Serial Sukarno

Sukarno dan Rumah Kos Tjokro yang Legendaris

Oleh: Petrik Matanasi - 7 Juni 2019
Dibaca Normal 3 menit
Tak ada rumah kos selegendaris rumah kos Tjokroaminoto di Jalan Peneleh Gang VII. Sukarno, Musso, Kartosuwiryo dan Herman Kartowisastro pernah menetap di rumah tersebut.
tirto.id - Tuanya Kampung Paneleh tidak bermula dari zaman kolonial Belanda. Menurut pengajar sejarah kuno Universitas Airlangga, Adrian Perkasa, kawasan ini sudah ada dari zaman Singosari. Kampung ini dialiri kali yang dulu bisa dilewati perahu. Di Peneleh, atau Paneleh, kali itu diapit dua jalan yang kerap dilalui orang dan kendaraan beroda.

Banyak penelitian menyebutkan, di kawasan Kampung Peneleh inilah pemuda-pemuda pergerakan nasional ditempa. Tokoh-tokoh seperti Sukarno yang mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) dan proklamator Indonesia dan Semaun (Semaoen) yang mendirikan Partai Komunis Indonesia (PKI) pernah tinggal di Peneleh.

Selain mereka, Sukarmaji Marijan Kartosuwiryo yang mendirikan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), dan Munawar Musso yang terlibat pemberontakan PKI tahun 1948 di Madiun juga pernah tinggal di kampung itu.

Dari Kampung Peneleh mereka bergerak, meski pada akhirnya berbeda jalan.

Berawal dari Satu Atap


Sudah sejak lama Kampung Peneleh memiliki toko buku. Toko buku itu punya keluarga Abdul Latief Zein dan terletak tidak jauh dari mulut Jalan Peneleh Gang VII. Tak hanya toko buku, di kampung Paneleh ini mereka bahkan juga memiliki percetakan.

Beberapa meter dari muka toko buku ini, masih di Jalan Peneleh Gang VII, sebuah rumah yang lebih tua dari toko buku keluarga Abdul Letif Zein berdiri tegak. Rumah itu pernah dimiliki orang Tionghoa, sebelum akhirnya dimiliki seorang pedagang Jawa beragama Islam, Haji Omar Said Tjokroaminoto.


Peneleh tidaklah jauh dari kawasan niaga Tunjungan, sebuah kawasan yang cukup tenang di tengah Surabaya bagi keluarga pedagang. Sejak 1907-an, Tjokro tinggal di situ, ketika ia masih bekerja di perusahaan dagang, sebelum akhirnya terjun ke dunia politik melalui Sarekat Islam.

Meski jauh dari kata megah, rumah itu setidaknya cukup bagi Tjokro bersama istri, Raden Ayu Suharsikin dan anak-anak mereka — Siti Oetari, Oetarjo, Anwar, Harsono, Islamiyah, dan Sujud Ahmad.

Sejak 1912, Tjokro dan Suharsikin membuka sebagian rumah mereka untuk disewakan sebagai kos-kosan anak sekolah. Mereka umumnya merupakan para siswa sekolah menengah elit macam Hogare Burger School (HBS), Meer Uitgebrid Lager Onderwijz (MULO), juga Middelbare Technish School (MTS).

Salah satu pelajar HBS terkenal yang pernah mondok di kos-kosan itu adalah Sukarno. Ia menyewa kamar kos di rumah itu sejak 1915. Hasil dari kos-kosan itu tentu membantu penghidupan keluarga Tjokro yang anaknya masih kecil.

"Rumah itu dibagi menjadi sepuluh kamar-kamar kecil, termasuk yang di loteng. Keluarga Pak Tjokro tinggal di depan. Kami anak-anak kos di belakang," daku Sukarno dalam buku autobiografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat yang disusun Cindy Adam (hlm. 41). Uang pondokan yang harus dibayarkan, seingat Sukarno, besarnya 11 rupiah. Itu sudah termasuk uang makan.

Sukarno menggambarkan betapa mengenaskannya kamar kos Tjokro di zaman itu. Si bocah priyayi ini mengatakan rumah Tjokro terbilang "jelek" dan "semua kamar sama buruknya." Kamar Sukarno sendiri tidak berpintu dan selalu gelap karena tanpa jendela.

Tidak ada kasur yang tersedia di kamar anak-anak kos itu. Mereka tidur beralaskan tikar pandan. Agar terbebas dari nyamuk, pada zaman Sukarno sekolah, kelambu adalah solusi. Namun, Sukarno tidak mampu membeli kelambu. Sukarno sesungguhnya tidak miskin-miskin amat meski tak bisa beli kelambu. Di tahun 1917, presiden pertama Indonesia itu bisa punya sepeda Fongers.


Di saat yang bersamaan, ada pula seorang pemuda asal Kediri yang menyewa kamar kos di rumah Tjokro bersama dengan Sukarno. Pemuda itu bernama Munawar Musso. Sejak kecil ia dikenal pandai mengaji. Musso lebih tua dari Sukarno dan sekolahnya tidak se-elit Sukarno.

Selain mereka, kata Adrian Pribadi, Semaun, si anak buruh yang jadi pembela kaum buruh kereta api, juga pernah tinggal dan menyewa kamar kos di rumah itu sejak 1913. Mereka semua secara tidak langsung belajar dari Tjokro, yang usianya sudah kepala tiga.

Sebagai pedagang sekaligus orang pergerakan, Tjokro punya banyak kolega yang mengunjunginya. Sukarno dan anak kos lain tidak jarang bertemu kawan-kawan Tjokro. Makanan Jawa Timur-an yang lezat kerap mengiringi obrolan politik di ruang makan rumah tersebut.

Film Tjokroaminoto dan Soekarno menggambarkan sekilas bagaimana Sukarno, Musso, juga Semaun belajar dari guru mereka, Tjokro. Musso dan Semaun digambarkan sebagai sosok keras berkepala batu. Sukarno, sementara itu, tampak serius belajar berpidato.

Infografik Kos Kosan Bu Tjokro
Infografik Kos Kosan Bu Tjokro. tirto.id/Sabit


Terus Berdenyut


Sayang, usaha kos-kosan ini terganggu ketika Suharsikin tutup usia pada 1921. Setelahnya, Tjokro yang kemudian menikah lagi pindah ke Plampitan. Meski pamor sebagai Raja Jawa Tanpa Mahkota tak selalu bersinar, banyak yang masih ingin berguru pada Tjokro. Usaha kos-kosan Tjokro akhirnya kembali berjalan.

"Sejak masih bertempat tinggal di Jalan Peneleh sampai pindah di Jalan Plampitan, Surabaya Ayah selalu menerima anak-anak, baik pemuda maupun pemudi, mondok di rumah," kata Harsono Tjokroaminoto dalam Menelusuri Jejak Ayahku (1983:34).

"Jumlah anak-anak yang mondok itu sekitar 15-20 orang, sehingga dapatlah dibayangkan betapa sesaknya rumah kami."

Setelah tinggal di Plampitan, Tjokroaminoto pindah ke Yogyakarta, bersama istri barunya. Meski Tjokroaminoto sudah pergi dari Kampung Peneleh, menurut Adrian Perkasa, denyut pergerakan nasional di kampung ini terus berjalan. Setelah Sukarno dan anak-anak yang pernah kos di rumah Tjokro tersebar ke tempat lain, setidaknya ada Ruslan Abdulgani yang masih tinggal di Peneleh, tepatnya di Plampitan.

Setidaknya pula, keluarga Zein yang Muhammadiyah dan juga terkait dengan pergerakan nasional, masih ada di Peneleh, entah lewat toko buku atau percetakannya. Hingga hari ini, Toko Buku Peneleh milik keluarga Zein masih menjual buku-buku dan majalah terkait Muhammadiyah. Pendiri Muhammadiyah, Kyai Haji Ahmad Dahlan pun pernah ke sana.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara