Suku Pengembara yang Termarjinalkan

Penulis: R. A. Benjamin - 2 Jul 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Ini adalah cerita tentang kaum pengembara yang kerap mengalami diskriminasi pada level personal hingga institusional.
tirto.id - "D'ya like dags?"

Sosok yang ditanya sama sekali tak paham. Usut punya usut, pertanyaan yang diajukan Mickey O'Neill (diperankan Brad Pitt) kepada Tommy (Stephen Graham) itu adalah, "do you like dogs?" Itu merupakan adegan dalam film Snatch (2000) arahan Guy Ritchie. O'Neill, yang juga disebut pikey dengan konotasi merendahkan, ialah anggota kaum yang hidup terpisah dari masyarakat, Irish Traveller.

Irish Traveller merupakan kelompok pengguna bahasa Inggris yang kadang bercampur dengan logat khas atau dialek lain. Karena kekhasan itulah bukan hanya pertanyaan "d'ya like dags?" yang tak dimengerti karakter-karakter lain dalam film Snatch. Para penutur asli bahasa Inggris sendiri sepertinya perlu menyalakan subtitle untuk memahami sebagian besar perkataan O'Neill.

Ritchie memang menjadikan kaum Traveller (dengan "T" besar) sebagai lelucon belaka, tak ubahnya poin-poin komedi dalam filmnya. Mereka, selain logat bicara, digambarkan memiliki standar moral dan norma yang berbeda. Namun, di lain sisi, representasi yang tidak bisa dibilang positif itu setidaknya menjadi satu dari sedikit gambaran yang memuat realitas kaum Traveller dalam film populer belakangan ini.

Para Irish Traveller (menyebut diri Pavee atau Minkus) telah menjalani hidup di dataran Irlandia dan Britania Raya sejak sekitar 1000 masehi. Dengan populasi melebihi 30.000 jiwa, pada 2017 lalu para Irish Traveller akhirnya dinyatakan sebagai etnis minoritas asli oleh pemerintah Irlandia.

Kelompok-kelompok lain yang tergolong Traveller di Eropa mencakup Scottish Travellers. Mereka tinggal di dataran tinggi Skotlandia dan berkomunikasi dengan bahasa sendiri yang nyaris punah, Beurla Reagaird. Grup lain adalah orang Flemish yang disebut Voyageurs, Travellers Belanda alias Woonwagenbewoners, dan Travellers Norwegia alias Skøyere.

Dengan kehidupan yang nyaris sepenuhnya berbeda dengan masyarakat umum, Traveller bukanlah sebutan untuk para pelancong sarat senang-senang yang melihat dunia dan keeksotisan yang ditawarkan, melainkan kaum nomaden yang hidup dengan penuh syak wasangka. Ini adalah kaum yang kerap mengalami diskriminasi pada level personal hingga institusional.

Traveller ada di antara deretan kaum paling termarjinalkan dalam masyarakat Irlandia dan Britania Raya. Sebagai komunitas, mereka mendapat ponten buruk pada banyak indikator seperti pengangguran, kemiskinan, pengucilan sosial, status kesehatan, kematian bayi, harapan hidup, buta huruf, dan tentunya pendidikan formal.

Kejahatan tentu tak mengenal ras maupun etnis. Namun, sayangnya, akibat kelakuan segelintir orang yang bertindak kriminal, stigma dan diskriminasi dengan cepat melekat pada komunitas ini.

Dan jika yang pertama dilihat adalah soal diskriminasi, maka kelompok atau suku terbesarnya, Romani atau Roma atau yang juga sering disebut Gipsi, perlu dikedepankan.


Orang-Orang Romani

Banyak stereotipe penuh muatan eksotisme soal bangsa Romani. Dari mulai tinggal di gerobak kayu penuh ukiran dan warna yang ditarik kuda-kuda cantik, kartu tarot, memainkan tamborin sepanjang waktu, atau kemampuan meramal entah dengan daun teh maupun bola kristal.

Selain warna-warni mencolok dan hidup yang tampak riang itu ada stereotipe lain. Mereka kerap dicap tidak ramah, tidak jujur, pencuri, tidak mengenal konsep kepemilikan pribadi, malas, dan tidak berkontribusi apa pun untuk masyarakat. Pakaian yang mereka kenakan dianggap provokatif, moral mereka tak terikat aturan biasa sehingga kerap dianggap berbahaya bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Ringkasnya, orang-orang yang merosot akhlaknya.

Romani atau Roma berasal dari kata "rom" yang berarti 'laki-laki/suami'. Adapun istilah gipsi (gypsy) berasal dari kesalahpahaman bahwa kaum Romani datang dari Mesir (Egypt)--istilah ini belakangan dinilai berkonotasi buruk (cercaan rasial).

Orang Romani adalah keturunan dari etnis yang berasal dari utara India, tepatnya Punjab dan Rajasthan, pada 10-12 M. Mereka menyebar ke Eropa lalu mencapai Britania Raya pada 1600-an. Meskipun secara tradisional nomaden, suku yang juga disebut Romanichal ini sekarang sebagian besar menetap di berbagai penjuru Inggris. Di sana, diperkirakan ada sekitar 200 ribu orang Romani.

Diaspora Romanichal juga bermigrasi dari Britania ke negara-negara lain yang berbahasa Inggris. Bahkan Amerika Serikat kini diperkirakan menjadi kawasan dengan keturunan Romani terbanyak di dunia.

Sebagian besar dari mereka, seperti kelompok Traveller lain, tinggal di karavan atau trailer yang diparkir di situs-situs publik dan pribadi yang permanen. Tempat-tempat itu dilengkapi izin perencanaan, pengolahan limbah, dan bisa dipakai dengan sistem sewa, pajak dewan, dan tagihan utilitas.

Sisanya memarkir karavan di tempat yang tidak sah seperti pinggir jalan. Karena itu mereka mengalami ancaman penggusuran terus-menerus. Belum lagi penduduk sekitar yang terganggu. Golongan ini lazimnya akan bepergian selama musim panas, mencari lahan lain untuk ditempati.

Di beberapa negara Eropa Timur dan bahkan Eropa Barat lain, orang Romani tinggal di kamp-kamp dan daerah kumuh yang terisolasi dari penduduk lain. Kurang lebih seperti reservasi pribumi Amerika Serikat.

Orang-orang Gipsi lazimnya melakukan pekerjaan yang telah dilakukan kaum mereka sejak lama seperti bisnis mengembangbiakkan dan mendagangkan kuda, kerja-kerja ladang, hingga pekerjaan kasar seperti memperbaiki rumah. Semua demi membiayai hidup sehari-hari maupun perjalanan.


Bangsa yang Kerap Disalahpahami

Pada banyak aspek, ketidaksesuaian "gaya hidup" Gipsi dan Traveller akhirnya dapat mencapai jalan buntu. Dalam laporan tahun 2014, 5% atau 1 dari 20 narapidana di Inggris dan Wales memiliki latar belakang Gipsi dan Traveller. Stigma dan diskriminasi salah satunya berasal dari statistik seperti ini.

Selain itu, seperti yang dinyatakan dalam situs resmi London, prasangka juga muncul karena "mereka sebagian besar masih absen dari sejarah Inggris dan kurikulum sekolah," meski "telah tinggal, bekerja, dan bepergian ke seluruh Inggris selama lebih dari 500 tahun."

Sentimen anti-Romani (juga disebut antiziganism) sebetulnya bukan baru hadir sejak para kaum nomaden dianggap sebagai warga tak berguna di tanah Inggris, melainkan telah mengakar kuat dalam sejarah.

Prasangka--yang diikuti persekusi--tertua disebut hadir di era Kekaisaran Byzantium pada awal abad ke-13 ketika para peramal Romani dianggap terinspirasi oleh setan. Pada abad ke-16, sebuah undang-undang di Inggris memungkinkan negara untuk memenjarakan atau bahkan mengeksekusi siapa pun yang dianggap Gipsi.

Di Rumania, mereka menghadapi 500 tahun perbudakan. Di Wallachia (wilayah Rumania modern), hingga pertengahan abad ke-19, semua orang Romani dilahirkan sebagai budak alias properti yang dapat dibeli dan dijual sesuka hati, bahkan dibarter dengan beberapa kilogram daging belaka.

Pada 1726, Kaisar Charles VI dari Jerman menyatakan bahwa laki-laki Gipsi harus digantung, sementara perempuan dan anak-anak dipotong telinganya agar mudah dikenali jika berani kembali. Di Prancis, Jerman, Denmark, dan Swedia, Gipsi dikejar oleh anjing dan diburu layaknya rusa untuk "olahraga".

Dalam Perang Dunia II, sejarawan memperkirakan jumlah orang Romani yang dibunuh oleh Nazi dan anggota Blok Sentral lain dalam aksi yang disebut Porajmos atau Genosida Romani mencapai sekitar 500 ribu jiwa--sebagian lagi menyebut jumlahnya bahkan mencapai satu juta.

Jauh-jauh hari, tepatnya pada akhir abad ke-18, Heinrich Moritz Gottlieb Grellmann dalam bukunya Dissertation on the Gypsies telah memperkirakan bahwa orang-orang Romani akan dipersekusi atas dasar rasisme. Ia menulis kemungkinan bahwa "kulit mereka [orang-orang Romani] yang berwarna cokelat tua atau zaitun dengan gigi putih muncul di antara bibir merah" sangat mungkin menjadi pemandangan menjijikkan bagi orang Eropa--yang menganggap kulit gelap sebagai ciri bangsa inferior.

Hingga hari ini pun, laporan kejahatan, kebencian, dan serangan terhadap komunitas Romani masih berdatangan dari seluruh Eropa. Seorang perempuan Romani, misalnya, menerima ancaman pembunuhan lantaran berbicara tentang hak-hak Gipsi dan Traveller di televisi. Di Italia, Gipsi masih memiliki konotasi sangat buruk. Pemain-pemain sepakbola dari Balkan yang dibenci sebagian suporter (biasanya akibat pindah ke klub rival) kerap dicerca dengan sebutan Zingaro (Gipsi).


Infografik Gipsi Roma dan Traveller
Infografik Gipsi Roma dan Traveller. tirto.id/Quita


Masa Depan Travellers

Kaum Traveller, yang oleh peneliti disebut semestinya dilihat sebagai sebuah suku atau grup etnis alih-alih komunitas "gaya hidup", berbenah untuk mengatasi segala kesulitan yang mereka hadapi. Melalui berbagai organisasi swadaya dan kegigihan aktivis setempat, mereka mulai menampilkan diri sebagai kelompok dengan kebudayaan unik yang memiliki sejarah panjang diskriminasi dan terpinggirkan.

Saat tak lagi bepergian, sebagian dari kaum Traveller juga tampaknya mulai menulis sejarah baru dan mendefinisikan ulang komunitas mereka.

Perlahan keberhasilan mulai tampak. Di Irlandia, misalnya, sebuah momen bersejarah tercipta pada 2020 lalu, ketika Eileen Flynn menjadi orang pertama dari komunitas Traveller yang duduk di majelis tinggi legislatif, Seanad.

Upaya untuk mengikis segala stigma bagi para Traveller juga datang dari pihak eksternal. Di Inggris, misalnya, sejak 2008 lalu ada peringatan GRT (Gypsy, Roma dan Traveller) History Month setiap Juni.

Tentu bukan proses mudah untuk membuat GRT diterima di antara para pemukim. Kebijakan dan regulasi terbaru dalam rangka mengintegrasikan GRT ke dalam masyarakat tanpa membuat mereka tercerabut dari akar, tradisi, dan kebudayaan masing-masing mesti diambil dan dipertahankan kesinambungannya. Anak-anak mudanya juga harus dijauhkan dari kriminal dan hidup sebagai manusia yang layak, demi generasi baru yang tak terkucilkan, yang setara sebagai manusia.

Baca juga artikel terkait GIPSI atau tulisan menarik lainnya R. A. Benjamin
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: R. A. Benjamin
Editor: Rio Apinino

DarkLight