sakit Bathesda, Yogyakarta, di bagian penyakit dalam dan penyakit anak. Saat itu, ia aktif di Dewan Pimpinan Kongres Wanita Indonesia (Kowani) dan Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia sebagai wakil Pemuda Putri Indonesia.

Sulianti bahkan ikut serta mengirimkan obat dan makanan ke front Tambun, Gresik, Demak, dan daerah sekitar Yogyakarta. Ketika Yogyakarta diduduki militer Belanda, seperti dicatat dalam Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1983-1984 (1984:762), Sulianti memimpin Wanita Pembantu Perjuangan (WAPP) untuk membuka dapur umur, menjahit, dan perawatan.

Menurut Rosihan Anwar, Sulianti muda pernah ditawan dua bulan oleh militer Belanda karena dianggap melakukan “tindakan subversif”, yakni mendukung penjuangan Indonesia.



Pelopor KB yang Banyak Ditentang

Setelah Belanda angkat kaki dari Indonesia, Sulianti berkarir di Kementerian Kesehatan. Dari tahun 1951 hingga 1961, ia berkali-kali pindah jabatan, yakni sebagai Kepala Bagian Kesejahteraan Ibu dan Anak; Kepala Bagian Hubungan Luar Negeri; Wakil Kepala Bagian Pendidikan; serta Kepala Bagian Kesehatan Masyarakat Desa dan Pendidikan Kesehatan Rakyat.

Sejak 1967 hingga 1975, Sulianti diangkat menjadi Direktur Jenderal Pencegahan, Pemberantasan dan Pembasmian Penyakit Menular (P4M). Tahun 1978 ia menjadi Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, lalu setelah itu pensiun.

Sebagai dokter yang fokus pada kesehatan ibu dan anak, Sulianti memelopori program keluarga berencana. Ia juga mendirikan klinik kesehatan keluarga.

“Kegiatan klinik ini sudah terarah pada pembatasan anak, tetapi waktu itu kampanye keluarga berencana tidak diperkenankan [oleh] Presiden Sukarno,” kata Sulianti seperti terdapat dalam Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1983-1984 (1984:761).”

Kepeloporan Sulianti dalam kampanye keluarga berencana memang banyak yang menentang. Hal itu terutama setelah ia menyatakan pandangannya dalam harian Kedaulatan Rakjat (16/08/1952), "Sebaiknya para ibu berani dan mau melakukan pembatasan kelahiran." Pernyataannya tersebut tak menuai pujian, melainkan kecaman. Organisasi wanita pun tak ketinggalan menentangnya.

Seperti dicatat Suara Karya (6/6/1989), yang terlampir dalam buku Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita Buku XI 1989 (2008: 840-43), Gabungan Organisasi Wanita (GOW) berpendapat pembatasan kelahiran merupakan pelanggaran terhadap HAM yang dapat memperluas pelacuran dan merusak moral masyarakat.

Sulianti bahkan mendapat teguran dari Menteri Kesehatan dr Johannes Leimena dan Presiden Sukarno. Mau tak mau, wacana membatasi kelahiran pun pupus untuk sementara waktu. Padahal, sampai tahun 1950-an, kematian ibu dan bayi masih tinggi, juga kebiasaan punya anak banyak masih lumrah. Presiden Sukarno pun punya anak lebih dari tiga.


Sulianti sempat memperdalam soal kesehatan masyarakat ke Amerika Serikat hingga memperoleh gelar Master Kesehatan Masyarakat dari Universitas Tulune, New Orleans, dan Doktor Epidemiologi dengan disertasi berjudul: The Natural History of Entropathogenic Infection (1965). Pada 1969, ia menjadi Profesor di Universitas Airlangga. Sementara di Universitas Indonesia menjadi Profesor Luar Biasa di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM).

Nama belakang Saroso dilekatkan karena perkawinannya dengan Doktor (ekonomi) bernama Saroso Wirodiharjo (1909-1990). Suaminya menulis beberapa buku soal ekonomi Indonesia, dan di masa revolusi ikut serta mencari uang lewat Banking Trading Company (BTC) untuk Republik Indonesia.

Sulianti Saroso wafat pada 29 April 1991. Namanya kemudian diabadikan menjadi nama Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof Dr Sulianti Saroso di Sunter, Jakarta

Baca juga artikel terkait SULIANTI SAROSO atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight