Sukarno adalah Pesona Sejarah yang Tak Akan Habis Dibicarakan

Penari kontemporer Elma Merdiana pada peringatan hari lahir Sukarno di Bandung, Jawa Barat, Kamis (6/6/2019). ANTARA FOTO/Novrian Arbi/hp.
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 3 Juli 2019
Dibaca Normal 3 menit
Meski sempat dihambat desukarnoisasi dan dikaburkan oleh mitos, sosok dan pemikiran Sukarno masih terus didiskusikan hingga kini.
tirto.id - Meski sudah berumur 83, ingatan sejarawan Taufik Abdullah masih cukup tajam. Ia tetap ingat suatu kejadian pada medio 1987 ketika ia mendapat telepon dari seorang dosen senior Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Sejarawan senior LIPI itu diminta jadi pemeriksa sekaligus penguji skripsi mahasiswa Jurusan Sejarah.

Atas nama persahabatan, Taufik menyanggupi permintaan tersebut. Ia lantas dapat jatah memeriksa skripsi tiga mahasasiwa. Ia ingat, salah satu dari tiga mahasiswa itu datang membawa draf skripsi yang terlampau mentah.

“Saya merasa sebagai seorang yang buta huruf, karena tidak mengerti apa yang ditulisnya. Jadi saya minta supaya ia memperbaiki gaya bahasa supaya bisa dipahami oleh orang yang membaca skripsinya,” kata Taufik di muka forum Seminar Bung Karno Sebagai Pewaris Zamannya, Kamis (27/6/2019).

Kisah tersebut berakhir menggembirakan. Ketiga mahasiswa itu lulus semua.

Bertahun-tahun kemudian, ada seseorang menemui Taufik di kantornya di LIPI. Meski telah lama tak bersua dan lupa nama, Taufik mengenalinya sebagai salah satu mahasiswa sejarah yang pernah dimentorinya dulu. Dengan senyum mengembang, si "bekas mahasiswa" itu menyodorkan tiga buku garapannya.

Salah satunya adalah buku tentang Sukarno. Sejenak Taufik merasa bangga karena seorang yang dia bimbing kini jadi ilmuwan.

“Ia tanpa gembar-gembor telah tampil sebagai ilmuwan muda yang kreatif dan bahkan juga teramat produktif. Ia adalah Peter Kasenda,” kata Taufik.

Peter Kasenda, yang kini sudah marhum, memang dikenal sebagai sejarawan spesialis Sukarno. Sepanjang hidup ia sudah menulis enam buku yang khusus membahas tentang Sukarno. Buku-buku itu mencakup pemikiran, jalan politik, kisah asmara, hingga saat-saat terakhir hidupnya.

“Satu hal yang tidak bisa dibantah: Peter Kasenda adalah ilmuwan/sejarawan Indonesia yang terbanyak menghasilkan karya tentang proklamator kemerdekaan bangsa,” ucap Taufik.


Skripsi Peter yang diuji oleh Taufik diterbitkan dengan judul Sukarno Muda: Biografi Pemikiran 1926-1933 pada 2010. Buku ini terbilang istimewa karena ketika digarap pada 1987 Orde Baru sedang berjaya dan berusaha menangkal arus desukarnoisasi. Ia juga sebentuk usaha Peter melepaskan Sukarno dari mitologisasi dan sepenuhnya bersandar pada standar akademis.

Buku ini juga penting karena ditulis sendiri oleh sejarawan Indonesia. Hingga saat itu, biografi-biografi Sukarno ditulis oleh sarjana asing. Mereka adalah John D. Legge, Bernhard Dahm, dan C.L.M. Penders. Sementara autobiografi Sukarno ditulis Cindy Adams, wartawati AS. Dan lagi, ketika para penulis itu fokus pada masa ketika Sukarno telah matang sebagai pemimpin, Peter memilih membahas Sukarno muda yang sedang bertumbuh.

Buku garapan Peter adalah salah satu dari gelombang buku-buku baru tentang Sukarno yang terbit usai Orde Baru tumbang. Hingga kini telah ada puluhan buku tentang Sukarno dari penulis-penulis yang lebih muda.

Spektrum bahasannya pun meluas, tak melulu dari sisi politik. Sebutlah misalnya Kadjat Adra’i yang menulis Percintaan Bung Karno dengan Anak SMA (2010), Muhammad Ridwan Lubis yang menulis Sukarno dan Modernisme Islam (2011), atau Agus Sudibyo dengan karya Citra Bung Karno: Analisis Berita Pers Orde Baru (1999).

Lain itu masih ada laporan jurnalistik yang menjadikan Sukarno sebagai bahasan utama. Sebutlah majalah Tempo yang menerbitkan Sukarno dalam Serial Bapak Bangsa atau majalah Historia yang menerbitkan laporan tentang persahabatan Sukarno dengan pemimpin dunia macam Ho Chi Minh dan John F. Kennedy.


Pemikiran Sukarno Hari Ini

Semua itu merupakan tengara yang jelas: Sukarno adalah sumur yang tak pernah kering, bahkan hingga kini.

Lantas, apa relevansinya kita membicarakan Sukarno hari ini?

Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid mencoba menjawab pertanyaan itu dengan menunjuk satu contoh pemikiran Sukarno tentang Trisakti. Konsep yang didengungkan Sukarno pada 1960-an ini berisi tiga pokok: berdaulat secara politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dari segi budaya.

Kini, Joko Widodo menjadikan Trisakti sebagai salah satu prinsip dasar program pembangunan pemerintahannya. Namun, beda dari zaman Sukarno, Trisakti zaman ini punya tantangan berbeda.

“Kita tidak lagi bicara tentang pentingnya prinsip ini, karena itu sudah jelas, tapi bagaimana kita mengoperasionalkan prinsip itu jadi kebijakan pembangunan yang solid,” tutur Hilmar dalam pemaparannya di Seminar Bung Karno Sebagai Pewaris Zamannya.

Sukarno adalah pejuang-pemikir, itu jelas. Tapi dia bukanlah penemu, melainkan penggali konsep. Gagasan-gagasan besar yang ia kembangkan bisa berderet-deret. Mulai dari yang besar macam nasionalisme atau islamisme hingga yang sangat khas seperti Pancasila, marhaenisme, atau Trisakti.

Menurut Agnes Sri Poerbasari, pengajar mata kuliah Kewarganegaraan di UI, selain Trisakti satu buah pikir Bung Karno yang hingga kini sebenarnya masih relevan adalah nasionalisme marhaenistis.

Nasionalisme marhaenistis adalah hasil pandangan Sukarno tentang sejarah. Bagi Sukarno, selalu ada dua struktur yang saling berlawan sepanjang perjalanan sejarah. Kelompok atas dan bawah, penindas dan yang ditindas, tuan tanah dan kawula, majikan dan buruh, penjajah dan terjajah.

“Marxisme membayangkan kelas buruh akan berkuasa ketika sosialisme tercapai. Sementara itu, dalam bayangan Sukarno, ketika kemerdekaan Indonesia tercapai marhaen adalah kelompok yang ia bayangkan berkuasa,” tutur Agnes dalam seminar yang sama.

Sukarno mengimpikan terhapusnya struktur yang menindas itu melalui marhaenisme. Marhaenisme adalah susunan masyarakat adil dan makmur tanpa imperialisme dan kapitalisme. Untuk menghapus kedua sumber penindasan itulah ia berjuang.

Ini memunculkan ide gerakan nonkooperasi yang berasas kemandirian dan teori perjuangan machtsvorming—pembentukan kekuasaan untuk menyadarkan rakyat. Sukarno sadar ini bukanlah perjuangan segolongan orang saja, tapi semestinya jadi perjuangan semua orang Indonesia. Karena itulah ia amat menekankan pentingnya persatuan untuk mencapai cita-cita marhaenisme.

“Cita-cita inilah yang sampai sekarang saya kira masih relevan. Kunci sentral dari nasionalisme marhaenistis adalah persatuan. Sementara, hari-hari ini nasionalisme kita terganjal. Kita sering bicara persatuan tapi masyarakat kita terbelah,” imbuh Agnes.




Sukarno: Pesona Sejarah

Sosok dan kehidupan Sukarno adalah kisah yang penuh daya tarik. Ada drama, humor, hingga tragedi. Itulah, lagi-lagi, yang membikin Bung Karno tak habis dibicarakan orang sampai kini dan mungkin esok. Bung Karno ialah pesona sejarah.

Dalam forum Seminar Bung Karno Sebagai Pewaris Zamannya yang digelar di Galeri Cemara 6, Jakarta, pesona sejarah itu diangkat oleh Peter Carey, akademisi Inggris yang menghabiskan 40 tahun karier kesejarawanannya untuk meneliti Pangeran Diponegoro. Ia menyuguhkan kesamaan-kesamaan yang unik di antara Sukarno dan Diponegoro.

“Saya merasa mereka punya semacam hubungan yang menarik, walaupun terpisah sekira seratus tahun. Mereka berdua punya beberapa persamaan yang membuat Sukarno tertarik pada Diponegoro,” kata pria lulusan Oxford University itu.


Kesamaan itu di antaranya adalah fakta bahwa keduanya lahir saat fajar. Saat masih kecil dua-duanya diramal akan mengacaukan Belanda. Dua-duanya punya leluhur non-Jawa: Bung Karno dari Bali dan Diponegoro dari Bima.

Lain itu, keduanya juga jadi pemimpin bukan sekadar karena garis keturunan. Diponegoro memang lahir sebagai pangeran, putra sultan Yogyakarta Hamengkubuwana III. Tapi jiwa dan kapasitas kepemimpinannya diasah oleh eyang buyutnya di Tegalrejo. Sementara Bung Karno dikirim ke Dalem Pojok, Kediri, dari 1906 sampai 1908; lantas ke Tulungagung.

“Keduanya lahir di keraton dan di kota besar, tapi diasah di perdesaan,” tutur Peter.

Sukarno dan Diponegoro juga sama-sama punya kecerdasan alami sebagai komunikator massa. Sukarno mahir pidato dan pandai memanfaatkan kisah wayang melalui bahasa sehari-hari untuk menggaet perhatian rakyat. Sementara Diponegoro pandai merangkul petani dan orang-orang desa untuk ikut berjuang bersamanya selama Perang Jawa berlangsung.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight